Showing posts with label Islamilitan. Show all posts
Showing posts with label Islamilitan. Show all posts
Prof. Inu saat memberi kuliah PIR34

Saya tak menyangka, dengan ikut PIR34 lalu, akan ketemu dengan banyak tokoh besar. Salah satunya Prof. Inu Kencana. Namanya booming saat terbongkarnya kasus IPDN 2007.

Tentu saya takjub saat beliau berkisah bahwa ia seorang diri membongkar banyak hal yang keliru di dalam instansinya. Dari kekerasan fisik (yang mengakibatkan puluhan mahasiswa IPDN meninggal), pelacuran, hingga praktik aborsi.
Tentu saya takjub saat beliau berkisah bahwa ia tak takut. Meski dipecat, dimusuhi dan konsekuensi kebenaran lainnya. Orang seperti beliaulah kita mesti meniru: yakni orang yang "urat nadi takut" nya sudah putus. Semangat dan keberaniannya yang mengucur deras berasal dari satu sumber, yakni karena Semangat Qur'an.
Begitu jujur. Jujur ucapannya bahwa yang hitam memang harus dinilai hitam. Yang putih memang mesti dicap putih. Tidak ada abu-abu.

Begitu jujur. Jujur perilakunya. Bahwa jika tindakan itu salah maka harus dihentikan. Tidak memendam kebenaran. Pun tidak menyembunyikan keburukan. Semua terlihat sangat jujur dalam ucapan dan perilakunya.

Beliaulah contoh, kawan. Hidup memang semestinya BERANI. Dan lagi-lagi saya kembali terngiang, "kejahatan terjadi karena banyak orang baik yang diam."

Sukoharjo, 6 Syawal 1437 H
@mkusmias yang belajar untuk Berani

Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini adalah saat Allah selalu mengurus kehidupan kita. Sungguh membahagiakan apabila Allah selalu hadir dalam masalah-masalah kita dan membawakan kemudahan untuk kita. Sangat menentramkan apabila Allah menjamin kesejahteraan kita. Allah menjamin rejeki kita. Allah mengurus keperluan kita. Dan yang tak kalah penting adalah, Allah selalu mencukupkan keperluan kita. Dalam sebuah ayat Allah berfirman,

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya". [Ath-Thalaq : 3]

Dialah orang-orang tawakal yang Allah urus hidupnya. Ya, tawakal adalah kunci agar Allah datangkan pertolongan-Nya. Tawakal adalah ketentuan yang harus ada pada diri seorang mukmin agar Allah selalu membersamai hidupnya. Tawakal akan datang dalam diri jika iman sudah bersemayam dalam jiwa.

 “… dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah: 11).

Dengan bertawakal, bukan hanya Allah akan memudahkan urusan seorang hamba yang mukmin. Namun, Allah akan menutupi dari kesusahannya, serta memelihara dari kejahatan manusia serta melindunginya. Seperti mudahnya Allah melindungi rasulullah saw dari makar Bani Nadhir yang hendak memberi celaka pada diri rasulullah saw. Allah melindungi Rasullullah saw karena Rasulullah telah tawakal sepenuhnya kepada Allah Dzat Yang Maha Melindungi.

Dengan tawakal yang bersemayam dalam dada seorang mukmin, tak ada sesuatu di dunia ini yang membuat resah hati. Tak ada sesuatu yang membuat gundah diri. Tak akan ada. Hati tak akan resah jika jodoh belum bertemu. Tak kan gundah jika rejeki banyaknya hanya segitu. Karena orang-orang yang takut dengan rejeki, takut tak bertemu jodoh, takut tak punya anak, takut banyak anak, takut tak bisa makan, takut tak berkuasa, takut akan hal-hal yang belum didapat di dunia, sesungguhnya ia bukannya kurang apa-apa, hanya kurang iman dan tawakal yang tumbuh dalam dadanya.

Orang yang sibuk memikirkan dunia hingga menyita pikiran, ia tak akan mendapat apa-apa kecuali lelah, penat dan, stress semata. Kenapa bisa stress? Karena ada tambatan lain selain Allah Shubhanahu wa Ta’ala. Karena ada tandingan lain di dalam hatinya selain Allah Yang Maha Perkasa. Hidupnya jadi tak terurus karena Allah berpaling darinya. Allah jauhkan ketenangan jiwa krn ia menduakan Allah dalam hatinya. Allah memalingkannya dari keberkahan hidup karena ia tinggalkan tawakal. Hingga Allah akan memalingkan hatinya dari sakinah. Hidupnya semakin sulit, semakin jauh dari Allah. Penyebabnya ialah ia tinggalkan tawakal pada Allah. Ia masih menyandarkan hidupnya kepada selain Allah.

Oleh karenanya, jika kita ingin diurus oleh Allah, dimudahkan urusan kita, dicukupkan keperluannya, dihindarkan marabahaya, maka kuncinya satu, yaitu tawakal. Tentang tawakal, jangan sampai pemahaman kita terpental. Tawakal itu bukan hanya pasrah tanpa usaha. Tawakal pun bukan berarti pasrah setelah berusaha. Karena hakikatnya, tawakal itu bukan hanya dipenghujung cara. Namun tawakal itu bergantung pada Allah sepanjang cara menjalankan asa. Tawakal ialah milik orang-orang yang sungguh-sungguh ikhtiarnya. Lihatlah bagaimana Hajar ibunda Ismail yang ditinggalkan suaminya, Ibrahim, di lembah baka. Tak ada pohon, tak ada orang. Hajar berlari-lari antara Shofa-Marwa hingga 7 kali. Hajar sungguh-sungguh berikhtiar kepada Allah dan Allah mengucurkan mata air di bawah kaki Ismail.

