Showing posts with label Oase. Show all posts
Showing posts with label Oase. Show all posts
Gambar: numuda.co.id

Ini sebenarnya sudah lama saya baca.  Tapi betapa iuh-nya saya ini, selalu beralibi sama diri sendiri dan meneruskan bermalas-malas ria, akhirnya tidak jadi nuli-nulis juga.

Halaman ke 7 dari Tafsir Al-Azhar Jilid 1, menjadi semacam belati yang menusuk-nusuk kerasnya hati. Seperti biasa, dengan bahasanya yang nyaman dibaca, Hamka menuliskan ulasannya tentang Al-Qur’an sebagai semacam pengantar Tafsir Al-Azhar yang jumlah jilidnya ada 9 itu.

“Arti Al-Qur’an menurut bahasa (lughoh) ialah barang yang dibaca. Al-Qur’an itu menurut undang-undang bahasa adalah kalimat mashdar, yaitu pokok kata, yang berarti bacaan, tetapi diartikan lebih dekat pada sesuatu yang dikerjakan (isim maf’ul), menjadi artinya yang dibaca.”

Kebanyakan kita, termasuk saya, sudah terlalu biasa mendengar kata itu (Al-Qur’an) disebut beserta penjelasan maknanya, bukan? Tapi kali ini kok ya rasanya sedikit beda, saat membaca ulasan lanjutan beliau yang menyederhanakan penjelasan di atas itu:

“Baik dari asal ambilan bahasa maupun setelah dia diistilahkan, keduanya itu telah tergabung menjadi makna yang satu, yaitu bahwasanya Al-Qur’an memang dibaca.”

Hakjleb banget pas baca kalimat di atas itu, terutama 3 kata terakhir. Al-Qur’an itu ya memang dibaca. Apa lagi?! Jika sudah beli Kitab Al-Qur’an, selanjutnya ya dibaca! Mau ngapain lagi?! Membelinya hanya untuk dipajang, jimat di dalam rumah, atau hiasan biar mendapatkan citra keashalihan? Atau malah untuk sekedar teman kotak uang biar uangnya aman tidak dicuri tuyul? Bukan, udu kui yang dinamakan Al-Qur’an, cinta.

Ini semacam autokritik untuk diri sendiri. Meski sudah menjadi se-“akhwat” kayak apa juga, kalau punya Al-Qur’an itu ya mestinya dibaca. Lebih lagi, mau se-“aktivis” dan sesibuk apa juga, membaca Al-Qu’an itu semacam “kudu”. Rajin ikut taklim pada 10 ustadz per minggu tidak akan mengubah makna Al-Qur’an yang artinya sesuatu yang dibaca itu. Baju kita yang se-syar’i dan terlihat se-sholih bagaimana pun, bukan menjadi penggugur tugas kita membaca Kalam Allah itu, Hayati.

Penjelasan Hamka bab Qur'an ini kok ya jleb banget memang. Lebih lagi di zaman now yang rasa-rasanya gadget lebih sering kita elus-elus ketimbang lembaran Qur'an. Kita ini sebenarnya bisa tanya pada cermin (diri sendiri), lebih sering pegang-pegang mana hayoo, hp atau qur'an? Lebih sering baca mana hayoo, broadcast yang gak jelas -yang kadang malah cuma hoax- atau ayat-ayat Qur'an? #ngomongsamacermin #ehehe

Saya sering malu sendiri saat mendapati teman-teman yang konon baru “hijrah” mendalami Islam. Mereka ini saat membaca ayat suci masih terbata-bata, pakaiannya pun masih terlihat biasa –tak serapat seperti para ukhti yang mengenakan hijab syar’i-, tapi mereka tak pernah malu saat suaranya yang terbata-bata dan terputus-putus itu membaca huruf demi huruf setiap ayat yang dilanjut ayat itu. Rasanya saya bisa membaca semangat kawan-kawan ini sejelas tulisan, “mulai sekarang aku mau merutinkan baca Qur’an. Dan belajar kalau belum bisa”.

