Showing posts with label Akhwat Traveller. Show all posts
Showing posts with label Akhwat Traveller. Show all posts


Desember bulan hujan. Alhamdulillah, rahmat Allah itu masih merintik dan menderas di akhir tahun ini, yang –kekata seseorang- selain menyebabkan genangan, hujan juga membangkitkan kenangan. (#halah). Ngomong-ngomong soal kenangan, setiap berjalannya masa selalu menyimpan berjuta kenangan. Betul kan? Tahun ini, hamdalah banget banyak kenangan yang menjadi tilas setiap detik 2015.


Kali ini, saya ingin banget bercerita dan berbagi rasa tentang langkah kaki yang beranjak ke berbagai tempat yang menawan di negeri ini. Traveller banget ya? Ah, tidak juga. Saya suka traveling sih, tapi kayaknya masih belum bisa disebut traveller. Baiklah, kemana aja kaki ini menapak di tahun ini hingga menjadi kenangan? Here they are …

Januari: Aku Akhirnya Kembali

Pernah kangen kan? Apa yang lebih membahagiakan bagi seorang pelaku rindu jika bukan bertemu dengan yang dirinduinya? Saat rindu, nikmati saja kerinduan itu. Saat rindu, seolah-olah waktu ingin mengingatkan kita bahwa kita ini lemah, penuh ketidakmampuan. Tidak mampu untuk selalu bertemu. Maka lahirlah sebuah harap. Harapan yang melangit agar yang berada di atas langit mengijinkan kembali untuk sekedar mempersembahkan senyum terindah. Sekedar bercengkrama tentang banyak cerita yang sempat tertahan oleh masa, atau pun sekedar melontarkan sebuah sapa. Baiklah, Januari menjadi awal tahun yang luar biasa. Diawali dengan sebuah harapan yang akhirnya menjadi kenyataan, dan rindu yang akhirnya nyata untuk kembali bertemu.

Di pertengahan Januari, akhirnya misi itu terlaksana. Ada banyak misi. Misi untuk menyelesaikan serangkaian penelitian skripsi, agar masa kuliah S1 berakhir dengan khusnul khotimah. (Dan misi ini akhirnya mengantarkan pada sejarah yang mengharu biru: wisuda bulan Mei. #Yeeaaahhh #sambil lompat-lompat nabur bunga ke langit... #bilang apa? #hamdalah. huehehe).

Penelitian saya ini berhubungan dengan misi yang kedua, yaitu misi sosial atas nama Komunitas Sahabat Misool. (beneran deh, ini temen-temen ketje-ketje semua… ternyata, pohon terpele (galau) yang dipupuk dengan kerinduan dan disiram dengan air kangen, membuahkan rasa peduli yang selain melangit juga membumi). Akhirnya, saya kembali menginjakkan kaki lagi di tanah Misool, tepatnya kampung Fafanlap untuk riset kesehatan anak-anak Fafanlap. Penelitian dengan judul ‘Prevalensi Infeksi Nematoda Usus pada Anak-anak SDN Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat’ ini selain mengantarkan saya memakai toga wisuda, hasil risetnya juga digunakan untuk advokasi kesehatan oleh Sahabat Misool kepada Dinas Kesehatan Raja Ampat. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Kira-kira begitu. Dan akhirnya, beneran melampaui banyak pulau indah lho. Huehehe.

Sama seperti saat KKN tahun 2014 lalu, misi menuju Misool kali ini pun dihadapkan pada perjuangan yang gak sederhana. Tentu sempat pesimis, tapi karena hampir tiap hari menatap foto-foto kampung Fafanlap, foto wajah-wajah lugu dengan ciri khas hitam kulit dan keriting rambut, beserta kenangan KKN 2014 lainnya, itu semua cukup berhasil membangkitkan lagi kepercayaan diri sebagai hasil dari terpele yang overdosis. Yah begitulah, kadang rindu memang menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan kita dalam hal bertemu, namun kadang pula ia-lah yang mendatangkan kekuatan untuk berusaha sampai yakin bahwa bertemu kembali bukanlah hal yang fiktif dan mustahil. Dan itu nyata terjadi. Di bulan Januari, akhirnya aku kembali. Kembali ke Kampung Fafanlap. 