Begitu pun teladan dari orang yang paling tawakal, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum hijrah, ia shalallahu ‘alaihi wa sallam atur strategi terlebih dahulu. Saat perang Uhud, rasulullah tak meninggalkan musyawarah, memakai baju lapis besi, dan mengatur pasukan. Padahal rasul tahu bahwa tak kan ada luka di tubuhnya kecuali atas ijin Allah. Begitulah tawakal yang telah diajarkan. Dengannya (tawakal) Allah memudahkan urusan kita. Dengannya, Allah jauhkan kita dari bahaya. Dan karenanya (tawakal) Allah mengurus kehidupan kita.


Wallahu a’lam bishowab.

Seperti peribahasa “tak ada gading yang tak retak”, mengibaratkan bahwa tak ada yang selalu sempurna di dunia ini. Pun manusia. Meski pernyataan ini terkesan klise, namun kebenarannya masih saja selalu berlaku. Bahwa manusia memang tak ada yang selalu berbadan harum dan berbaju putih. Maksudnya, manusia memang tak ada yang bersih dari kesalahan dan dosa. Kita pernah, bahkan sering terlanjur berbuat dosa. Sadar atau tidak. Sengaja maupun ada niatnya.
ilustrasi

Di sana, ada sebuah tempat yang selalu tersebut dalam do'a, terucap di dalam pengharapan, menjadi ujung dari setiap permintaan, dan oleh jiwa selalu dirindukan. Benar, ia adalah surga, kampung halaman Adam dan keturunannya. Tempat asal manusia yang sebenarnya. Maka di sanalah seharusnya tempat kembalinya manusia.

Jika Allah adalah Dzat Yang Maha Kuat (Al-Qowiy), maka manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan keterbatasan, salah satunya kelemahan. Fitrahnya, manusia sesungguhnya memiliki kecenderungan untuk mengakui ketidakberdayaannya. Namun, tak semua manusia mau mengakuinya. Manusia-manusia yang terjebak dalam ketidak mauan untuk mengakui ketidak berdayaan mengakibatkan benih-benih kesombongan muncul dalam jiwanya. Maka sifat sombong bukanlah sifat yang terpuji dalam islam karena ia menafikkan fitrahnya akan ketidak mampuan. Bahkan Allah memberi sanksi keras untuk orang-orang yang sombong,

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (H.R Muslim)

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Orang sombong yang menafikkan ketidakberdayaan akan jauh dari rasa bahagia. Ia menganggagap dirinya selalu kuat padahal lemah. Ia menganggap dirinya serba mampu padahal ada kalanya ia tak kuasa. Ia tak mau disebut lemah. Ia tak mau dianggap tak berdaya. Padahal, kebahagiaan hidup manusia justru muncul dari sisi ketidakberdayaannya. 

Misalnya, orang yang sedang merindu sebenarnya dalam situasi seseorang yang tidak mampu,  yaitu tidak mampu untuk bertemu. Ia ingin bertemu dengan orang yang dirinduinya namun ia tak mampu karena terpisah jarak dan waktu. Maka dalam kerinduannya itu ia dapatkan perasaan bahagia.

Seorang suami yang meninggalkan istrinya beberapa hari untuk suatu keperluan, misalnya. Pada dasarnya, ia mengalami kondisi tidak berdaya akhirnya berpisah dengan istrinya. Ketidakberdayaannya itulah memunculkan cinta yang luar biasa. Demikian juga yang terjadi pada sang istri.

Contoh lain, orang yang menangis bahagia adalah orang yang bahagia karena ketidakmampuannya. Ia bahagia lantaran baru saja bertemu. Ia bahagia karena dapat bertemu, dan menangis karena takut untuk berpisah kembali. Perasaan takut tak bertemu kembali ini muncul karena ia menyadari bahwa dirinya tak berdaya untuk selalu bertemu sepanjang waktu. Ini hal yang menarik. Maka, letak kebahagiaan seorang muslim yang hakiki adalah saat ia mengakui ketidakberdayaannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat. Allah adalah Dzat yang Maha Mampu. Sedangkan manusia tidak. Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa, sedangkan manusia tidak. Jika manusia benar-benar sadar akan hal ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang mudah melekat pada hatinya.

Allah menyuruh manusia untuk berdoa agar manusia ingat ketidak mampuannya. Ketika berdoa manusia memposisikan dirinya dalam keadaan tidak berdaya. Disitulah letak kebahagiaan hidup seorang hamba jika ia mau merenungi. Allah mengilhamkan kebahagiaan dalam relung jiwa orang-orang yang mau merendahkan diri di hadapan Allah dan menyadari ketidak berdayaannya. Allah mengilhamkan kebahagiaan dalam hidup hamba-hamba-Nya yang mau berdoa karena Allah akan mengabulkan do’anya jika ia mau meminta.

