Setiap jaman selalu memunculkan istilah unik yang menjadi kosa kata baru di kalangan khalayak ramai. Mungkin lidah menemukan lekukan baru pada mulut sehingga memunculkan gaya bahasa yang belum dikenal pada masa sebelumnya.

Suatu saat, as usual, ane berselancar di lautan maya melalui surfboard akun sosmed. Salah seorang teman yang saya sendiri juga tak begitu kenal dengannya, you know di dunia maya kita bisa “berteman” dengan seseorang yang kita sendiri tidak pernah tahu wajah dan wujudnya.

“ah kamu sih baper..”, ejeknya di kolom komentar. Di jejaring sos-med lain lagi-lagi ane menemui, “mungkin gue terlalu baper kali ya”, celoteh pengguna sebuah akun. Hari-hari itu memang lagi marak istilah ‘baper’.

Awalnya ane bertanya-tanya, Baper ki makanan opo sih jane? (read: Baper itu makanan apa sih sebenernya?). But, tidak terlalu lama, lalu ane tahu apa itu baper. Ealah,, baper ki kepanjangan dari ‘Bawa Perasaan’ tho. Hmmm.... anak muda jaman sekarang. Sebenarnya pada pinter-pinter, selalu bisa nemuin kosa kata baru.

Baper alias bawa perasaan selalu dikait-kaitkan saat seseorang terlalu sensitif menanggapi suatu kejadian/sikap/perkataan orang lain. Ya dikit-dikit sensitif gitu. Saat ada yang bilang, “eh ternyata kamu perhatian juga ya?”, trus baper sampe hatinya melambung tinggi. Saat dibilang, “mbok ya kamu itu kalau dateng agak pagian dikit kenapa, biar engga telat terus.” Lalu, nyalinya ciut di depan rekannya itu, baper sih. Saat kamu nyapa temen, tapi dasar nasib malah dicuekin, trus kamu jadi mrengut, sedih, kebingungan, gak enak mau basa-basi lagi. Baper sih. Hehe... nah situasi yang terakhir ini yang ane pengen cuap-cuap sedikit.

Dulu, duluuu banget, ane suka baper, alias bawa perasaan. Seringnya ane jadi engga enak kalau teman udah mulai gak nyahutin basa-basi ane. “si fulan ini kenapa ya? Kok kaku banget ya diajak ngobrol, kemarin-kemarin engga. Ane salah apa ya?”. Atau, “kok dia ngomongnya agak keras gitu sih sama gue. Jadi kepie banget deh.” Contoh lain, “dia tadi pas rapat kok kayaknya menjurus nyindir gue deh” dan baper-baper yang lain. Well, wajar sih ya tetiba kita suka mbatin begitu. Lepas dari bener atau salah persangkaan kita, ya wajar aja karena kita punya hati, punya perasaan. Nah itu sebabnya diistilahkan dengan ‘bawa-bawa perasaan’.  Ya secara, kita makhluk hidup bernama manusia, selain memiliki ciri-ciri bisa bergerak, bernafas, berkembang biak, memerlukan makanan, ekskresi, peka terhadap rangsang, tumbuh dan berkembang (udah kayak belajar biologi aja), selain 7 ciri-ciri itu kita juga punya tambahan satu ciri lagi, yaitu mempunyai perasaan. Mempunyai apa? Pe-ra-sa-an. Yap, perasaan.

Hanya saja, setelah kita suka baper dengan situasi-situasi yang kurang mengenakkan itu, seringnya kita jadi berubah sikap hanya karena menuruti persangkaan yang belum tentu bener. Nah sayangnya, kita lebih sering merubah sikap kita jadi lebih tidak mengenakkan lagi. Ya gak? Misalnya, hanya karena temen kita ngomongnya agak tinggian nadanya, lalu sesampainya di rumah kita jadi nangis sesenggukan di kamar, kamarnya dikunci pula. Hehe.. padahal mungkin aja temen kita itu lagi mau dapet tamu bulanannya, biasalah wanita, ada saatnya hormon di dalam tubuhnya merubah sikapnya. Hehe. Atau mungkin saja dia bukan meneriaki kita, tapi temen yang waktu itu duduk pas di sebelah kita. Nah lho baper sih..

