Showing posts with label Critical Thinking. Show all posts
Showing posts with label Critical Thinking. Show all posts

Negeri ini tidaklah kekurangan orang pintar, yang kurang dari negeri kita ini adalah orang baik. Untungnya, dalam momen yang berdekatan dengan hari guru nasional kemarin, orang-orang baik (dan pintar tentu saja) yang mulai langka ini menunjukkan contohnya.
Catat dua nama ini: Gus Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Mbah Kiai Maimun Zubair.
Dihina dan dihujat di media sosial hanya karena hal yang bersifat khilafiyah, dua sesepuh umat Islam ini menunjukkan respons yang luar biasa. Mereka menunjukkan bagaimana menjadi menjadi sosok yang bisa digugu dan ditiru.
Uniknya, tidak hanya memaafkan, keduanya malah sukarela “disowani” oleh orang-orang yang secara terbuka menghinanya.
Lebih ajaib lagi Gus Mus. Bukan hanya menerima dan menyambut hangat, beliau malah memberikan nomor whatsapp-nya. Alasannya pun lucu: supaya si penghujat, kalau mau uring-uringan dengan pendapat Gus Mus tidak perlu ada orang lain yang tahu.
Ini kan bikin iri betul! Saya malah curiga, jangan-jangan orang ini sengaja menghina biar dekat sama Gus Mus. Sayang sekali, kok ya saya ini tidak rela dan tidak berani jika harus menggunakan cara yang sama biar bisa dekat dengan idola saya ini.
Apa yang ditunjukkan Gus Mus dan Mbah Kiai Maimun mengingatkan saya akan hal yang juga pernah dilakukan Zakia Belkhiri beberapa bulan silam (pertengahan Mei) di Belgia. Diawali dari terpilihnya seorang Muslim bernama Sadiq Khan sebagai walikota London, gerakan anti-Islam kembali mengemuka di beberapa negara Eropa. Salah satunya Belgia.
Aksi Belkhiri ini sempat jadi buah bibir di media sosial kalau Anda ingat. Waktu itu, dengan enteng Belkhiri yang kebetulan lewat di Antwerpen, melihat gerombolan massa gerakan anti-Islam ini. Bukannya ciut nyali karena dirinya adalah bagian dari “objek” yang sedang “dilawan”, Belkhiri malah mengambil hapenya, lalu melakukan hal yang tidak akan dilakukan oleh Ahok di hadapan Habib Rizieq sekalipun, yakni: selfie!
Yak. Selfie di depan tulisan-tulisan “no headscarves” atau “stop Islam”. Yakin deh, ini keren betul. Bukannya terbakar amarah karena merasa didiskriminasi, Bakhiri malah menunjukkan karamahtamahan yang sejatinya bikin malu peserta demonstran. Dia menyerang balik dengan cara tak terduka. Serangan yang dengan sangat telak memukul balik para demonstran.
Hal yang dengan jelas menunjukkan, siapa sebenarnya “pemenang” dari kejadian tersebut. Yang demo ya terpaksa ikut senyum-senyum waktu diajak selfie Belkhiri. Yah, meski senyumnya sedikit kecut sih.
Reaksi-reaksi semacam inilah yang belakang mulai jadi barang langka di negeri ini. Apa yang ditunjukkan Gus Mus, Mbah Kiai Maimun, sampai Belkhiri adalah bukti bahwa ada “cara terbaik” untuk menunjukkan bahwa wajah Islam adalah wajah adab maupun peradaban.
Nah, sebelum jauh membahas soal Islam dan peradaban ini, perlu saya ceritakan bagaimana santri belajar ngaji di pesantren untuk memberi sedikit “asbabul nuzul”-nya. Yah, istilahnya sebab kenapa kita harus mengutamakan adab yang baik dulu sebelum menginjak ke hal-hal yang lebih rumit—utamanya dalam persoalan syariat. Dan tidak perlu jauh-jauh, saya akan ambil contoh dari pesantren saya saja.
Begini. Jauh sebelum mempelajari ilmu fiqih, nahwu, sorof, sampai balaghoh, atau ilmu-ilmu rumit lainnya. Seorang santri angkatan pertama akan disodori dua kitab yang mesti dikhatamkan terlebih dahulu. Yakni Akhlaqul lilbanin dan Ta’lim muta’alim.