Assalamualaikum, Misool. Jika tak bisa membendung rindu, maka harus bertemu. ^_^
Saking harunya, saya tak bisa menahan bulir air mata yang berlinang di pipi. Allah Kareem, bener-bener satu keajaiban deh bisa ke sini lagi. Yang awalnya dikira bercanda, sampai ada yang mencoba menggagalkan (yah, saya sih sebenarnya cukup paham kenapa-nya, akhirnya #ah sudahlah. Semakin diihalangi malah justru semakin membara semangatnya. Hehe. Akhirnya, lagi-lagi, I have shown that I can reach, tentu karena Kehendak Allah), dan ada yang gak kalah gumun yang tahu bahwa pada akhirnya saya ambil data skripsi ke sana. 

Suasana hari Sabtu pagi saat kapal Fajar Indah berlabuh di dermaga Fafanlap (nah, kapal sudah berlabuh, kapan yang nulis ini melabuhkan hatinya? Aw aw aw). Hei, coba lihat kubah masjid itu! Salah satu ciri khas kampung-kampung Muslim di Misool ditandai dengan adanya masjid yang sangat terlihat gagah dan jelas dari kejauhan. Lihat! Pohon-pohonnya masih hijau nan asri. Lihat juga anak-anak berseragam pramuka itu! Merekalah bahan bakar terpele yang gak habis-habis ini. Beberapa kapal-kapal kecil (mereka menyebutkan katinting) merapat membawa penduduk kampung sekitar Fafanlap yang membawa dagangan, atau hendak ikut naik kapal Fajar Indah kembali ke Sorong. Inilah pasar yang hanya ada sekali setiap minggunya, pada waktu itu.

Setelah sampai di kampung ini, saatnya penelitian dimulai. I enjoyed this project very much. Mungkin rasa “menikmati” ini yang bikin penelitianku cepet kelar. Kuncinya, love what you do, yang tak sekedar do what you love, dan (kata Hanum) asikin aja. ^_^

Saat wawancara dengan salah satu orang tua murid untuk data riset. Sangat-sangat menyenangkan yah ternyata bisa bersua dengan mereka lagi, bercengkrama, saling membalas sapa dan senyum. Mudah-mudahan mace-mace dan warga semuanya sehat-sehat sadayana. Etapi itu si adek kasihan sedang sakit. Did you know? Di sana masih sulit mendapatkan akses kesehatan. Saat saya sedang wawancara itu, si adek belum minum obat. Bingung harus bantu apa. Akhirnya yah cuman bikin kompres aja. Dan alhamdulillah, hari demi hari si adek –yang saya lupa namanya- membaik kondisinya setelah bibi Ode dan tim dari Puskesmas datang menjenguk. Tarima kasih bibi Ode (perawat), paman Aziz Soltief (Kepala Puskemas, suami bibi Ode), paman Ali Soltief (perawat, adik paman Aziz), dan petugas puskesmas lainnya. Senang rasanya para petugas datang memberi pelayanan kesehatan. 
Dari pintu ke pintu, dari rumah menuju rumah yang jumlahnya puluhan, di bawah terik matahari, berkeliling malam hari yang hanya bersinarkan rembulan dan berbintang pun dijalani. Papua, tak hanya indah pemandangan alam saat waktu terang saja lho. Namun, dari senjanya hingga malam tiba, semuanya menawan. Cantik. Romantis. Manis. Saya jadi teringat pemandangan langit yang indah yang terjepret saat KKN masa itu. Seumur-umur, itulah langit terindah yang pernah saya lihat sampai sekarang. 