Para ukhti dan akhi yang bukan orang baru di komunitas ngaji -yang lebih sering malasnya ketimbang rajin baca Qur'an kayak saya-, tentu mestinya ikutan malu bareng saya. #hehe.

Betapa kita ini memang lebih banyak lupa daripada ingat, lebih sering malas daripada rajin. Kalau sudah begini, kita tengok saja ke dalam diri kita sendiri-sendiri. Hari ini, sudah baca Qur’an belum? Berapa lembar? Ayat mana yang sudah diamalkan?

Setelah membaca dengan tartil, tak kalah penting adalah "membaca" ayat-ayat Qur'an. "Membaca" dengan pemaknaan dan pikiran. "Membaca" yang semacam ini kita sudah dimudahkan dengan adanya kitab-kitab ataupun kajian tafsir.

Inilah gunanya daya pikir untuk manusia. Lha katanya manusia itu makhluk spesial yang punya nalar? Lha kalau nalarnya nggak dipakai buat "membaca" Qur'an, apa bedanya manusia dengan tumbuhan yang hanya bisa melambai-lambai daunnya saat diterpa angin itu? Tidak beda dengan ayam, burung, dan jenis hewan lain kalau manusia enggak "membaca" isi Qur'an? Sungguh, tidak ada bedanya dengan wit kates depan rumahku. #huehuehue

Setelah membaca dan "membaca", ada tugas lain lagi yang juga tak boleh ditinggalkan. Yap, diamalkan dengan segenap pemaknaan. Sebab jangan sampai kita ini termasuk seperti yang diperingatkan Rasulullah,

"... dan membaca Al Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka..." (H.R Bukhari)

Kalau kata Ibnu Hajar Al Asqalani, maksud tidak melewati kerongkongan adalah, "bacaan yang tidak diterima di sisi Allah." Lha iya, lha wong Qur'an cuma dibunyi-bunyikan saja kok, tidak "dibaca" lebih dalam, apalagi diamalkan, apalagi dihafalkan. Sukur-sukur dimuraja'ahkan. #ya Allah menohok syekali kali ini

"Sebab Al-Qur'an itulah yang telah membentuk kebudayaan dan peri-hidup penganut Islam, yang ditegakkan di atas budi, memperhalus perasaan, memperkaya ingatan dan melemahlembutkan ucapan lidah", tutup Hamka pada bab ini.

Jadi, sudah sampai halaman berapa batas penanda Qur'an kita yang unyu-unyu itu? Yuk nambah ayat, nambah halaman, sukur bisa cepet nambah juz!

@mkusmias yang tersentil abis dibacakan Al-Azhar sama mas bojo

Referensi:
Hamka, Prof.Dr. 2015. Tafsir Al-Azhar Jilid 1. Gema Insani:Jakarta. Hal: 7-8.


Entah mau sampai kapan saya terus-terusan membiarkan si lepi-delli tak lagi cenunak-cenunuk keyboardnya hingga tersusun dan terisi sebaris dua baris demi mengisi hampanya ruang blog. (Ruang hampa-hatinya yang nulis kapan diisi? #eaakkk). Si lepi-delli kudu dipaksa biar terbiasa keyboarnya cetak cetuk lagi. Biar blognya tak berdebu lagi. Biar hati kembali bersorak, “yes, iso curhat nang blog meneh”. #huehehe. Oh ya, maapken ya jika terdapat istilah-istilah aneh. Somehow, dalam beberapa tahun belakangan ini saya sering menamai beberapa benda milik pribadi. Misalnya saja, motor Supra merah, saya beri nama Si Supri (jadi selama ini, “Supri” yang nemenin kemana-mana itu maksudnya Supra merah tho? Yes. That’s rigt. Haha). Sampai leptop hitam, saya beri nama Si Lepi-Delli, atau kadang Si Delli. Tentu karena mereknya D*ll. Entah kebiasaan ini muncul sejak kapan. Yang pasti, bukan sejak ladang gandum berubah menjadi kokokrans. Haha.