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Q.S Al-Mukmin : 60)

Lantaran ketidak berdayaan pula, manusia selalu bergantung pada Dzat yang Maha Berdaya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah yang Maha Kuat tak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya yang lemah.

“Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”
(Q.S Al-Ikhlas : 2)

Maka, rendahlah diri kita dan akuilah bahwa kita tidak berdaya. Saat kita berdoa dalam keadaan mengakui bahwa diri kita tidak berdaya tanpa adanya kuasa Allah, maka disitulah letak kebahagiaan yang sejati.

Wallahu a’lam bishowwab




Sahabat, kita tentu tahu bahwasanya Allah mengharamkan syurga bagi mereka yang kufur terhadapnya, sebagimana dalam firman Allah, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Q.S Al-Maidah: 72)

Surga telah diharamkan Allah atas orang-orang kafir. Surga yang diliputi dengan segala bentuk keindahan dan kenikmatan hanyalah bisa diraih oleh orang-orang yang mau menyembah dan beriman kepada Allah. Maka, sebesar-besar nikmat yang ada di dunia ini adalah nikmat Islam. Ya, Islam adalah nikmat Allah yang paling besar. Islam-lah yang dapat mengantarkan seorang hamba menapaki jalan benderang menuju pintu kebahagiaan bernama Jannah.

Apabila Allah menginginkan hambanya dalam kebaikan, maka Allah akan matikan dia dalam keadaan Islam. Kita hanyalah manusia lemah yang tidak pernah mengetahui akan seperti apa kita saat mati nanti. Oleh karenanya, doa adalah kebiasaan yang senantiasa kita lakukan untuk memohon kepada Allah agar ditetapkan kehidupan kita di atas jalan Islam. Doa adalah senjata kita agar Allah mengkaruniakan hal terindah dalam hidp kita. Yakni, hidup dan mati dalam keadaan Islam. Sebagaimana doa yang diajarkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “wahai yang menetapkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu.”(H.R Ahmad dan Tirmidzi). Hanya berada di atas agama Allah-lah kebahagiaan kita langgeng sampai akhirat kelak.

Kita dapat menyaksikan bahwa pada hari ini begitu banyak perkara yang tersebar di sekeliling kita adalah perkara yang berbentuk syubhat (penipuan dan perkara yang meragukan), dan syahwat (yang membangkitkan nafsu). Semua perkara ini dapat menyebabkan seseorang berpaling (dari agama Allah). Inilah tanda-tanda akhir jaman seperti yang dikabarkan nabi. Seseorang begitu mudahnya beriman di malam hari dan kafir di pagi hari, atau pun kafir di pagi hari dan beriman di petang hari.
Tetapi Allah Maha Tinggi. Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan wafatkan dia dalam keadaan Islam, Allah akan menetapkan kematiannya di dalam Islam. Agar kita termasuk ke dalam orang-orang yang dicintai Allah, maka hendaknya kita senantiasa menghadirkan hati yang gembira tatkala menyembah Allah. Janganlah kita melakukan suatu ibadah hanya semata-mata untuk menyelesaikannya, tetapi hendaknya kita melakukan suatu ketaatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kita senantiasa berdoa agar dijauhkan dari segala bentuk kemaksiatan. Sejatinya, Allah tidak dimudharatkan oleh kemaksiatan yang kita lakukan. Tetapi kitalah yang binasa apabila melakukan kemaksiatan. Oleh karena itu, marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Yakni, menjaga iman dan taqwa saat bersama banyak orang maupun saat dalam keadaan sendirian.
Sahabat, sesungguhnya mati dalam keadaan islam, dalam apapun juga keadaannya, jauh lebih baik dibanding mati dalam kekufuran. Maka senantiasa kita meminta pertolongan Allah agar dikuatkan dalam memegang teguh ajaran Islam sampai maut menjemput. Contoh yang mulia dapat kita petik dari  kisah sahabat, Amru bin Ash tatkala hampir tiba wafatnya berkata, “ya Allah aku bukanlah seorang yang lepas dari dosa maka aku memohon pengampunan. Dan aku bukanlah orang yang kuat dalam beribadah, maka aku memohon pertolongan. Dan tiada bantuan dan kekuatan kecuali (dengan) pertolongan Allah.“


Salah satu kenikmatan dalam berislam adalah saat Allah membangunkan kita dari tempat tidur untuk sholat subuh berjamaah, memudahkan mengeluarkan sedekah, dan berjalan menuju majlis ilmu. Itulah rahmat dari Allah. Oleh karenanya, senantiasa dalam keadaan lapang maupun sempit, kita berdoa kepada Allah agar dimudahkan dalam berbuat ketaatan. Tiada kegembiraan bagi seorang hamba yang lebih besar dari apapun di dunia ini selain kegembiraan terhadap islam. Seorang hamba sudah seharusnya bersyukur kepada Allah karena telah dijadikan seorang muslim. Dalam suatu majlis, Syaikh Shaalih Al Maghamsi (hafidzahulloh) menyampaikan kalimat penuh hikmah, “kita semua selalu dalam Rahmat Allah, dilahirkan sebagai Muslim. Yakni, Allah memberi kita Islam tanpa kita memintanya, maka semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua syurga tatkala kita memintanya.”
Istilah Go Green popular pada era modern ini yang diartikan sebagai langkah atau upaya menjaga hijaunya bumi akibat pemanasan global. Hal ini dilakukan sebagai respon terhadap perubahan kondisi alam yang mulai “rapuh”. Go green penting dilakukan untuk mengembalikan kelestarian alam. Kita sebagai manusia mencintai yang namanya kesejukan. Salah satu sumber kesejukan adalah alam.
Tahukah Anda? Islam yang risalahnya disampaikan oleh Muhammad saw, mengajarkan kita untuk memiliki pola hidup yang cinta lingkungan? 