Ah, tentu, pemandangan aslinya lebih menawan. Lebih indah dari yang sekedar terjepret. Ini foto waktu KKN 2014, diambil dari Album Sahabat Misool pastinya.
Saat melewati jembatan goyang, memang benar-benar bergoyang papan-papan penyusun jembatannya. Disebut juga jembatan jodoh. Konon, muda-mudi yang kepergok mojok di jembatan ini langsung dijodohkan, mungkin biar gak jadi fitnah di hari-hari berikutnya. Unik. Bila masuk sore hari, enak banget kalau duduk-duduk di pinggiran jembatan sembari menikmati pesona senja. (kualitas gambarnya kurang bagus. Maklum hanya bermodal jepret dari hp)
Saat berkeliling kampung di siang sampai sore hari, pasti mendapati anak-anak kampung sedang bermain-main di halaman rumah warga. Riang, ceria, gembira, menghiasi wajah-wajah lugu mereka. Nampaknya, sangat menikmati masa kanak-kanak; bermain bersama teman sepuasnya, bangga jika menang bermain, tak apa-apa jika pun kalah karena tetap dapat senang.

Bermain gundu adalah favorit mereka (kualitas gambarnya kurang bagus L)
Dan, kerja di laboratorium pun harus diselesaikan sesuai Deadline. Membuat preparat, mengamati makhluk indah di bawah mikroskop, mencatat hasil pengamatan. Itu adalah aktivitas rutin setiap hari. Untunglah, saya berhasil membuat penasaran anak-anak sekolahan. Dari anak-anak SD, SMP, hingga SMA, mereka suka rela menemani dan membunuh kejenuhan saat bekerja di lab. 

Dari kiri ke kanan: Maya (temen jalan selama penelitian di Misool), Rifai (Kelas X SMA) sedang belajar mengamati preparat di bawah mikroskop, Fatma (Kelas XII SMA). Fatma ini paling dekat dengan saya, siap mengantar kemana saja, dari teman bercanda sampai teman yang sering mengantar durian untuk saya dan Maya. Hingga sekarang, menjadi adik marga. Oke insyaa Allah nanti ketemu tulisan saya dapat marga. Hehe, lanjut suda ko baca tulisan ini.
Suntik identik dengan sakit seperti digigit semut, katanya. Dan itulah yang harus dirasakan anak-anak SDN Fafanlap yang terdiri dari kelas 1 -6. Maaf ya adek-adek, demi data kaka, demi penelitian kaka. Toh, hasilnya untuk kalian juga. (#pasang muka paling baik. Hehe.) Banyak ekspresi anak-anak SD ini, mulai dari yang takut, kesakitan (emang sakit beneran ya, dek?), mengaduh, hingga ada juga yang malah ketawa. Kali ini, saya tidak bisa nyuntik mereka sendiri. Alhamdulillah, bala bantuan dari Puskesmas Dabatan siap bekerja sama. Yapz, penelitian saya ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Raja Ampat, yang secara teknis dibantu oleh Puskemas Misool Selatan yang berkantor di Dabatan. Paman Aziz Soltief dan timnya sangat mendukung sekali. Alhamdulillah… kerja sama yang luar biasa yah paman. Terima kasih… banyak terima kasih saya ucapkan ya, paman.

Memang rasanya seperti digelitik ya, adek? 