Kemarin hari, ada anak sebelah yang maen ke rumah dan minta diajarin menyelesaikan Pekerjaan Rumah-nya (PR dari sekolah tentunya. Alhamdulillah yah, sudah paham kalau PR itu pekerjaan rumah, yang maknanya kudu dikerjakan di rumah. Bodo amat deh mau dikerjakan di rumahnya sendiri, di rumah neneknya, atau bahkan kalau perlu dateng dan ngerjain di rumah gue. Yang penting kan di rumah. Titik. Hehe #abaikan kalo garing.haha). Bocah gendhut (yang kadang saia ngiri kok bisa gendhut gitu, sedangkan saia, makan udah hobi tapi berat badan enggak pernah mendaki (baca: naik) #wuehehe) sedikit kesulitan mengerjakan PR menuliskan beberapa kalimat ke dalam aksara Jawa. Huaduh. Rasanya pengen tutup muka. Bagaimana tidak, sesaat saya langsung melihat ke dalam diri sendiri dan sesumbar, “Duh, wong njowo sing wis ilang jawane, kui yo aku iki”. Orang Jawa yang sudah hilang Jawanya, ya aku ini. Dengan kekuatan cahaya bulan pikiran yang mengingat-ingat satu demi satu aksara Jawa, singkat cerita, PR-nya bisa terselesaikan dengan khusnul khatimah alias akhir yang baik. #yei.

Mengingat-ingat Bahasa Jawa, saya malah teringat dengan pepatah Jawa. Yeah, meskipun belajar Bahasa Jawa kadang membuat diri bergumam “iyuh” dan serasa menjadi kuno, lama-lama saya pikir ada hal-hal yang masih berlaku-baik juga dari ‘kekuno-an’ pelajaran Bahasa Jawa. Misalnya saja, kekata “Urip Iku Urup”. “Urip” berarti hidup, “iku” berarti itu, dan “urup” berarti menyala (atau berarti “hidup” juga). Jika diterjemahkan secara harfiah berarti “Hidup Itu Menyala”.

Satu pepatah Jawa ini sekonyong-konyong koder membuat hatiku berlomba jadi mak jegagik. Kalau kita mau meresapi sari pati kekata ini, niscaya akan kita dapati hal mulia yang terkandung di dalamnya, wahai teman-teman yang dirahmati Allah. Ternyata, dari zaman dahulu, saat tiwul masih menjadi makanan terlezat, hingga zaman sekarang yang terdengar kabar gembira bahwa manggis kini telah ada ekstraknya, banyak petuah-petuah Jawa yang tidak ada salahnya kita teladani. Contohnya ya petuah yang satu ini.

Urip iku urup. Bermakna, hidup itu menyala; memberi cahaya untuk lingkungan sekitar. Urip iku yo urup, hidup itu ya memberi manfaat untuk orang lain. Menyala untuk menerangi kegelapan, dan memberi terang agar tak ada lagi yang tersesat mencari arah jalan pulang. Urip iku kudu urup. Tak jaman lagi hidup hanya mementingkan diri sendiri. Masalah-masalah tak akan bisa selesai hanya dengan sikap yang hanya bisa “mengutuki” tanpa berbuat sesuatu yang memberi arti, bukan? Urip iku sejatine gowo manfaat kanggo wong urip liyane. Translate: hidup itu sejatinya membawa manfaat untuk orang hidup yang lain.