Atau, yang awalnya kita ceria sekali dan pengen buat temen-temennya ikut ceria, hanya karena ada temen yang cuekin, lalu kita jadi ciut. Mak nyuttt, mendadak langsung jadi pendiam. Padahal bisa saja dia lagi penasaran sama hal lain, alhasil kurang memperhatikan kita. Nah lho baper sih. Sampe seringnya baper, salah satu temen ane sering bilang, ‘makanya jangan pake hati, hatinya ditinggal di kos aja”.

Dan ternyata, kalau kita perhatikan, baper yang buruk itu tidak jauh beda dari prasangka buruk, ya? Atau jangan-jangan persangkaan buruk itu yang bikin baper (?) entahlah. Yang jelas keduanya kurang baik. J

Nah ngomongin soal baper, saya jadi kepikiran, baper itu sebenarnya engga buruk-buruk amat kok. Asal ditempatkan pas pada tempatnya. Nah apa itu? Menurut ane, itu sama halnya dengan energi, akan jadi negatif kalau kita salah menempatkan. Sebaliknya, tentu akan bermanfaat saat menempatkan di tempat yang pas. Lha terus, kemana kita mesti menempatkan ‘baper’ ?

Baper, alias bawa perasaan sangat cucok alias cocok dihadirkan saat kita ‘ketemu’ dengan Sang Pencipta. Saat apa itu? Yaps, betul banget, saat kita beribadah dan mendekat pada Allah. Kira-kira begini, baperlah, bawalah perasaanmu saat kita bermunajat kepada Allah. Saat kita berdoa, baperlah dan munculkan rasa bersalah karena memang kita makhluk pendosa. Itulah sebaik-baik baper.


Saat berdoa pada Allah, baperlah, bawalah perasaanmu, karena kita khawatir jika doa kita tidak diijabah, dan baperlah dengan sangat-sangat berharap penuh keyakinan kalau Allah Maha Mengabulkan do’a.

Saat kita sholat, baperlah, bawalah perasaanmu seakan-akan Allah tepat berada di hadapan kita. Saat sholat, baperlah karena Allah Melihat gerakan kita sehingga muncul perasaan ihsan. Baperlah, bawalah perasaanmu saat kita diberi rejeki yang lebih berlimpah, sehingga kita ingat dengan saudara-saudara kita di bumi belahan lain yang kurang beruntung kehidupan dunianya, sehingga kita tergerak untuk mensedekahkan sebagian harta kita.

Baperlah, bawalah perasaanmu saat seseorang menasehati dengan nasehat yang mulia sehingga kita bisa merenung dan berfikir lalu menjadi lebih baik karena nasehatnya. Baperlah, bawalah perasaanmu saat kita berada di tengah-tengah anak-anak sehingga mereka merasakan kedamaian dan keriangan karena kehangatan dan kasih yang tercurah dari diri kita.

Baperlah, bawalah perasaanmu saat lisan kita mengucap kalimat-kalimat dzikir, sehingga kita begitu larut dalam pemaknaan dzikir kepada Allah itu. Dan baperlah, bawalah perasaanmu saat kita melakukan kebaikan, agar kita bisa merasakan makna yang begitu dalam di setiap kebaikan yang kita usahakan.


The last, baperlah saat kamu membaca postingan ini. :D, kalau belum ngrasa agak gimana gituh saat baca postingan ini, mungkin Anda belum baper (?). hehe... 


ilustrasi

Ada sebuah kekata yang berbunyi, “Penulis itu pekerjaan setiap saat. Saat ia tak menulis di atas lembaran putih, saat itu pula ia sedang menulis manusia.” Menulis manusia berarti mendidik manusia, mengajari manusia, sehingga di dalam manusia didikannya itu tertanam nilai-nilai yang telah diajarkan oleh sang ‘penulis’. Karena sungguh, menulis di atas lembaran putih ataupun menulis manusia sama-sama penting. Sekali lagi, PENTING!