Bagi yang pernah mondok, atau punya saudara yang pernah mondok, mungkin familiar dengan dua kitab ini. Kitab-kitab ini secara garis besar berisi mengenai bagaimana berperilaku, adab, dan akhlak kepada orang lebih tua, lebih muda, atau orang-orang yang dianggap sebagai “guru”.
Saya tidak akan menceritakan isi dua kitab tersebut secara detil di sini, karena memang saya tidak punya kredibilitas yang cukup untuk memberitahu situ apa saja pelajaran di dalamnya. Kalau situ penasaran ya saran saya; silakan mondok atau masukkan anak situ ke pondok.
Yang lebih ingin saya tekankan di sini adalah—yah, menurut kesimpulan saya bertahun-tahun kemudian—ada alasan khusus kenapa dua kitab ini jadi “wajib” dipelajari di awal. Begini. Seorang santri lebih diutamakan jadi orang baik lebih dahulu, bukan jadi orang pintar dulu. Poinnya tentu saja bukan kemudian menjadi santri itu tidak boleh pintar. Tidak, bukan itu. Titik tujuan praktik ini sebenarnya adalah mengajarkan seseorang yang belajar agama diutamakan agar dirinya membiasakan berperilaku baik pada mulanya. Menolong orang lain, bersabar ketika dihina, membantu nenek-nenek yang mau menyeberang jalan, yah, pokoknya mirip-miriplah dengan apa yang ada di buku pelajaran PMP zaman orde baru.
Harapannya, saat kemudian si santri kemudian diisi dengan pelajaran-pelajaran agama yang lebih rumit. Penerapan ilmu di masyarakat nantinya tidak hanya soal konsep benar atau salah saja, namun juga soal cara penanganan yang baik atau buruk juga.
Sebabnya tentu saja didasari karena agama berisi mengenai ajaran kebaikan. Kan jadi percuma situ mengajarkan kebaikan tapi menyampaikannya tidak dengan cara baik-baik. Membentak-bentak, mata merah menyala, otot leher keluar semua kemana-mana sampai tidak pulang-pulang, misalnya.
Toh, sekalipun yang situ ucapkan adalah kebenaran dan ada dalilnya—soheh lagi, kebenaran yang situ sampaikan akan terasa kasar dan bakal terlihat mengerikan. Tuhan tidak semenakutkan itu kok, jadi tidak usahlah diseram-seramkan begitu. Daripada menunjukkan kebenaran lewat cara-cara panasnya api neraka, mengapa sih tidak menyampaikan kebenaran dari perspektif betapa teduh Tuhan pemilik semesta?
Ini penting, karena menjadi pintar itu bisa diupayakan semua orang, dan semua orang mau melakukannya. Namun menjadi orang baik, itu perkara yang berbeda. Alasannya tentu saja karena kebaikan tidaklah semewah kebenaran. Menjadi orang baik tidak sekeren jadi orang pintar.
Orang pintar mah enak, cari duit gampang, mobilnya keren-keren, kalau bicara didengarkan banyak orang, sekali mengatakan “salah” pada orang lain, semua orang akan mengamini. Banyak yang mendukung, tidak hanya santri-santrinya saja, namun kadang pejabat-pejabat pula.
Coba bandingkan dengan orang baik—terutama golongan orang baik yang tidak merasa dirinya pintar, baru ngomong perkara bid’ah saja, sudah dicacimaki habis-habisan. Baru menghimbau untuk mudah memaafkan orang lain saja sudah disesat-sesatkan.
Namun apakah dengan begitu orang baik akan marah?
Oh, jelas tidak. Orang baik memiliki pondasi adab yang lebih baik. Golongan ini punya pondasi akhlak yang luar biasa. Ya, karena pendidikan golongan orang-orang ini didasari dari bagaimana membangun peradaban lebih dahulu, bukan bagaimana mencetak dan membesarkan orang-orang pintar lebih dahulu.
Ingat, keilmuan lebih erat kaitannya dengan peradaban daripada orang-orang pintar dadakan.
Jadi, situ mau beradab atau cuma mau pintar saja?
*Dimuat pertama kali di mojok.co yang sudah tutup itu lho...#hiks. Tulisan mas Khadafi Ahmad dengan judul asli "Situ Mau Beradab atau cuma Mau Pintar?" sengaja saya arsipkan di blog pribadi sebab pas pertama kali baca kok ya sering membikin saya manggut-manggut dan menemukan banyak kontemplasi. #halah.. Nyuwun ijin njih, mas Daf.