Foto bareng guru-guru SD N Fafanlap, murid-murid, dan Tim Puskesmas Dabatan. 
Foto bersama wali murid, yang dengan kesediaannya hadir dan mendukung penelitian. Terima kasih mace, bibi, pace. Hal pang istimewa dari setiap perjalanan adalah bertambah keluarga baru dan cinta. (eaaa) 
Tentang penelitian di awal tahun, itulah rangkuman kisahnya. Special thanks to Sahabat Misool, yang sudah bantu-bantu dari bikinin amunisi stiker dan design-in cover proposal (Hanip, makasih buanyak nip, suka dengan desianmu, karena mengandung 70% terpele (galau+rindu kampung) dan 30% ceria. Jadi 100% Mantab. Hehe); yang bersedia kasih saran-saran dan banyak link (#Hanip lagi,,, makasih Nip, Harir, bang Ali Seknun yang leluconnya sangat menghibur, nak Bram a.k.a Abroby Agus Cahya Pramana yang masukin ide ke kitabisa.com, mba Ayu Sriwahyuni yang ngenalin ke Om Yamin); Maya Pradipta yang nemenin ambil data, maaf ya jadi ngrepotin; Ihya, Rachmad, Kiki yang nganterin dan jemput di bandara dengan senang hati dan pastinya ceria; mba Son yang nemenin ketemu Pak Abu (sebenernya sama Hanip juga, makasih Nip, jasamu gak bisa dihitung deh). Paman Ipin a.k.a paman Arifin dengan gesture nyeremin tapi paling baik hatinya deh di seantero Misool. Paman Idris yang siap sedia bantu dan mendukung penelitian. Om Be Sorong yang senang membantu anak Jawa ini. Mama Jawa, Bibi Jawa, tete Imam yang memberi marga Soltief, yang semuanya baik hati banget. Fatma, Fa’i, Aco, Irja, Santo, dan siapa lagi ya, yang dengan senang hati ngajak jalan-jalan ke kebun dan muter-muter SPP, makan durian, ambil langsat hingga minum kesu (kelapa susu). Kisah indah bersama kalian deh. Abduh yang nyebelin tapi ternyata paling ngangenin. Tim Puskesmas Dabatan yang semangat bekerja sama dalam penelitian. Om Yamin dan keluarga yang baik hati sekali sampai saya (sebenarnya) terharu. Bu Nastiti, ibu dosen yang saya kagumi kebaikan dan inner beauty-nya, yang saya bela-belain minta dibimbing Ibu. Pak Hery yang juga membimbing metode penelitian. Pak Wakil Bupati, dr. Tomy Young, Pak Ori Deka, Pak Desa dan keluarga yang juga baik sekali, Pak Syafi’I Sekretaris Kampung yang banyak membantu, dan tentu Pak Abu Shaleh Thafalas yang tak kalah baik.  Bi Ipeh, Irfan, mba Den, Yuna yang ngasih coklat, bang Jabir, Fahmi, dan semua kru Sahabat Misool yang mendukung hal apapun yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Dua kata; kalian keren. Keren ya kalau terpele bareng-bareng. Buahnya adalah rasa peduli. Setidaknya, kita yakin bahwa peduli adalah (bagian dari) solusi. #KapanTerpeleLagi.

Alhamdulillah, ternyata benar adanya, bahwa Allah selalu kasih kemudahan-kemudahan dalam satu kesulitan. Hal yang paling membahagiakan adalah, perjalanan ini mengantarkan saya menemui banyak orang-orang baru, kenalan baru, hingga yang menganggap saya seperti keluarga baru. #terharu. Awal tahun ini luar biasa, dan harus bilang apa? Alhamdulillah,,,

Apakah sampai di sini cerita di bulan Januari di Misool tahun ini? Oh tentu tidak, Allah kasih banyak sekali kesempatan untuk menikmati hidup di timur Indonesia itu. Bersambung insyaa Allah… ^_^

@mkusmias dengan setumpuk kenangan 2015



Sudah lama aku mencari-cari sepucuk surat yang ingin ku baca isinya lagi. Surat itu tak tampak begitu memukau. Bahkan ia terlihat lusuh karena terlipat-lipat. Tak pula tersimpan dalam amplop yang bagus. Bahkan tulisannya pun mengharuskanku membacanya lamat-lamat dengan penuh kekhusyukkan mengeja satu persatu huruf dan kata hingga dapat terbaca sempurna. Mungkin si penulis ingin menjadi seorang dokter. Hingga ia berlatih memperburuk tulisan sedari sekarang. Hehe...

Aku mencari sepucuk surat lusuh itu. Seingatku, aku menyimpannya bersama setumbuk tulisan-tulisan anak-anak yang lain sewaktu aku menjadi guru bantu setahun yang lalu. Yah, lagi-lagi, kalimat yang sedang kau baca ini berkisah tentang aku dan perjalanan semasa KKN dulu. Ku harap kau tak akan bosan mengikuti setiap kata yang kukisahkan ini. Tapi maaf, aku tak sepandai pujangga menyulam kata hingga menjadi cerita yang sempurna. Aku menulisnya, hanya karena aku ingin. Bukan karena aku takut lupa. Tapi karena aku ingin mengingatnya lebih lama. Sedikit lebih lama lagi.