Ngomong-ngomong soal menulis manusia atau mendidik manusia, saya inget kisah ini. Di salah satu kesempatan saya mengajar, ada salah satu siswa berkomentar, “Us, itu gak penting dihapalin, Us. Gak ditanya malaikat kok nanti.” Kira-kira begitu tanggapan siswa berpostur agak gemuk bernama,,, sebut saja Jaguar, bukan nama sebenarnya. :D. Saat itu saya mengajar Biologi Bab Klasifikasi Makhluk Hidup. Yah, namanya juga klasifikasi, pastinya nyebutin nama-nama ilmiah tanaman dan hewan, yang nama-namanya bikin lidah sering kepleset saking susahnya disebutin. (Xixixi). Saya bertanya-tanya, kok bisa ya anak-anak masih berfikir seperti itu, apalagi beberapa temen-temennya meng-iya-kan perkataan Jaguar, "iya Us... gak penting kok." Saya berasumsi, kecil kemungkinan  anak-anak ini bisa berfikir seperti itu 'sendiri'. Tentu buah pikiran seperti itu bisa jadi berasal dari pola pikir keluarga, atau bahkan sistem yang berada di sekolah tempat mereka menimba ilmu? Karena, sistem entah di keluarga ataupun sekolah pasti akan melahirkan minded yang akan diikuti. Lalu saya bertanya-tanya, adakah yang salah dari pola pikir bawaan keluarga, atau mind set dari sekolah?

ilustrasi

Dalam hati sebenernya mau nimpalin, “ya keles kayak gitu ditanyain malaikat di alam barzah ntar . kaga ade ceritanya nak...”. Untung ane masih sadar kalau ane disebut guru di kelas itu. Jadinya masih inget kudu bilang, “iya sholih, malaikat ntar gak nanya kamu Homo sapiens atau bukan. Tapi dari sini kita kudu bisa berfikir, dari Ilmu Biologi yang sekarang kita pelajari ini bisa mengenal Allah apa engga? Trus, kita bisa manfaatin apa dari belajar Biologi? Jadi ilmu dunia itu juga perlu dipelajari ya sholih, agar bisa diambil manfaatnya. Kalau ntar jadi peneliti kan bagus kalau bisa jadi peneliti yang selain pinter tapi juga hafidz. Kalau ntar jadi dokter, kan bagus kalau dokternya selain pinter juga sholih. Insyaa Allah malah jadi sarana ber?? Ber apa? Berdakwah.... Kalau di tempat kita banyak dokter yang hafidz, banyak insinyur yang dekat sama Allah, akuntan yang sholih, ujung-ujungnya siapa yang diuntungkan? Kan kita sendiri.”

Oke, ngomong-ngomong soal sekolah, sekarang alhamdulillah sudah banyak berdiri sekolah-sekolah Islam Terpadu, sering disingkat ITe. Sekolah IT bisa jadi adalah sebuah alternatif kalau kita ragu memasukkan anak-anak ke sekolah negeri, kalau kita mengkhawatirkan asupan keagamaan di sekolah negeri yang masih minim. Atau jika beranggapan bahwa sekolah negeri lebih banyak mengadopsi sistem sekolah sekuler. Sekolah IT memang seharusnya menjadi alternatif. Dan seharusnya kita memang kudu berbangga karena sekolah-sekolah IT semakin menjamur di negeri ini. Itu artinya, banyak kaum muslimin yang semakin bersemangat untuk menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai dan kultur keagamaan melalui sekolah formal. Bahasa Muhammadiyyah-nya; berkemajuan.

Tapi sangat disayangkan, jika niatan itu terkesan setengah-setengah, belum sepenuh hati. Misalnya fenomena anak yang masih berfikir seperti penggalan kisah saya saat mengajar seperti di atas. Nampaknya masih ada yang perlu dikoreksi dari sistem sekolah IT. Yeah, may be,....

Jika ‘keberatan’ dengan sistem sekolah negeri yang dinilai sekuler, karena memisahkan nilai-nilai agama dengan ilmu pengetahuan umum, seharusnya sekolah IT memang benar-benar menjadi alternatif sekolah yang tidak terkesan seperti sekolah sekuler. Toh ‘Islam Terpadu’ yang disematkan dibelakang nama sekolah itu sendiri bermakna menyatu-padukan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum agar diilmui secara menyatu, berkesinambungan, berkaitan, tidak terpisah-pisah, dan tidak sekuler.