Lho lha iya, kecuali kalau dulu sejak dalam kandungan, kita tak bergantung pada orang lain (ibu) dalam hal mendapatkan makanan. Kecuali bila dulu kita bisa terlahir begitu saja tanpa turun tangan para bidan yang cantik dan bahkan dokter yang baik. Kecuali jika sejak dari dulu kita bisa langsung berjalan tanpa perlu belajar tertatih terlebih dahulu dan ditatih ibu dan bapak. Kecuali apabila sejak dulu kita bisa mandi sendiri dan memakai baju sendiri tanpa ada uluran lembut tangan mama. Kecuali jika sejak dulu kita bisa langsung pintar membaca-menulis tanpa diajari oleh orang tua dan bapak-ibu guru yang terhormat di sekolah. Kecuali jika kita bisa merakit kendaraan sendiri, mengebor bumi sampai dapat bensin sendiri. Kecuali jika nasi yang kita makan, padinya kita tanam sendiri, kita panen sendiri, sampai kita selep dan masak sendiri berasnya. Kecuali kalau sejak dulu tidak ada orang lain yang terlibat dalam hidup kita. Kecuali itu semua, maka boleh lah kalau mau jadi egois. Egois lah. Egois saja, sok atuh. Namun nyatanya, selalu ada orang lain yang hidupnya tidak untuk diri mereka sendiri. Hidup-hidup mereka selalu bersinggungan dengan hidup kita.

Hidup ini rantai ketergantungan. Satu sama lain salin tersulam dan membutuhkan. “Karena manusia makhluk sosial,” begitu kata guru IPS dulu. “Jadi tolong diingat, hidupmu bukan untuk dirimu saja”, begitu kesimpulan emas dari abang Neji Hyuga.

Hidup itu seharusnya ya “hidup”, menyala. Menyala semangatnya, menyala kepekaannya, menyala rasa pedulinya, dan sejuta makna menyala lainnya. Hanya agar, pribadi ini tak lagi menjadi pribadi paling egois di dunia. Insan yang hanya berpikir “yang penting aku” kaya, “yang penting aku” bahagia, “yang penting aku” selamat, dan “yang penting aku” lainnya.

Lebih lagi, bagi rekan-rekan yang notabene rajin sekali ngaji dan tholabul ‘ilmi. Jangan donks sampai menjadi pribadi yang paling rajin mengaji, paling rajin tholabul ilmi, paling sholih sedunia, tapi menjadi paling apatis juga sejagat raya. Kan jadi lunyu, eh lucu. Seolah-olah, agama dan kepercayaannya masing-masing itu mengajari untuk menggapai setinggi-tingginya langit, tapi amnesia bahwa ia masih saja menginjak bumi. Tentu paling baik adalah bersikap pertengahan. Lho katanya agama ini agama pertengahan? Tentu dalam bersikap juga mesti pertengahan, bukan, kawans? Yakni, menyulam pahala hingga menganak-tangga dan melangit tinggi, dan tetap memberi jejak kebermanfaatan di bumi. Tentu agama kita tidak pernah mengajari kita menjadi pribadi yang egois, kan, temans? Yang hanya “menggapai” langit, namun lupa kita ini masih berada di dunia dan kaki masih menapak di atas bumi. Tidak. Lebih lagi Islam, tak seegois itu. Pikiran haruslah melangit tinggi, tetapi jiwa tetap harus down to earth.

Maka, urip iku kudu urup. Hidup itu kudu menyala, memberi arti di setiap sisi. Duh, bukan berarti saya sudah menjadi orang paling bermanfaat sealam raya. Belum. Belum sama sekali. Saya masih saja merasa hanya butiran debu, remukan rempeyek, yang masih apalah-apalah itu (#drama banget). Tentu, petuah ini saya sampaikan untuk diri sendiri yang masih apalah-apalah ini. Hanya agar, mau bergegas menjadi lentera dan mulai menyalakan hidupnya sendiri, syukur-syukur hidup orang lain. Tak lagi leyeh-leyeh di “kursi” nyamannya, “berbaring-baring santai” di kasur empuknya, dan berleha-leha di zona nyamannya.

Tentu, yang pertama dan paling utama, petuah ini saya sampaikan untuk diri saya sendiri. Hanya untuk menggerakkan mata agar mau melihat sekitar, menggerakkan tangan untuk membantu yang membutuhkan, menggerakkan kaki agar mau mendatangi orang lain meski hanya untuk bersilaturahmi, dan menggerakkan hati agar sudi ikut mendoakan kebaikan banyak orang. Hanya agar diri menjadi orang yang tersebut oleh rasulullah sebagaimana, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”. Urip iku urup. Maka, menyala-lah dan bersinarlah terus sampai nanti. Tulisan ini ku akhiri.