Awalnya, aku ingin menulis ulang isi surat itu. Surat yang bisa jadi menurut orang lain itu tak pantas untuk dikenang, bahkan dibanggakan. Tapi begitulah, surat itu terkesan istimewa bagiku. Yah, istimewa itu tak perlu menunggu anggapan orang lain menilai hal itu istimewa. Rasakan saja, jika itu istimewa. Itulah istimewa bagimu. Sayangnya, sepucuk surat itu belum jua ketemu. Surat dari gadis SMP yang pernah menjadi muridku selama beberapa minggu di Pulau Misool, Papua Barat. Tepatnya di Kampung Fafanlap.

Namanya Mila. Entah siapa nama lengkapnya, aku tak hafal. Satu hal yang sangat kuingat tentangnya ialah surat darinya. Ia pernah memberiku sepucuk surat yang ia tempelkan ditanganku saat kelas telah usai dan anak-anak bergegas pulang. Seperti kulturnya, setiap anak berpamitan pada gurunya dan mencium tangan gurunya. Ternyata siang itu, Mila memberi ‘salam tempel’ padaku. Suratnya ia lipat sedemikian rupa dan ia tempelkan di tanganku saat bersalaman. Ah, anak-anak selalu punya cara sendiri untuk menyatakan rasa kasihnya. Ada anak yang lain juga yang sangat berkesan bagiku. Kusebut ia, Damin si Bocah di Balik Jendela. Sebagian ceritanya telah ku tulis beberapa waktu yang lalu. (simak di sini)

Aku tak menunggu hingga sampai di pondokan untuk membaca surat dari Mila. Aku yang sangat penasaran segera saja membuka dan membaca suratnya. Seperti yang kubilang tadi, membacanya butuh kekhusyukan. Meski tulisannya tak tertulis dengan huruf yang sempurna, namun setelah membacanya ku tahu ia menulisnya dengan segenap hati yang sempurna. Suratnya berisi banyak pantun. Benar saja. Karena saat perkenalan di kelas, aku mengatakan bahwa aku sangat menyukai pantun. Ku dengar anak-anak di kampung itu sangat pandai membuat pantun. Di halaman sebaliknya, aku membaca dengan ‘khidmat’, karena hurufnya sulit terbaca. Hehe... Tapi di situlah kadang saya merasa terkesan. 

kaka Miya, doakan saya, kaka. Agar saya bisa menjadi kebanggaan orang tua dan bermanfaat untuk keluarga. Doakan saya kaka, agar saya bisa berjilbab seperti kaka Miya, menjadi seperti kaka Miya

Isi suratnya memaksa mataku sedikit terbelalak. “Ha? Seriusan?” batinku. Aku hanya terkejut saja. Masa’ iya? Aku tak hafal isi selanjutnya. Sayangnya hanya itu yang bisa ku ingat. Namun ingatan yang tak banyak itu selalu membuatku rindu padanya. Kadang aku ingin menyangkal saat aku kembali rindu. Namun, dikatakan atau tidak, tetap saja rindu namanya.

Mila yang pemalu dan manis. Jujur, awalnya aku tak pede maksimal saat menyapa mereka di dalam kelas untuk pertama kalinya. Karena, aku khawatir penampilanku membuatnya asing. Aku yang tampil begini seperti aku pada biasanya, aku takut membuat mereka kurang nyaman bergaul denganku. Sempat aku menjadi penakut seperti itu. Namun, ternyata tak begitu kenyataannya. Benar memang, ketakutan adalah pikiran yang belum pasti terjadi. atau mungkin memang benar pula, ketakutan tak ubahnya keberanian yang kita belum siap dengan resikonya. Entah apa itu ketakutan, yang jelas Mila dan anak-anak sebayanya telah berhasil menghanyutkan ketakutan pada diriku waktu itu dengan ombak kehangatan dan penerimaan yang mereka ciptakan.

Dan di situlah aku terkesan. Mereka begitu mudah menyambut keceriaan dan kehangatan yang kuberi dan membalas keceriaan dan kehangatan yang lebih lagi. Aku hanya tak menyangka.