Saya khawatir, jika pada prakteknya, kita sebagai orang tua ataupun guru, masih menganggap ilmu pengetahuan umum itu tidak penting lalu berkata kepada anak-anak atau murid-murid kita, ‘anak-anak, ilmu umum gak usah diseriusin gak papa, itu gak penting, nanti gak ditanya malaikat di alam kubur. Yang penting bisa baca dan hafal qur’an aja.” Mmmm.... Selain sedih jika masih ada yang bertutur begitu, saya juga khawatir. Tentu saya sedih, seolah saya jadi ciut, karena basik saya di bidang ilmu eksak. Gelar saya bukan Sarjana Agama. Pun saya khawatir, jangan-jangan kita belum sepenuh hati membangun sekolah dengan label Islam Terpadu. Saya juga khawatir, selama ini kita sering menilai sekolah negeri itu sekuler, jangan-jangan kita sendiri juga bisa dinilai sekuler tanpa sadar, karena menganggap ilmu pengetahuan umum tak penting dipelajari dan tidak ada manfaatnya untuk Islam, atau setidaknya memandang sebelah mata ilmu pengetahuan umum sehingga terkesan masih memberi sekat antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Bukankah itu sama-sama sekuler? Sama-sama memisahkan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum. Lalu, untuk apa ikut ‘latah’ bahu membahu mensukseskan sekolah islam terpadu jika tak konsisten antara nama dan tujuan? untuk apa? :) #kalem

Sebagai orang tua ataupun guru yang baik pasti setuju bahwa semua ilmu itu bisa bermanfaat. Jika saat ini belum banyak yang menyuarakan dan membuktikan manfaat ilmu pengetahuan umum untuk islam, bukan berarti tidak ada manfaatnya. Mungkin kita sendiri sebagai orang tua ataupun guru belum berhasil menjelaskan dan memahamkan anak bahwa semua ilmu itu sama-sama penting dan memiliki banyak manfaat. Ilmu dunia penting dicari, sedangkan ilmu agama penting dipelajari. Karena pada hakikatnya, ilmu itu milik Allah. Sedangkan peran kita adalah mempelajari dan memanfaatkan ilmu yang kita miliki semampu yang kita bisa. Bukan begitu?

Ibarat pisau, ilmu itu tergantung siapa pemiliknya, bukan? Jika pemiliknya adalah good person tentu pisau itu akan menjadi manfaat yang berlimpah, at least buat ngrajang bawang di dapur. Sebaliknya, jika pemiliknya seorang preman, tentu pisau akan dipakai untuk berbuat kejahatan, minimal buat malak. Hehe.

Jadi, jika kita adalah pihak yang ingin memberikan alternatif pendidikan berupa sekolah IT alias Islam Terpadu, maka sebaiknya kita mengembalikan makna IT itu sebagaimana khitohnya. Tidak mendiskreditkan ilmu pengetahuan umum, pun juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Toh saya yakin, kita semua sedang mengusahakan yang terbaik untuk agama yang mulia ini dan untuk generasi penerus kita di negeri ini. Meski kadang kita sering lupa main purpose yang kita perjuangkan. Bukankah kita kudu saling mengingatkan? :) Anggap saja dengan ini saya sedang bercermin karena toh kenyataannya saat ini saya juga terlibat di dalam instansi pendidikan berbasis islam terpadu itu. Juga, anggap saja cermin yang saya pakai itu adalah cermin yang lebar binggo alias gede banget, bisa dipakai nyermin berjama’ah. Anggap saja saya juga sedang mengingatkan kembali khitoh pendidikan untuk muslim yang ideal, meski saya belum begitu expert bidang pendidikan. Ini sebatas yang baru bisa saya pikirkan dan ketahui. So, jangan takut jika ada yang mengoreksi. Semua akan baik-baik saja jika masing-masing niatnya memang untuk menjadi lebih baik.

The last, saya ingat betul yang disampaikan oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, “pendidikan tidak hanya mencetak orang-orang baik. Lebih tinggi lagi, pendidikan mencetak orang baik yang memiliki ilmu pengetahuan. Dengan ilmunya bisa bermanfaat untuk agama maupun untuk orang lain.”