Mudah-mudahan, Allah mengampuni kita yang masih apalah ini, menjadikan pikiran kita melangit, dan hati kita membumi.

With love,
@mkusmias yang masih belajar untuk menyalakan hidupnya


“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana disebabkan kematian seseorang dan tidak pula kehidupannya, lalu, bila kalian melihat gerhana tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (H.R Bukhari)

Seakan keindahan alam tak akan pernah habis meski waktu semakin menua. Meski umur alam sudah tak lagi muda. Meski alam pun terkadang menampakkan sisi “geramnya” lewat benca-bencana. Namun, kenampakan yang diperlihatkannya, seringnya tak pernah membuat manusia luput untuk berkata “indah” dan memukau semua manusia yang masih punya mata dan jiwa.

Di tengah banyaknya bencana -entah itu bencana karena alam menampakkan cara-Nya untuk mengingatkan manusia, atau bencana yang melanda moral manusia-, menuju pertengah Maret tahun ini, Tuhan ijinkan alam untuk menunjukkan Kuasa-Nya.

“sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah."

Saya tak lagi ingin mendetilkan peristiwa yang semua orang sepakat ini “karya” Tuhan yang mempesona. Namun, kejadian dimana posisi matahari, bulan, dan bumi pas berada pada satu garis lurus ini, memaksa kita untuk bertanya pada zat kecil bernama hati. Lalu, apabila ia terhubung dengan ruh iman, ia seolah akan tertunduk sejenak seperti merunduknya tangkai padi yang semakin berat memikul bijinya. Seperti bengkoknya batang bambu karena semakin tinggi batangnya menjulang.
Hati, seolah seperti itu juga, merunduk kerena tetiba ingat beratnya biji-biji dosa yang seolah ia pikul di atas punggungnya, juga tetiba teringat beratnya siksa dari Tuhannya untuk mengganjar setiap dosa.

Hati pun seolah seperti itu, tertunduk seperti bengkoknya bambu, karena tetiba teringat tingginya keangkuhan yang semakin menjulang di dalam jiwa. Ia lupa bahwa ketinggian yang ia rasa itu hanya semu. Ilusi yang harus segera ia sadarkan. Dan karya Tuhan ini sejenak membuat tersadar. Dan mudah-mudahan sadar ini tak pudar seiring gerhana yang lambat-lambat sudah hilang.

“Keduanya tidak mengalami gerhana disebabkan kematian seseorang dan tidak pula kehidupannya”

Sebuah refleksi, bahwa dahulu, rasulullah mendapati gerhana matahari -seperti yang kita ‘nikmati’ saat ini-, lalu ia bergegas ke masjid dan mengajak manusia untuk shalat. Perasaan takut mengetuk hati rasulullah yang suci. Takutnya rasulullah tentu tak sama dengan takutnya penduduk Yunani tempo dulu yang menganggap Dewa-Dewi mereka sedang marah besar. Pun takutnya rasulullah bukan seperti mitos masyarakat desa yang menganggap makhluk bernama Buto Ijo sedang melahap sang surya, lalu hilanglah cahaya.

Bukan, tertunduknya hati beliau yang mulia karena pikirannya semakin ia dekatkan pada Yang Menguasai Matahari. Lalu hatinya sadari akan Kekuasaan Allah, bahwa tiada Dzat yang mampu meletakkan matahari, bulan dan bumi jika bukan Allah. Itulah yang rasulullah inginkan juga dari kita yang menyaksikan kejadian yang rasulullah dulu juga saksikan. Memaknai gerhana ini sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah. Seolah, rasulullah menegaskan hadits ini agar hilang semua mitos yang terlanjur terbenam dalam pikiran manusia-manusia saat itu. “Jangan ada mitos lagi dan jangan percaya mitos”, kira-kira seperti itu.