@mkusmias yang masih berharap muncul keajaiban dunia ke-8 berupa dibukanya kembali mojok.co 
Prof. Inu saat memberi kuliah PIR34

Saya tak menyangka, dengan ikut PIR34 lalu, akan ketemu dengan banyak tokoh besar. Salah satunya Prof. Inu Kencana. Namanya booming saat terbongkarnya kasus IPDN 2007.

Tentu saya takjub saat beliau berkisah bahwa ia seorang diri membongkar banyak hal yang keliru di dalam instansinya. Dari kekerasan fisik (yang mengakibatkan puluhan mahasiswa IPDN meninggal), pelacuran, hingga praktik aborsi.
Tentu saya takjub saat beliau berkisah bahwa ia tak takut. Meski dipecat, dimusuhi dan konsekuensi kebenaran lainnya. Orang seperti beliaulah kita mesti meniru: yakni orang yang "urat nadi takut" nya sudah putus. Semangat dan keberaniannya yang mengucur deras berasal dari satu sumber, yakni karena Semangat Qur'an.
Begitu jujur. Jujur ucapannya bahwa yang hitam memang harus dinilai hitam. Yang putih memang mesti dicap putih. Tidak ada abu-abu.

Begitu jujur. Jujur perilakunya. Bahwa jika tindakan itu salah maka harus dihentikan. Tidak memendam kebenaran. Pun tidak menyembunyikan keburukan. Semua terlihat sangat jujur dalam ucapan dan perilakunya.

Beliaulah contoh, kawan. Hidup memang semestinya BERANI. Dan lagi-lagi saya kembali terngiang, "kejahatan terjadi karena banyak orang baik yang diam."

Sukoharjo, 6 Syawal 1437 H
@mkusmias yang belajar untuk Berani


ilustrasi

Ada sebuah kekata yang berbunyi, “Penulis itu pekerjaan setiap saat. Saat ia tak menulis di atas lembaran putih, saat itu pula ia sedang menulis manusia.” Menulis manusia berarti mendidik manusia, mengajari manusia, sehingga di dalam manusia didikannya itu tertanam nilai-nilai yang telah diajarkan oleh sang ‘penulis’. Karena sungguh, menulis di atas lembaran putih ataupun menulis manusia sama-sama penting. Sekali lagi, PENTING!

Ngomong-ngomong soal menulis manusia atau mendidik manusia, saya inget kisah ini. Di salah satu kesempatan saya mengajar, ada salah satu siswa berkomentar, “Us, itu gak penting dihapalin, Us. Gak ditanya malaikat kok nanti.” Kira-kira begitu tanggapan siswa berpostur agak gemuk bernama,,, sebut saja Jaguar, bukan nama sebenarnya. :D. Saat itu saya mengajar Biologi Bab Klasifikasi Makhluk Hidup. Yah, namanya juga klasifikasi, pastinya nyebutin nama-nama ilmiah tanaman dan hewan, yang nama-namanya bikin lidah sering kepleset saking susahnya disebutin. (Xixixi). Saya bertanya-tanya, kok bisa ya anak-anak masih berfikir seperti itu, apalagi beberapa temen-temennya meng-iya-kan perkataan Jaguar, "iya Us... gak penting kok." Saya berasumsi, kecil kemungkinan  anak-anak ini bisa berfikir seperti itu 'sendiri'. Tentu buah pikiran seperti itu bisa jadi berasal dari pola pikir keluarga, atau bahkan sistem yang berada di sekolah tempat mereka menimba ilmu? Karena, sistem entah di keluarga ataupun sekolah pasti akan melahirkan minded yang akan diikuti. Lalu saya bertanya-tanya, adakah yang salah dari pola pikir bawaan keluarga, atau mind set dari sekolah?