Wallahu a'lam.

al-faqir ilallah,
@mkusmias dengan teh hangatnya





Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini adalah saat Allah selalu mengurus kehidupan kita. Sungguh membahagiakan apabila Allah selalu hadir dalam masalah-masalah kita dan membawakan kemudahan untuk kita. Sangat menentramkan apabila Allah menjamin kesejahteraan kita. Allah menjamin rejeki kita. Allah mengurus keperluan kita. Dan yang tak kalah penting adalah, Allah selalu mencukupkan keperluan kita. Dalam sebuah ayat Allah berfirman,

"Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya". [Ath-Thalaq : 3]

Dialah orang-orang tawakal yang Allah urus hidupnya. Ya, tawakal adalah kunci agar Allah datangkan pertolongan-Nya. Tawakal adalah ketentuan yang harus ada pada diri seorang mukmin agar Allah selalu membersamai hidupnya. Tawakal akan datang dalam diri jika iman sudah bersemayam dalam jiwa.

 … dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal” (QS. Al Ma’idah: 11).

Dengan bertawakal, bukan hanya Allah akan memudahkan urusan seorang hamba yang mukmin. Namun, Allah akan menutupi dari kesusahannya, serta memelihara dari kejahatan manusia serta melindunginya. Seperti mudahnya Allah melindungi rasulullah saw dari makar Bani Nadhir yang hendak memberi celaka pada diri rasulullah saw. Allah melindungi Rasullullah saw karena Rasulullah telah tawakal sepenuhnya kepada Allah Dzat Yang Maha Melindungi.

Dengan tawakal yang bersemayam dalam dada seorang mukmin, tak ada sesuatu di dunia ini yang membuat resah hati. Tak ada sesuatu yang membuat gundah diri. Tak akan ada. Hati tak akan resah jika jodoh belum bertemu. Tak kan gundah jika rejeki banyaknya hanya segitu. Karena orang-orang yang takut dengan rejeki, takut tak bertemu jodoh, takut tak punya anak, takut banyak anak, takut tak bisa makan, takut tak berkuasa, takut akan hal-hal yang belum didapat di dunia, sesungguhnya ia bukannya kurang apa-apa, hanya kurang iman dan tawakal yang tumbuh dalam dadanya.

Orang yang sibuk memikirkan dunia hingga menyita pikiran, ia tak akan mendapat apa-apa kecuali lelah, penat dan, stress semata. Kenapa bisa stress? Karena ada tambatan lain selain Allah Shubhanahu wa Ta’ala. Karena ada tandingan lain di dalam hatinya selain Allah Yang Maha Perkasa. Hidupnya jadi tak terurus karena Allah berpaling darinya. Allah jauhkan ketenangan jiwa krn ia menduakan Allah dalam hatinya. Allah memalingkannya dari keberkahan hidup karena ia tinggalkan tawakal. Hingga Allah akan memalingkan hatinya dari sakinah. Hidupnya semakin sulit, semakin jauh dari Allah. Penyebabnya ialah ia tinggalkan tawakal pada Allah. Ia masih menyandarkan hidupnya kepada selain Allah.

Oleh karenanya, jika kita ingin diurus oleh Allah, dimudahkan urusan kita, dicukupkan keperluannya, dihindarkan marabahaya, maka kuncinya satu, yaitu tawakal. Tentang tawakal, jangan sampai pemahaman kita terpental. Tawakal itu bukan hanya pasrah tanpa usaha. Tawakal pun bukan berarti pasrah setelah berusaha. Karena hakikatnya, tawakal itu bukan hanya dipenghujung cara. Namun tawakal itu bergantung pada Allah sepanjang cara menjalankan asa. Tawakal ialah milik orang-orang yang sungguh-sungguh ikhtiarnya. Lihatlah bagaimana Hajar ibunda Ismail yang ditinggalkan suaminya, Ibrahim, di lembah baka. Tak ada pohon, tak ada orang. Hajar berlari-lari antara Shofa-Marwa hingga 7 kali. Hajar sungguh-sungguh berikhtiar kepada Allah dan Allah mengucurkan mata air di bawah kaki Ismail.

Begitu pun teladan dari orang yang paling tawakal, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelum hijrah, ia shalallahu ‘alaihi wa sallam atur strategi terlebih dahulu. Saat perang Uhud, rasulullah tak meninggalkan musyawarah, memakai baju lapis besi, dan mengatur pasukan. Padahal rasul tahu bahwa tak kan ada luka di tubuhnya kecuali atas ijin Allah. Begitulah tawakal yang telah diajarkan. Dengannya (tawakal) Allah memudahkan urusan kita. Dengannya, Allah jauhkan kita dari bahaya. Dan karenanya (tawakal) Allah mengurus kehidupan kita.