Yap, seorang muslim telah diajarkan untuk Go Green. Meski istilah ini baru popular pada masa sekarang, namun hakikat dari makna ini sudah diajarkan oleh nabi Muhammad saw.
Menanam pohon adalah salah satu upaya Go Green, upaya melestarikan lingkungan. Melalui sebuah hadits, Muhammad saw ingin mengajak umatnya untuk selalu mencintai lingkungan dengan menanam pohon.

“tidaklah seorang muslim menanam pohon atau tanaman, lalu burung, manusia, atau hewan memakannya, melainkan akan menjadi sedekah baginya…” (hadits riwayat Al-Bukhari: 2320, Muslim: 3950).

Imam an-nawawi menjabarkan, “di dalam hadits ini terdapat keutamaan pohon dan tanaman. Pahala pelakunya akan senantiasa mengalir selama pohon dan tanaman itu ada, bahkan sesuatu (bibit) yang tumbuh darinya, sampai hari kiamat..” (Syarah Shahih Muslim).

So, sebagai seorang muslim yang memperhatikan risalah rasulullah saw, hendaknya merenungi hadits di atas. Islam sudah lengkap ajarannya, termasuk peduli dengan alam sekalipun. Menanam pohon bisa jadi adalah tindakan kecil. Namun, bayangkan jika setiap orang berfikir dari hal yang sederhana seperti ini, insyaa Allah akan terlihat manfaat yang besar. Untuk pribadi kita sendiri, akan mendapat manfaat karena kebaikan kita mengikuti ajaran Muhammad saw.

Jadi mulai sekarang, setelah makan buah-buahan yang ada bijinya, boleh deh kita tanam bijinya agar menjadi pohon. Bisa jadi manfaatnya tidak langsung dirasakan. Namun, pahala dalam catatan amal kita sudah mulai dicatat sejak kita berniat untuk melakukan kebaikan ini.
Yukz, tanam pohon.. karena Muslim itu Go Green !!!

#MuslimKeren :) 


Setiap gerak dan amal kita hendaklah diiringi dengan ilmu. Berkaitan dengan keutamaan ilmu dan hukumnya, telah banyak dibahas di kitab-kitab para ulama. Semangat untuk beramal pun itu belumlah cukup. Beramal tanpa ilmu hanya akan membinasakan. Itulah mengapa ilmu letaknya sebelum amal. “al ‘ilmu qobla amal”. Ilmu mestinya menjadi pengiring amal. Ketiadaan ilmu dalam diri seringkali membuat salah memahami makna sejati tentang kaidah-kaidah syar’i. 

Tentang ihlas, sering dipahami tanpa pamrih hati. Tawakkal sering dimaknai pasrah tanpa tapi. Sabar diartikan berdiam diri. Padahal memahami islam tidak hanya dengan hati, namun juga dengan ilmu dari kitab suci. Istiqomah itu tetap lurus walau seluruh manusia di dunia bersimpang jalan, bukan semata mengikuti  banyak kawan. Ikhlas itu tidak bertambah karena dipuji,tidak berkurang karena dicaci. 
Sabar itu tetap teguh dalam kebenaran, bukan diam dalam ketidakberdayaan. Jika ikhlas berarti tidak mengharap syurga, untuk apa Allah menitahkan kita agar merindukannya? Jika ikhlas berarti bukan karena takut neraka, untuk apa Allah mengancam kita dengan siksa-Nya? Ikhlas, bukan beramal tanpa pamrih. Ikhlas adalah mengharap apa yang ada di sisi-Nya disebalik amal kita.

Tentang sabar, seringkali pemahaman kita tersasar. Kadang sabar dimaknai berdiam diri dalam ketidakberdayaan. Kadang sabar dimaknai membiarkan kemaksiatan. Kadang sabar berdiam diri dari mengubah keadaan. Sesungguhnya sabar adalah tetap teguh di atas kebenaran meski memberatkan, melelahkan.

Tentang tawakal, seringkali pemahaman kita terpental. Kadang tawakal diartikan pasrah tanpa upaya. Kadang ia dimaknai pasrah setelah berusaha. Hakikatnya, tawakal itu bukan hanya di penghujung cara, namun tawakal itu sebelum berusaha, saat melakukannya, dan setelah tuntas mengerjakannya.

Mari kita benahi tentang 3 hal dalam hidup kita; ikhlas, sabar, dan tawakal.. :) 

Nampaknya seluruh umat islam sepakat bahwa bulan puasa adalah bulan penuh berkah yang di dalamnya terdapat banyak peluang meraup pahala berlipat-lipat. Jika diibaratklan dengan senjata, ramadhan bak pisau bermata dua, kita bisa banyak mendapat untung darinya jika memanfaatkannya dengan baik, pun juga dapat menjerumuskan kita karena kita lalai dengannya. Banyak artikel yang menjabarkan keutamaan Syahrul Romadhon yang berisi hal-hal yang membuat kita semangat beramal baik di bulan ramadhan. Namun sadarkah kita bahwa Ramadhan juga memiliki sisi lain yang bisa mendatangkan kerugian? 