“lalu, bila kalian melihat gerhana tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah”

Sebuah pemaknaan yang lebih eksotis dari pemandangan gerhana itu sendiri. Yaitu memaknainya dengan menambah pundi-pundi ganjaran ibadah. Berdoa, bertakbir, shalat, dan bersedekah. Inilah yang Allah kehendaki pada kita saat kita melihat fenomena lalu hati kita tertunduk yang akhirnya menggerakkan kita untuk menambah amal dunia yang pahalanya langgeng sampai akhirat.

Berdoalah, mohonlah apapun kepada Allah yang menghendaki gerhana ini terjadi. Bertakbirlah mengangungkan asma Allah. Shalatlah, sembahlah yang menciptakan matahari, bulan dan bumi. Dan bersedekahlah, seolah rasulullah ingin mengingatkan kita bahwa serajin-rajinnya kita beribadah, janganlah sampai kita lupa untuk menebar manfaat. Ingat manusia-manusia yang miskin papa, lalu membantunya. Ingat kaum yang tak berdaya lalu menolongnya. Agar kita tak lagi lupa bahwa makna sedekah adalah amalan yang diperuntukkan pada Allah, namun manfaatnya untuk manusia. Artinya, shalehlah di hadapan Allah, tanpa lupa tebarlah manfaat di sekitar manusia. Karena kadang, saat kita menjadi shalih kita merasa bahwa itu sudahlah cukup. "ah, yang penting aku shalih", kata hatinya. Cukup menjadi shalih di hadapan Allah saja, lalu tak sadar kita menjadi pribadi yang egois. Lalu lupa untuk ingat kepada sesama manusia, bahkan semakin menjauh dari manusia. 

Keagungan Allah, terhapusnya mitos, mensholihkan diri, dan menebar manfaat. Sebuah refleksi yang merangkum empat makna dari kejadian alam bernama gerhana matahari. Mudah-mudahan, hati kita mudah untuk selalu memahami dan merefleksi setiap peristiwa.

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)” (QS: An-Nahl: 12)

salam baik, 

@mkusmias yang ingin menjadi lebih baik

“Bahagia itu sederhana,” tulis seorang teman yang mengunggah sebuah foto momen bahagianya. “Bahagia itu sederhana; bisa makan bersama dengan keluarga” lanjutnya pada sebuah postingan foto dengan background rumah makan bersama menu-menunya yang tergolong mewah.

Lagi, sebuah status yang membersamai sebuah postingan foto, “bahagia itu sederhana; jalan-jalan bersama orang terkasih.”. Foto yang diambil adalah moment bahagia bersama orang yang ia kasihi dengan background pemandangan yang elok nan menawan. Kira-kira, menuju tempat itu pun butuh mengeluarkan receh yang tak hanya seribu dua ribu.

Dan saya pun manusia yang tak luput dengan rasa kebahagiaan dan sesumbar kata yang sama, “bahagia itu sederhana. Bisa kembali lagi bersua dengan mereka,” sambil memposting sebuah foto kebersamaan dengan anak-anak kecil di pelosok Papua dengan berlatarkan pemandangan laut yang indah nan mempesona.

Setidaknya, saya yakin bahwa sesederhana itulah sebuah bahagia. Hingga saya mengalami satu peristiwa yang membuat saya bertanya-tanya tentang kebenaran bahagia yang sederhana versi saya itu.

Ceritanya seperti ini:
Seperti biasa, saya pulang dari daily activities sekitar pukul empat sore hari. Seperti biasa pula, saya melewati rute yang sama menuju pulang. Meninggalkan bilangan Jalan Veteran, berbelok ke arah STAIMUS Surakarta, sengaja nyidat memang. Setidaknya, baru itu jalan nyidat yang kutahu. Saat hendak membelok ke arah barat (ke kanan dari arah STAIMUS Ska), di perempatan sebelah utara SMK Farmasi Surakarta, seorang bapak-bapak penertib kendaraan membubarkan kantukku saat berkendara. (Hmm,,, saya masih sukar menghilangkan rasa kantuk saat berkendara. Sebenarnya agak berbahaya sih. Luputnya mengantuk, ya melamun. Ini juga kudu dihindari sebenarnya. Entah ya, kenapa ramainya jalan justru cozy banget buat menghimpun lamunan. Hehe.. Astaga…)