ilustrasi

Dalam hati sebenernya mau nimpalin, “ya keles kayak gitu ditanyain malaikat di alam barzah ntar . kaga ade ceritanya nak...”. Untung ane masih sadar kalau ane disebut guru di kelas itu. Jadinya masih inget kudu bilang, “iya sholih, malaikat ntar gak nanya kamu Homo sapiens atau bukan. Tapi dari sini kita kudu bisa berfikir, dari Ilmu Biologi yang sekarang kita pelajari ini bisa mengenal Allah apa engga? Trus, kita bisa manfaatin apa dari belajar Biologi? Jadi ilmu dunia itu juga perlu dipelajari ya sholih, agar bisa diambil manfaatnya. Kalau ntar jadi peneliti kan bagus kalau bisa jadi peneliti yang selain pinter tapi juga hafidz. Kalau ntar jadi dokter, kan bagus kalau dokternya selain pinter juga sholih. Insyaa Allah malah jadi sarana ber?? Ber apa? Berdakwah.... Kalau di tempat kita banyak dokter yang hafidz, banyak insinyur yang dekat sama Allah, akuntan yang sholih, ujung-ujungnya siapa yang diuntungkan? Kan kita sendiri.”

Oke, ngomong-ngomong soal sekolah, sekarang alhamdulillah sudah banyak berdiri sekolah-sekolah Islam Terpadu, sering disingkat ITe. Sekolah IT bisa jadi adalah sebuah alternatif kalau kita ragu memasukkan anak-anak ke sekolah negeri, kalau kita mengkhawatirkan asupan keagamaan di sekolah negeri yang masih minim. Atau jika beranggapan bahwa sekolah negeri lebih banyak mengadopsi sistem sekolah sekuler. Sekolah IT memang seharusnya menjadi alternatif. Dan seharusnya kita memang kudu berbangga karena sekolah-sekolah IT semakin menjamur di negeri ini. Itu artinya, banyak kaum muslimin yang semakin bersemangat untuk menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai dan kultur keagamaan melalui sekolah formal. Bahasa Muhammadiyyah-nya; berkemajuan.

Tapi sangat disayangkan, jika niatan itu terkesan setengah-setengah, belum sepenuh hati. Misalnya fenomena anak yang masih berfikir seperti penggalan kisah saya saat mengajar seperti di atas. Nampaknya masih ada yang perlu dikoreksi dari sistem sekolah IT. Yeah, may be,....

Jika ‘keberatan’ dengan sistem sekolah negeri yang dinilai sekuler, karena memisahkan nilai-nilai agama dengan ilmu pengetahuan umum, seharusnya sekolah IT memang benar-benar menjadi alternatif sekolah yang tidak terkesan seperti sekolah sekuler. Toh ‘Islam Terpadu’ yang disematkan dibelakang nama sekolah itu sendiri bermakna menyatu-padukan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum agar diilmui secara menyatu, berkesinambungan, berkaitan, tidak terpisah-pisah, dan tidak sekuler.

Saya khawatir, jika pada prakteknya, kita sebagai orang tua ataupun guru, masih menganggap ilmu pengetahuan umum itu tidak penting lalu berkata kepada anak-anak atau murid-murid kita, ‘anak-anak, ilmu umum gak usah diseriusin gak papa, itu gak penting, nanti gak ditanya malaikat di alam kubur. Yang penting bisa baca dan hafal qur’an aja.” Mmmm.... Selain sedih jika masih ada yang bertutur begitu, saya juga khawatir. Tentu saya sedih, seolah saya jadi ciut, karena basik saya di bidang ilmu eksak. Gelar saya bukan Sarjana Agama. Pun saya khawatir, jangan-jangan kita belum sepenuh hati membangun sekolah dengan label Islam Terpadu. Saya juga khawatir, selama ini kita sering menilai sekolah negeri itu sekuler, jangan-jangan kita sendiri juga bisa dinilai sekuler tanpa sadar, karena menganggap ilmu pengetahuan umum tak penting dipelajari dan tidak ada manfaatnya untuk Islam, atau setidaknya memandang sebelah mata ilmu pengetahuan umum sehingga terkesan masih memberi sekat antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Bukankah itu sama-sama sekuler? Sama-sama memisahkan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum. Lalu, untuk apa ikut ‘latah’ bahu membahu mensukseskan sekolah islam terpadu jika tak konsisten antara nama dan tujuan? untuk apa? :) #kalem