 1.  Bulan terhalang masuk jannah 

ramadhan terkenal sebagai bulan ampunan. Inilah keberkahan bulan ramadhan, Allah berikan ampunan kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh di bulan ini. Sehingga amatlah sayang jika kita tidak sampai mendapat ampunan dari Allah. Bertambah rugi dengan kerugian yang berlipat-lipat jika kita terhalang masuk ke jannah Allah lantaran tak mendapat ampunan-Nya. Seperti perkataan Jibril kpd Muhammad shallallahu alaihi wasallam,
يَا مُحَمَّدُ مَنْ أَدْرَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ ، فَمَاتَ ، فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ ، فَأُدْخِلَ النَّارَ
“Wahai Muhammad, barangsiapa yg mendapatkan Ramadhan, tapi dia mati dalam keadaan tidak mendapatkan pengampunan, maka semoga dimasukkan ke dalam neraka.” (HR Thabrani, dishahihkan oleh al-Albany)
dan doa Jibril ini diamini oleh Nabi.

2.  Bulan terhalang dari kebaikan
ramadhan, moment yang memudahkan kaum muslimin untuk semakin dekat dengan pintu jannah. Ibadah-ibadah yang jika dilakukan akan mendapat pahala berlipat dari Allah. Namun, ramadhan menyisakan sisi lain yaitu manusia menjadi terhalang dari kebaikan. Sungguh merugilah.

Nabi shallallahu alaihi wasallam setelah menyebutkan keutamaan Ramadhan lalu bersabda,
مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Barangsiapa terhalang dari kebaikan di dalamnya, sungguh ia benar-benar terhalang.” (HR an-Nasa’i dan Tirmidzi, shahih).


Jika di bulan ramadhan yang sangat kondusif untuk beramal baik lebih banyak dan lebih khusyuk saja tidak bisa mengambil manfaat, bagiamana dengan di bulan-bulan lainnya yang lebih berat dan lebih banyak godaannya tentunya.

Semoga ramadhan bisa membawa kita pada maghfirah, dan kebaikan amal sehingga pintu-pintu surga terasa lebih dekat. aamiin ya Mujib.

wallahu a'lam.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “sembahlah Alloh (saja) dan jauhilah thogut,.. “ 
Q.S An-Nahl: 36)

“Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat yang ma’ruf) dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebnayakkan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(Q.S Ali-‘imron : 110).

Islam datang melalui para nabi-nabi pilihan yang dikehendaki Alloh yang pada akhirnya disempurnakan sejak kenabian Muhammad sholallohu ‘alaih wa sallam. Umat islam dilahirkan menjadi umat terbaik karena tugas dakwah yang diembannya. Tujuan utamanya ialah tegaknya kalimat tauhid, mengembalikan fungsi manusia sebagai hamba penyembah Alloh saja, dan menegakkan syari’at islam di muka bumi ini (pada tataran masyarakat global) serta meraih Ridho Alloh  Subhanahu wa Ta’ala. Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah terjadinya kemungkaran merupakan bagian dari tugas umat muslim demi terwujudnya tujuan tersebut. Inilah da’wah mulia islam yang datang di muka bumi ini.

Pelaksanaan da’wah itu sendiri dapat dikerjakan secara individual dan jama’ah. Dakwah secara individu dapat melalui akhlak atau perbuatan kita dihadapan manusia dalam keseharian. Rosululloh disegani oleh banyak kalangan pada jamannya karena gelar Al-Amin yang melekat pada diri beliau, dan ini adalah da’wah. Tidak semua da’wah dapat dikerjakan sendiri. Tegaknya syari’at islam di muka bumi ini mustahil jika dilakukan seorang diri. Inilah pentingnya amal jama’i. islam sendiri datang menyeru agar manusia hidup secara berjama’ah, mengimplementasikan ajaran-ajaran islam secara berjama’ah. Islam takkan bisa tegak sempurna jika tanpa jama’ah.

Namun, bagaimanakah jama’ah islam itu sendiri?? Fenomena yang ada ialah saat ini sudah tidak adanya Jama’atul Muslimin, yang ada ialah Jama’atul minal Muslimin. Jama’atul Muslimin hanya ada jika diterapkannya khilafah islamiyyah. Jama’atul Muslimin itu ialah pada masa Rosululloh dan shahabat dan pada hari yang diKehendaki Alloh nantinya. Setelah tumbangnya kepemimpinan khulafaur rosyidin, Jama’atul Muslimin telah tiada karena tidak lagi diterapkannya khilafah islamiyyah. Jama’ah yang dalam aspek politik pun tidak dapat diterapkan, yaitu berkumpul hidup di bawah sebuah Negara islam, di bawah kepemimpinan imam/khilafah yang sah secara syar’i.