Bapak penertib kendaraan yang berlalu lalang itu menggerakkan tangannya memberi isyarat silakan lewat. Dengan suara yang ramah, ia menyapa, “assalamua’alaikum, yak hati-hati...” Wajahnya tertutup slayer hitam dan berkacamata. Kepalanya ditutupinya dengan topi hitam. Beberapa ubannya yang terlihat mencuat keluar menandakan kira-kira bapak itu berusia paruh baya. Saya tak begitu menghiraukan sapaan si bapak.

Hari berikutnya, terjadi peristiwa yang sama. Aku yang tak begitu hirau, melaju saja seperti biasa. Sampai di perempatan kecil itu, saat hendak membelok ke arah barat, kembali aku mendengar sapaan si bapak yang tempo hari menertibkan lalu lalang kendaraan. “Yak hati-hati di jalan, Assalamua’alaikum…” sapanya dengan suara yang terkesan sangat ramah.

Masih tak begitu kuhiraukan. Namun, saat aku melintas di bilangan Jalan Yos Sudarso itu untuk ketiga kalinya dan seterusnya, dengan sapaan yang hampir sama dari bapak-bapak bersuara ramah itu, saya lalu sedikit bertanya-tanya. Dan kini, hampir setiap hari saat saya melintas di jalan itu, hampir setiap hari pula kutemui sapaan yang sama. Kulihat si bapak itu menyapa hampir ke setiap orang yang lewat pula. Namun jika aku atau pengendara wanita berjilbab lebar, atau lelaki yang keliatan nyunnah secara lahirnya yang melewat, si bapak selalu menyelipkan, “Assalamu’alaikum” di awal sapaannya.

Yeah, sapaan yang sedikit menghiburku saat kelelahan setelah beraktivitas seharian mulai menggerogoti semangatku. The power of sharing, jika tidak berlebihan boleh kukatan demikian. Meski hanya sebatas salam dan sapaan ramah. Setidaknya, itu membuatku dan mungkin pengendara yang lain juga sedikit bersemangat setelah tersapa. Setidaknya, yang tadinya rada suntuk, menjadi sedikit tersenyum setelah tersapa. Setidaknya, yang awalnya rada badmood, datanglah goodmood setelah tersapa.

Yeah, I guess, kekata “bahagia itu sederhana”, agaknya lebih berkesan saat si bapak penertib itu yang mengucapkan. Sesederhana mengucapkan salam ke sesama, sesederhana melempar keramahan ke sesama. Barangkali bahagia yang sederhana yang tepat seperti itu adanya. Aku sedikit tertegur kecil. Aku sering mengucapkan bahagia itu sederhana, namun untuk mencapainya tak sesederhana seperti mengucapkan. Aku bilang bahagia itu sederhana, tapi ungkapan itu lahir saat bersama ayah makan di rumah makan yang tidak bisa dibilang sederhana. Aku sering bilang bahagia itu sederhana, dan menyelipkan kekata itu pada foto-foto pemandangan indah, yang tentu pergi menuju pemandangan indah itu bukanlah hal yang sederhana. 

Aku tertegur kecil. Si bapak penertib tak pernah bilang bahwa bahagia itu sederhana. Tapi aku merasa aku telah belajar the real mean of  “bahagia yang sederhana” dari bapak yang selalu menyapa dengan sederhana. Bahwa memberi kebahagiaan itu sesederhana mengucap salam ke sesama. Bahwa membuat orang lain bahagia itu sesederhana kita memberi senyum ke sesama. Bahwa memang, cara membuat diri kita bahagia adalah dengan memberi kebahagiaan kepada sesama. Terima kasih Bapak penertib yang entah ku tak tahu namanya. ^_^

Di malam yang semakin pekat,

@mkusmias yang lagi insomnia