Kenapa kemudian surat itu begitu terkesan? Seharusnya aku berterima kasih pada Mila. Lantaran suratnya, aku menjadi lebih siap jika bertemu dengan mereka. Sekantong ceria yang telah kusiapkan dari Jogja agaknya akan sia-sia jika aku masih ragu dan tak siap bergerumul dengan mereka. Mila bilang, ia ingin berjilbab seperti ku berjilbab. Di saat di sini hampir-hampir aku diejek ‘mbak-mbak yang seperti emak-emak’ hanya karena pakai jilbab besar dan gamis. Ternyata di sana, di pelosok sana, ada anak yang baru pertama kali ku kenal, ia ingin memakai seperti apa yang kupakai. Apakah aku saat itu langsung berkoar-koar tentang kewajiban jilbab bagi perempuan muslimah? Tidak. Aku tak menyinggung-nyinggung tentang itu untuk pertama kalinya. Jelas, setidaknya aku tahu tempat dan tahu waktu. Kapan harus mengatakan apa dan bagaimana. Apakah aku langsung menunjukkan tutorial jilbab waktu itu? Ini juga tidak. Di sana aku dan kawan-kawan satu tim sebagai tamu. Tamu haruslah tahu kondisi terlebih dahulu.

Lalu apa yang ku lakukan? Entahlah. Aku hanya menyapa mereka seperti aku menyapa diriku di depan cermin setiap paginya. Aku hanya mempersembahkan sekantong keceriaan yang telah kupersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Dan aku berikan seikat kehangatan yang memang ini kuniatkan untuk mereka. Saat pertama kali menyapanya, aku membatin, “inikah mereka yang telah ada di dalam doa-doaku selama ini? Inikah wajah-wajah yang sebelumnya telah bertemu dalam doa? Mereka kah doa-doa ku yang terkabul?”

Tentu selama berjuang agar bisa sampai di Pulau itu, aku telah berdoa agar Allah menghendaki aku bertemu dengan mereka dan menyapanya. Aku tak tahu nama-nama mereka. Aku tak tahu wajah-wajah mereka sebelumnya. Yang ku tahu, mereka telah kusebut dalam untaian doa-doaku sebelumnya. Begitulah Allah Maha Pemurah yang mengabulkan doa-doa yang menganak tangga dan melangit. Dari pengalaman itu, aku tersadar. Bahwa memang, akhlak adalah salah satu kuncinya. Berbuat baik dengan sebaik-baik kelakuan akan membuka seluas-luas penerimaan.

Setelah hari itu, aku semakin akrab saja dengan Mila. Tak hanya dengannya, dengan anak-anak sekampung pun sangat begitu dekat dan akrab. Aku banyak belajar dari mereka. Tentang kesederhanaan, tentang kebahagiaan yang tak mahal. Bahwa hidup itu sederhana. Belajar dengan siapa saja, dan berbagi apa yang kita punya.

Mila melepas tangis saat perpisahan dengan tim KKN UGM

Tentang Mila, ia sangat ingin sekali menjadi polisi wanita alias polwan kelak. Namun keluarganya menginginkan Mila menjadi perawat/bidan saja. Namun aku berharap, semoga kelak engkau menemukan pilihan yang seharusnya kau jalani, Mila. Entah menjadi apapun, semoga kau bisa menjalankan tugasmu sebagai mana seharusnya manusia di bumi. Tak begitu muluk harapku. Semoga kau bermanfaat untuk dirimu dan orang lain. Tentu manfaat yang mengular panjang. Tak hanya berujung di jalan dunia, tapi manfaatnya sampai menguntai hingga ke syurga kelak. Karena kita adalah manusia yang percaya hidup tak sekedar dimana kita dilahirkan saja. Berpisah dengannya pun berurai air mata. Ia tak sanggup lagi menahan sedih yang memuncak dalam jiwa. Lalu aku? Agaknya, aku bisa sedikit menahan ketidak sanggupan untuk berpisah waktu itu. Menangis? Tentu. hanya satu-dua tetes yang tak bisa kutahan hingga akhirnya berlinang di pipi. Sekarang saat semua itu masih terkenang, saat aku mencoba mengingat satu-dua kata yang pernah membuat kita bahagia.. Saat aku menutup mata, rasanya seperti aku berdiri di dermaga dengan angin senja yang menerpa. Aku rindu.