Dikarenakan tidak adanya Jama’atul Muslimin sekarang ini, muncullah Jama’atul minal Muslimin dengan banyak penamaan. Kemudian apakah terbentuknya Jama’atul minal Muslimin merupakan realisasi dari hadits iftiroqul ummah (perpecahan di tubuh ummat islam)? Terbentuknya Jama’atul minal Muslimin tidak dapat dikatakan suatu pelanggaran selama masih berpegang teguh di atas jalan Al-Qur’an wa As-Sunnah sesuai pemahamannya Rosululloh dan tiga generasi emas. Iftiroq disini artinya firqoh (golongan) yang keluar dari jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan para imam kaum muslimin beserta jama’ahnya serta menyimpang dari manhaj as-salaf as-sholih. Jama’atul minal Muslimin yang benar ialah menyuarakan dan memahamkan pada ummat tentang urgensi Jama’atul Muslimin. Artinya, setiap Jama’atul minal Muslimin memiliki satu azzam menuju Jama’atul Muslimin.

Pemahaman yang kurang dalam mengenai Jama’atul minal Muslimin dan Jama’atul Muslimin menyebabkan timbulnya paradigma kesukuan (golongan) yang membentuk sekat antar Jama’atul minal Muslimin. Paradigma ini biasanya dipahami bagi sebagian muslimin yang termasuk masih awal dalam memahami islam. Maka dari itu, hendaknya bersabar dalam menuntut ilmu din sampai menemukan hakikat ajaran islam yang kaffah. Ahlus sunnah wa Al-jama’ah adalah siapa saja yang menjadikan jalan hidup Rosululloh dan tiga generasi setelahnya sebagai manhaj dalam memahami dan mengimplementasikan ajaran islam. Jadi, aswaja bukanlah suatu monopoli `golongan tertentu yang kemudian menganggap diluar dari golongan tersebut bukanlah aswaja, tetapi siapa saja yang mengikuti sunnah dan berpegang teguh dengannya. Hendaknya inilah yang dipahami ummat saat ini agar tidak terjebak pada pengakuan belaka dan menghilangkan adanya sekat antar ummat muslim yang sejatinya adalah satu jalan aqidah dan tujuan. Satu tujuan yang bisa jadi cara menuju tujuan yang berbeda.

Sekiranya langkah yang mendekati sesuai jika masing-masing dari ummat muslim meninggalkan pengakuan atas nama kelompok tempatnya menuntut ilmu dien yang terkesan mengkotak-kotakkan islam itu sendiri (missal, saya salafi, kamu ht, saya jt, kamu im/tarbiyyah,mmi, dan lain sebagainya). Alangkah lebih baiknya meninggalkan yang demikian, lebih baik sama-sama beramal yang dengan amal itu bisa memperbaiki ummat. Karena, betapa masih banyaknya ummat hari ini yang masih belum faham iman, ibadah, aqidah, dan masih suka sinetron, ramalan zodiac,dll. dalam mewujudkan persatuan ummat, perlu kiranya kita meninggalkan perdebatan yang sifatnya furu’ (cabang) karena tidak akan pernah ada habisnya. Apapun cara yang ditempuh ummat ini dalam meuwujudkan tujuan selama tidak melanggar syari’at, anggaplah itu sebagai warna-warna yang saling melengkapi nuansa dakwah. Bagi sebagian saudara-saudara yang getol menyuarakan jihad, ya itulah salah satu warna islam karena islam juga berbicara tentang jihad. Bagi sebagian saudara-saudara yang memperjuangkan khilafah ya itulah warna islam karena islam membahas tentang khilafah. Bagi sebagian saudara-saudara kita yang berjuang di ranah politik, biarkan mewarnai perpolitikkan. Bagi saudara-saudara kita yang semangat menuntut ilmu dinnya sangat membara, ya begitulah seharusnya jiwa setiap muslim yang memiliki azzam untuk memahamkan diri dan ummat terhadap ilmu dien yang mulia. Bagi saudara-saudara kita yang dakwahnya langsung bersinggungan dengan masyarakat yang ia jumpai di daerah-daerah, ya itulah warna islam yang memasyarakat, merangkul masyarakat untuk mengenal agama lebih dalam. Begitulah karakter masing-masing dari sebagian saudara-saudara seiman kita yang seharusnya tidak dipermasalahkan secara ghuluw sampai menimbulkan persangkaan buruk, kedengkian bahkan pecahnya ukhuwah islamiyyah. Itulah karakter yang dibawa dan warna-warni yang saling melengkapi.

 Saat ini yang baru bisa kita lakukan ialah menghargai dan saling mendukung dalam hal kebaikan dan ketaqwaan. Adapun jika ditemui suatu kesalahan dalam prakteknya, hendaknya ditegur dan ditabayunkan secara hikmah.  Saling menasehati dalam hal kebaikan dan kesabaran agar tidak termasuk golongan kebanyakan manusia yang merugi. Inilah yang mestinya dipahami agar tujuan dakwah yang utama dapat terlaksana. Inilah yang seharusnya dipahami agar ummat muslim yang berjalan di atas jalan yang benar, benar-benar merasakan persaudaraan islamiyyah dengan muslim lainnya sehingga tercapai persatuan dalam rangka menuju tujuan yang sama.