Sebagai orang tua ataupun guru yang baik pasti setuju bahwa semua ilmu itu bisa bermanfaat. Jika saat ini belum banyak yang menyuarakan dan membuktikan manfaat ilmu pengetahuan umum untuk islam, bukan berarti tidak ada manfaatnya. Mungkin kita sendiri sebagai orang tua ataupun guru belum berhasil menjelaskan dan memahamkan anak bahwa semua ilmu itu sama-sama penting dan memiliki banyak manfaat. Ilmu dunia penting dicari, sedangkan ilmu agama penting dipelajari. Karena pada hakikatnya, ilmu itu milik Allah. Sedangkan peran kita adalah mempelajari dan memanfaatkan ilmu yang kita miliki semampu yang kita bisa. Bukan begitu?

Ibarat pisau, ilmu itu tergantung siapa pemiliknya, bukan? Jika pemiliknya adalah good person tentu pisau itu akan menjadi manfaat yang berlimpah, at least buat ngrajang bawang di dapur. Sebaliknya, jika pemiliknya seorang preman, tentu pisau akan dipakai untuk berbuat kejahatan, minimal buat malak. Hehe.

Jadi, jika kita adalah pihak yang ingin memberikan alternatif pendidikan berupa sekolah IT alias Islam Terpadu, maka sebaiknya kita mengembalikan makna IT itu sebagaimana khitohnya. Tidak mendiskreditkan ilmu pengetahuan umum, pun juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Toh saya yakin, kita semua sedang mengusahakan yang terbaik untuk agama yang mulia ini dan untuk generasi penerus kita di negeri ini. Meski kadang kita sering lupa main purpose yang kita perjuangkan. Bukankah kita kudu saling mengingatkan? :) Anggap saja dengan ini saya sedang bercermin karena toh kenyataannya saat ini saya juga terlibat di dalam instansi pendidikan berbasis islam terpadu itu. Juga, anggap saja cermin yang saya pakai itu adalah cermin yang lebar binggo alias gede banget, bisa dipakai nyermin berjama’ah. Anggap saja saya juga sedang mengingatkan kembali khitoh pendidikan untuk muslim yang ideal, meski saya belum begitu expert bidang pendidikan. Ini sebatas yang baru bisa saya pikirkan dan ketahui. So, jangan takut jika ada yang mengoreksi. Semua akan baik-baik saja jika masing-masing niatnya memang untuk menjadi lebih baik.

The last, saya ingat betul yang disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, “pendidikan tidak hanya mencetak orang-orang baik. Lebih tinggi lagi, pendidikan mencetak orang baik yang memiliki ilmu pengetahuan. Dengan ilmunya bisa bermanfaat untuk agama maupun untuk orang lain.”

Wallahu a'lam.

al-faqir ilallah,
@mkusmias dengan teh hangatnya






Tepat tanggal 26 Juni 2015 lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat resmi memutuskan bahwa pasangan sejenis di seluruh negara bagian di Amerika Serikat memiliki hak untuk menikah. ini dianggap sebagai kemenangan besar bagi Amerika, terutama oleh kelompok yang menuntut kebebasan menikah pasangan sejenis.

Tak hanya mereka, banyak pihak yang ikut ‘merayakan’ putusan dari hasil perbandingan 5:4 suara itu, termasuk Mark pemilik Facebook.

“Celebrate Pride” namanya. Tool yang disediakan Facebook yang memungkinkan para penggunanya mewarnai foto profil mereka dengan warna-warni seperti pelangi.
Banyak yang kemudian menambahi warna-warni pada foto profil di akun Facebooknya. Entah mereka tahu maksud warna-warni itu atau hanya sekedar latah karena memanfaatkan tool yang baru disediakan Facebook.


Sedih memang. Bagi muslim yang percaya dengan kisah Al-Qur’an yang pernah terjadi di masa lalu tentang azab yang menimpa kaum Luth, sangat menyayangkan putusan Mahkamah Agung Amerika tersebut. Tentu tak ingin negara di dunia ini satu demi satu mendukung perbuatan nista itu dilegalkan. Amerika bukan negara yang kali pertama melegalkan perkawinan sejenis ini. sebelumnya telah didahului Belanda, Spanyol, Kanada, Afrika Selatan, Selandia Baru, Irlandia, dll.