Mila, semoga suatu saat Allah masih mengijinkan kita bersua.


@mkusmias yang masih memupuk rindunya
Damin "merusuh" saat kami sedang menyiapkan salah satu program KKN 


Hampir satu tahun sudah aku mengenalnya. Rambutnya keriting, kulitnya hitam meski tak pekat, dan suaranya terdengar berat. Damin, namanya, bocah kecil yang kukenal di Kampung Fafanlap, Misool, Raja Ampat. Aku mengenalnya saat KKN di kampung yang kini selalu kukenang, Fafanlap.
Pernahkah kamu menghadapi suatu masalah dengan orang lain? Jika kamu manusia, pastilah menghadapai masalah dalam hidupmu. Masalah dan manusia selalu berjalan beriringan. Namun janganlah resah, karena di sampingmu masih teriring Solusi. Kali ini saya tidak ingin membicarakan tentang solusi. Tapi saya ingin bercerita tentang perjalanan ke Bromo dua pekan lalu.


Surga identik dengan hal-hal indah yang selalu membuat hati senang. Salah satu tempat yang menyuguhkan keindahan dan bisa dikatakan surga dunia adalah Indonesia. Ya Indonesia, negara dengan lebih 17.000 pulau ini menyimpan banyak keindahan yang belum maupun sudah diketahui khalayak ramai. Indonesia menyimpan segudang keindahan. Salah satu tempat terindah di tanah Indonesia adalah Misool. Misool adalah pulau yang terletak di Raja Ampat, Papua Barat. Di peta, Misool terletak di bawah gambar kepala burung.

Misool terletak di Kabupaten Raja Ampat. Ya, Raja Ampat memang terkenal sebagai kawasan yang eksotis, kaya akan keindahan alam. Misool dikelilingi oleh hamparan pulau-pulau indah nan teduh, yang menentramkan batin jika memandangnya. Pulau-pulau kecil yang ditaburi terumbu karang disekeleilingnya ini, menambah kawasan Misool menjadi kawasan yang luar biasa eksotis. Sekali memandang alam Misool, seketika itu luruhlah sudah kepenatan yang melekat pada jasad. Terhapuslah sudah kegalauan yang mengusik ketentraman jiwa. Bagi saya yang sudah terbiasa dengan hiruk pikuk kota, sangat menantikan kesempatan untuk menghirup udara segar dari alam yang masih sangat murni seperti di tanah Misool ini.

Kendaraan yang bisa ditumpangi untuk menyusuri pulau-pulau di Misool bukanlah motor, apalagi mobil beroda empat, tapi dengan menggunakan speed, orang setempat menyebutnya dengan body. Sepanjang perjalanan laut, akan disuguhi keindahan alam yang mempesona. Stress langsung “good bye” setelah melihat genk-genk ikan terbang yang melompat-lompat. Jika beruntung, perjalanan laut juga dimeriahkan oleh lumba-lumba yang menunjukkan atraksinya, melompat-lompat mengikuti lajunya kapal. Jika ini belum dapat memuaskan, masih ada pemandangan yang tak kalah elok, yaitu terumbu karang-terumbu karang yang dikerumuni gerombolan ikan-ikan cantik di bawah air laut. Jernihnya air laut membuat alam bawah laut cukup terlihat dengan jelas. Air laut yang terlihat jernih biru muda seolah-olah menggoda untuk kita melompat ke dalam air laut yang asin.  Di tepian pantai yang berpasir putih, ikan-ikan cantik yang berwarna-warni pun siap menemani berenang.
 
Inilah Misool, yang bertabur keindahan alam yang sangat memuaskan mata memandang. Hamparan keindahan yang terdapat di Misool laksana kepingan surga dunia. Misool memang menyuguhkan keindahan alam yang sangat mempesona. Kepingan surga dunia ini masih terdapat di Indonesia, kawan. Artinya, sesungguhnya Indonesia menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Manusia-manusia yang diberi kelebihan akal inilah yang tinggal mengolah dan mengembangkan anugerah Allah ini. Karena sejatinya menjaga, mengolah, dan melestarikan potensi alam adalah salah satu bentuk syukur kepada Sang Maha Pencipta.