Ummat dapat dipersatukan dengan dua hal; (1) manhaj, sebagaimana yang sedikit sudah disinggung di depan bahwa ummat ini dapat bersatu dengan manhaj (metode dan jalan hidup) yang berasal dari Rosululloh dan tiga generasi emas setelah beliau. (2) peristiwa, ummat islam dapat disatukan dengan adanya peristiwa yang berkaitan dengan ummat muslim, missal: penindasan muslim palestina atas kaum zionis yahudi yang tak kunjung reda (bahkan tak kan reda sampai menjelang hari akhir kelak karena permusuhan antara kaum muslim dan kafir itu pasti), kedzoliman kaum syi’ah terhadap saudara-saudara muslim di suri’ah, konflik afghon, tragedi poso, penindasan dan pengusiran kaum muslim di rohingya, dan penjajahan-penjajahan kaum kafir di tanah tempat berpijaknya kuam muslimin lainnya. Inilah salah satu jalan ummat ini dipersatukan karena adanya rasa ukhuwah islamiyah yang menggerakkan hatinya untuk langsung terjun turut andil menolong saudara-saudara muslim yang tertindas, membantu mereka yang tertindas dengan berbagai kemampuan yang dimiliki baik jiwa, harta maupun sebatas doa. Sebanyak2nya doa juga mereka butuhkan karena kita tidak tau doa dari mulut siapa yang dikabulkan Alloh.

Selain kedua hal tersebut diatas, ummat muslim dapat pula dipersatukan dengan al-wala’ wal baro’. Pemahaman wala wal baro’ yang jelas dan tegas memberikan pemahaman pada ummat tentang siapa yang sebenarnya berhak mendapat loyalitas dan siapa saja yang harusnya di beri baro’ (kebencian dan perlawanan). Sehingga, jelas siapa yang dicintai dan siapa yang diperangi.
Jika persatuan sudah terpupuk maka langkah untuk membangkitkan ummat adalah jalan yang lebih dekat. Ummat dapat bangkit bersama dengan frame berfikir yang senada. Dalam hal ini terutama adalah masalah aqidah karena manhaj sebagai pemersatu ummat berdasarkan aqidah yang haq. Kebangkitan ummat akan mendekatkan dengan kemenangan yang telah dijanjikan. Yaitu terulangnya sejarah kemenangan yang digenggam oleh kaum muslimin. Kebangkitan dan kemenangan  ummat adalah hal yang tidak hanya dinanti, meski kemenangan itu adalah janji yang pasti dari Ilahi. namun semuanya perlu adanya upaya yang nyata.

Perlu diingat bahwa kemenangan kaum terdahulu pun ada sebabnya. Sebab-sebab itulah yang seharusnya kita lakukan sekarang ini sebagai persiapan kita mendapatkan kemenangan kelak. Latihan fisik maupun mental juga mesti dipersiapkan. Ingat, kebersihan hati, nurani, ketaqwaan dan iman adalah bekal kaum terdahulu meraih kemenangan. itulah yang menyebabkan islam berjaya. Juga, menjauhi kemaksiatan, karena kemaksiatan itu penghalang kemenangan. Maka, marilah kita persiapkan dan  ulangi sejarah yang pernah ada,, meraih kemenangan islam.

Ya Robb, jadikanlah tangan-tangan ini menjadi tangan-tangan yang sibuk memperbaiki ummat, berjuang menjemput kemenangan yang Engkau janjikan… jika pun bukan melalui tangan-tangan ini, jadikanlah generasi-generasi dan anak cucu dari pemilik tangan ini yang akan menjemput dan berjuang untuk dien yang haq ini, untuk sebuah Ridho dan RahmatMu,, aamiin,,,

-hamba Alloh akhir zaman-

*essay ini disusun sebagai syarat Training Kepemimpinan Jama'ah Shalahuddin 3 UGM 1434h






 Sebuah kisah nyata yang dituturkan oleh syaikh Ahmad Salim Baduwailan dalam bukunya yang berjudul "Laa taias" 
SELAMAT MEMBECA DENGAN KHUSYU...
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya....
-------------------

Dalam sebuah kamar berisi tiga ranjang putih, seorang laki-laki yang tidak sadarkan diri terbaring di ranjang paling tengah, dia tidak mengetahui apapun yang terjadi di sekelilingnya berupa alat-alat bantu pernafasan, detak jantung dan selang-selang pernafasan.

Setiap hari LEBIH DARI SETAHUN LAMANYA DAN TAK PERNAH BERHENTI, ada seorang wanita dan seorang anak berumur empat belas tahun bersamanya menjenguk laki-laki tersebut dengan penuh rasa kasih sayang dan cinta. Mereka berdua mengganti pakaiannya, menanyakan kondisinya dan menanyakan tentang kemajuan kesehatannya, namun tidak ada perkembangan baru tentang kondisinya. Kondisi laki-laki tersebut seperti biasanya, tidak baik dan tidak memburuk. Ketidaksadaran yang total, dan hilangnya harapan kesembuhan baginya. 

Sebelum wanita dan anak itu meninggalkannya, mereka berdua mengangakat kedua tanganya seraya berdoa kepada Allah, kemudian mereka berdua meniggalkan rumah sakit. Dan mereka menjenguknya kembali kepada ziarah kali kedua pada hari itu juga, dan begitulah seterusnya.

Para pasien, komite perawat dan para dokter sangat heran dengan kunjungan wanita dan anak itu, walaupun tidak ada hal yang baru dan kondisi yang baru dengan pasiennya.