Bagi Anda yang muslim, pengguna facebook, plish tak perlu ikut-ikutan mewarnai foto profilnya, jika tak ingin dianggap mendukung “kemenangan’ itu. Hanya dengan mewarnai saja bisa dianggap mendukung? ya, setidaknya itu termasuk menyerupai mereka pejuang bendera warna pelangi itu.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (H.R Abu Daud)

Sungguh aneh memang. Jaman semakin modern dan waktu semakin bergerak maju. Tapi tingkah dan pola pikir manusia justru semakin terbelakang. Sudah pernah Allah mengazab perilaku manusia di jaman dahulu yang melegalkan kawin sejenis semacam ini. Apakah Amerika dan negara-negara yang melegalkan perilaku menyimpang ini ingin ditayangkan secara live azab Allah dinegeri mereka? Naudzubillah..

“maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.” (Hud: 82)


Itulah produk kebebasan yang kebablasan. Liberalisme tak mengenal batas. Sekarang mereka melegalkan kawin sejenis. Besuk mereka menagih kebebasan dengan melegalkan kawin dengan hewan. Na’udzubillah. 
#sayNoToLGBT
Kasus Rohingya seakan menjadi perhatian dunia saat ini. Kasus yang muncul beberapa tahun belakangan ini kembali menjadi sorotan publik. Muslim Rohingya mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari masyarakat Budha Arakan, Myanmar. Pembakaran kampung, pembantaian, manusia dibakar hidup-hidup, sampai pada puncaknya terusirlah mereka dari kampung halamannnya. Kaum Rohingya yang mayoritas muslim ini lebih memilih mati di negeri orang dari pada bertahan di negara mayoritas Budha itu. Masyarakat dunia tak sedikit yang mengecam tindakan Budha Arakan tersebut. Sungguh tak manusiawi. Tindakan kriminal yang sangat jauh dari istilah manusiawi.

Namun nampaknya ada yang ganjal. Tindakan tak beradab yang sedemikian rupa, sama sekali tak disebut teroris. Dunia mencibir dan mencela Budha Myanmar karena memang sudah sepatutnya. Namun apakah tindakannya lantas diembel-embeli kata “teroris”? Sungguh berbeda jika yang melakukan kriminal tersebut adalah seseorang atau sekelompok orang dengan atribut agama islam. Khalayak langsung mencercanya dan melabelinya dengan teroris. Padahal jika kita merujuk pada definisi yang sebenarnya, kriminal-kriminal yang dilakukan Budha Myanmar mengarah pada tindakan terorisme.

Sudah pernah membaca defini teroris di dalam Kamus? Belum? Oke, saya nukilkan. teroris adalah pelaku tindak teror. Sedangkan menurut KBBI teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Teroris bisa juga diartikan sebagai pelaku tindak kekerasan yang menimbulkan rasa takut dan tidak aman di kalangan masyarakat. Mengancam, menganiaya, hingga membunuh adalah beberapa contoh tindakan teror.

Namun sayang sekali, definisi dalam anggapan manusia sering tak adil. Teroris dimaknai dengan sangat sempit. Ia diarahkan hanya pada ajaran agama tertentu, yaitu Islam dengan segala atributnya. Padahal jika kita mau jujur, bolehlah kita menyebut  Budha Myanmar adalah teroris. Jika kita mau jujur, seharusnya kita menyebutnya demikian. Tindakan kriminal Budha Myanmar yang mana lagi yang tidak mengarah pada definisi teroris?

Disinilah telah terbukti, dan seharusnya bisa membuktikan kesalahan anggapan masyarakat bahwa teroris identik dengan islam. Telah terbukti tidak demikian, bukan? Bahwa islam yang selalu dikaitkan dengan islam adalah anggapan yang salah kaprah. Teroris tidak identik dengan islam. Islam bukan teroris. Teroris tak mesti bercirikan dengan jenggot, karena nyatanya teroris yang baru berulah justru botak. Teroris tak identik dengan islam, karena pelakunya yang baru-baru saja terjadi beragama Budha. Kejadian di Arakan ini semestinya menjadi wasilah untuk membuka mata dunia bahwa sekali lagi, Teroris tidak identik dengan islam dan Islam bukan teroris. Maka, jangan lagi kita melabeli Islam dengan teroris. Sepakat?

Anda penggemar film superhero ? Jika Anda sudah terlahir sebagai seorang anak-anak atau remaja di era 80-an, tentu tak asing dengan tokoh hero satu ini, Robocop. Film fiksi ilmiah tentang robot atau cyborg yang satu ini memang menjadi populer pada era perdananya tahun 1987. Seperti ingin mengembalikan popularitasnya, film ini
Istilah Go Green popular pada era modern ini yang diartikan sebagai langkah atau upaya menjaga hijaunya bumi akibat pemanasan global. Hal ini dilakukan sebagai respon terhadap perubahan kondisi alam yang mulai “rapuh”. Go green penting dilakukan untuk mengembalikan kelestarian alam. Kita sebagai manusia mencintai yang namanya kesejukan. Salah satu sumber kesejukan adalah alam.
Tahukah Anda? Islam yang risalahnya disampaikan oleh Muhammad saw, mengajarkan kita untuk memiliki pola hidup yang cinta lingkungan? 


Yap, seorang muslim telah diajarkan untuk Go Green. Meski istilah ini baru popular pada masa sekarang, namun hakikat dari makna ini sudah diajarkan oleh nabi Muhammad saw.
Menanam pohon adalah salah satu upaya Go Green, upaya melestarikan lingkungan. Melalui sebuah hadits, Muhammad saw ingin mengajak umatnya untuk selalu mencintai lingkungan dengan menanam pohon.

“tidaklah seorang muslim menanam pohon atau tanaman, lalu burung, manusia, atau hewan memakannya, melainkan akan menjadi sedekah baginya…” (hadits riwayat Al-Bukhari: 2320, Muslim: 3950).

Imam an-nawawi menjabarkan, “di dalam hadits ini terdapat keutamaan pohon dan tanaman. Pahala pelakunya akan senantiasa mengalir selama pohon dan tanaman itu ada, bahkan sesuatu (bibit) yang tumbuh darinya, sampai hari kiamat..” (Syarah Shahih Muslim).

So, sebagai seorang muslim yang memperhatikan risalah rasulullah saw, hendaknya merenungi hadits di atas. Islam sudah lengkap ajarannya, termasuk peduli dengan alam sekalipun. Menanam pohon bisa jadi adalah tindakan kecil. Namun, bayangkan jika setiap orang berfikir dari hal yang sederhana seperti ini, insyaa Allah akan terlihat manfaat yang besar. Untuk pribadi kita sendiri, akan mendapat manfaat karena kebaikan kita mengikuti ajaran Muhammad saw.

Jadi mulai sekarang, setelah makan buah-buahan yang ada bijinya, boleh deh kita tanam bijinya agar menjadi pohon. Bisa jadi manfaatnya tidak langsung dirasakan. Namun, pahala dalam catatan amal kita sudah mulai dicatat sejak kita berniat untuk melakukan kebaikan ini.
Yukz, tanam pohon.. karena Muslim itu Go Green !!!

#MuslimKeren :) 



meski ngepost-nya kelewat dua hari dari tanggal 28 kemarin,, tapi yang namanya ilmu gak apa-apa kan dishare kapan aja. Dua hari yang lalu hari sumpah pemuda yah?? hemmm.. ini ni sumpah pemuda, bukan sumpah miyapah,,, hehe...

SUMPAH PEMUDA

Sumpah . .
Indonesia saat ini sedang dalam masalah
Indonesia saat ini sedang menangis resah
karena pemuda zaman ini lupa dengan sejarahbagaimana para pahlawan mengukir kisah
dengan bambu runcing berlumur keringat dan darah
dengan semangat membara pantang menyerah
Sumpah . .
para pemuda sudah kehilangan arah
tak tahu mana yang benar, mana yang salah
waktu mereka habis untuk berkeluh kesah
dan mereka tidak memulai dengan melangkah
demonstrasi dan tawuran menjadi solusi yang gegabah

Sumpah . .
Indonesia mencari pemuda harapan yang gagah
pemuda yang hadir sebagai pencerah
pemuda yang memberikan uswah hasanah
pemuda yang menggugah dan mengubah
mendobrak kemungkaran dengan ilmu amaliyah

Kaulah harapan bagi Indonesia yang cerah . .
wahai para pemuda kaffah . .
sumpah . .