Apa hakikat ketetapan hati yang menakjubkan sehari dua kali walau pasiennya tetap tidak menyadari segala yang terjadi di sekelilingnya dan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri secara total…???

Mereka memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa kunjungannya itu tidak ada gunanya sama sekali dan menyarankan untuk mengunjunginya seminggu sekali, namun wanita itu tidak menjawab kecuali dengan kalimat “hanya Allah saja sebagai penolong, hanya Allah saja sebagai penolong .” 

Demikianlah, pada suatu hari sebelum waktu berkunjung wanita beserta anak itu, laki-laki yang berbaring tanpa sadarkan diri tersebut bergerak diatas ranjangnya, bergerak dari sisi yang satu ke sisi yang lainnya kemudian dia membuka tangannya dan menjauhkan dari alat oksigen, lalu duduk tegak, kemudian dia memanggil perawat yang datang dengan sangat heran, dan meminta kepada perawat untuk menjauhkan alat-alat bantu dokter dari tubuhnya. Namun perawat itu menolak dan memanggil dokter yang ikut keheranan. Lalu dilakukanlah pemeriksaan yang intesif kepadanya yang akhirnya dokter tersebut mendapatkannya telah sembuh dan sehat walafiat serta meminta kepada perawat untuk menjauhkan alat-alat tersebut dan membersinkan bagian tubuh dimana alat-alat itu ditancapkan padanya. 

Dan tibalah waktu kunjung, lalu wanita dan anak itu masuk. Dan tidaklah keduanya terperangah melihat kondisi laki-laki tersebut hingga bercampurlah air mata dan senyum kebahagiaan dari mereka. Tangisan, doa, dan pujian serta sanjungan hanya untuk Allah yang telah menyempurnakan kesehatan suaminya tersebut. Disaat itu dokter bertanya kepada wanita itu
“apakah anda berharap bisa mendapatkan suami anda dalam kondisi seperti ini ?”
dia menjawab
“ya, demi Allah, saya dahulu berharap ketika saya mengunjunginya suatu hari, saya akan mendapatkannya duduk menunggu kami”

Lalu dokter itu berkata kepadanya
“sesungguhnya ada sesuatu yang terjadi, yang tidak ada peran sama sekali dari rumah sakit atau dokter dalam hal ini, atas nama Allah saya memohon kepadamu, beritahukanlah kepadaku, mengapa anda mengunjunginya sehari dua kali? Dan apa yang telah anda lakukan?”

Dia menjawab,
“karena anda telah memintaku atas nama Allah, maka saya menjawab,'dahulu saya mengunjungi  suami saya ini pada kunjungan pertama untuk mengetahui kondisinya dan berdoa untuknya, kemudian saya pergi bersama anak saya kepada fakir miskin disuatu tempat, lalu kami memberikan sedekah dengan maksud beribadah kepada Allah untuk kesembuhannya'”
= = = = = = = = 

Masyaallah… la haula wa laa kuwwata illah billah….
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah semata….
Sebuah amal yang membutuhkan kekuatan iman, bersedekah dengan istiqamah…. LALU ALLAH MENYEMBUHKAN Suaminya dengan keajaiban yang sangat menakjubkan…

Sungguh benarlah sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam :
“obatilah orang-orang sakit dengan bersedakah”
(HR. Baihaqi No. 6832)

Terkadang kita putus asa dan berhenti di tengah perjalanan sebelum kesuksesan diraih… sebagai mana terkadang kita terlalu cepat mengharap faidah sedekah setelah kita bersedekah satu atau dua kali bersedekah….

Lalu bagai mana dengan kesabaran istri dan anak tadi dibanding kita yang hanya beberapa kali beramal soleh…??
TETAPLAH ISTIQAMAH DALAM BERAMAL SOLEH, karena lambat ataupun cepat Hikmah kan didapat…!!!

[dikutip dari www.fosa-indonesia.org ]




meski ngepost-nya kelewat dua hari dari tanggal 28 kemarin,, tapi yang namanya ilmu gak apa-apa kan dishare kapan aja. Dua hari yang lalu hari sumpah pemuda yah?? hemmm.. ini ni sumpah pemuda, bukan sumpah miyapah,,, hehe...

SUMPAH PEMUDA

Sumpah . .
Indonesia saat ini sedang dalam masalah
Indonesia saat ini sedang menangis resah
karena pemuda zaman ini lupa dengan sejarahbagaimana para pahlawan mengukir kisah
dengan bambu runcing berlumur keringat dan darah
dengan semangat membara pantang menyerah
Sumpah . .
para pemuda sudah kehilangan arah
tak tahu mana yang benar, mana yang salah
waktu mereka habis untuk berkeluh kesah
dan mereka tidak memulai dengan melangkah
demonstrasi dan tawuran menjadi solusi yang gegabah

Sumpah . .
Indonesia mencari pemuda harapan yang gagah
pemuda yang hadir sebagai pencerah
pemuda yang memberikan uswah hasanah
pemuda yang menggugah dan mengubah
mendobrak kemungkaran dengan ilmu amaliyah

Kaulah harapan bagi Indonesia yang cerah . .
wahai para pemuda kaffah . .
sumpah . .