Wallahu a’lam bishowab.

Seperti peribahasa “tak ada gading yang tak retak”, mengibaratkan bahwa tak ada yang selalu sempurna di dunia ini. Pun manusia. Meski pernyataan ini terkesan klise, namun kebenarannya masih saja selalu berlaku. Bahwa manusia memang tak ada yang selalu berbadan harum dan berbaju putih. Maksudnya, manusia memang tak ada yang bersih dari kesalahan dan dosa. Kita pernah, bahkan sering terlanjur berbuat dosa. Sadar atau tidak. Sengaja maupun ada niatnya.
ilustrasi

Di sana, ada sebuah tempat yang selalu tersebut dalam do'a, terucap di dalam pengharapan, menjadi ujung dari setiap permintaan, dan oleh jiwa selalu dirindukan. Benar, ia adalah surga, kampung halaman Adam dan keturunannya. Tempat asal manusia yang sebenarnya. Maka di sanalah seharusnya tempat kembalinya manusia.

Jika Allah adalah Dzat Yang Maha Kuat (Al-Qowiy), maka manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan keterbatasan, salah satunya kelemahan. Fitrahnya, manusia sesungguhnya memiliki kecenderungan untuk mengakui ketidakberdayaannya. Namun, tak semua manusia mau mengakuinya. Manusia-manusia yang terjebak dalam ketidak mauan untuk mengakui ketidak berdayaan mengakibatkan benih-benih kesombongan muncul dalam jiwanya. Maka sifat sombong bukanlah sifat yang terpuji dalam islam karena ia menafikkan fitrahnya akan ketidak mampuan. Bahkan Allah memberi sanksi keras untuk orang-orang yang sombong,

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (H.R Muslim)

“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Orang sombong yang menafikkan ketidakberdayaan akan jauh dari rasa bahagia. Ia menganggagap dirinya selalu kuat padahal lemah. Ia menganggap dirinya serba mampu padahal ada kalanya ia tak kuasa. Ia tak mau disebut lemah. Ia tak mau dianggap tak berdaya. Padahal, kebahagiaan hidup manusia justru muncul dari sisi ketidakberdayaannya. 

Misalnya, orang yang sedang merindu sebenarnya dalam situasi seseorang yang tidak mampu,  yaitu tidak mampu untuk bertemu. Ia ingin bertemu dengan orang yang dirinduinya namun ia tak mampu karena terpisah jarak dan waktu. Maka dalam kerinduannya itu ia dapatkan perasaan bahagia.

Seorang suami yang meninggalkan istrinya beberapa hari untuk suatu keperluan, misalnya. Pada dasarnya, ia mengalami kondisi tidak berdaya akhirnya berpisah dengan istrinya. Ketidakberdayaannya itulah memunculkan cinta yang luar biasa. Demikian juga yang terjadi pada sang istri.

Contoh lain, orang yang menangis bahagia adalah orang yang bahagia karena ketidakmampuannya. Ia bahagia lantaran baru saja bertemu. Ia bahagia karena dapat bertemu, dan menangis karena takut untuk berpisah kembali. Perasaan takut tak bertemu kembali ini muncul karena ia menyadari bahwa dirinya tak berdaya untuk selalu bertemu sepanjang waktu. Ini hal yang menarik. Maka, letak kebahagiaan seorang muslim yang hakiki adalah saat ia mengakui ketidakberdayaannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Dia adalah Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Kuat. Allah adalah Dzat yang Maha Mampu. Sedangkan manusia tidak. Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa, sedangkan manusia tidak. Jika manusia benar-benar sadar akan hal ini, kebahagiaan adalah sesuatu yang mudah melekat pada hatinya.

Allah menyuruh manusia untuk berdoa agar manusia ingat ketidak mampuannya. Ketika berdoa manusia memposisikan dirinya dalam keadaan tidak berdaya. Disitulah letak kebahagiaan hidup seorang hamba jika ia mau merenungi. Allah mengilhamkan kebahagiaan dalam relung jiwa orang-orang yang mau merendahkan diri di hadapan Allah dan menyadari ketidak berdayaannya. Allah mengilhamkan kebahagiaan dalam hidup hamba-hamba-Nya yang mau berdoa karena Allah akan mengabulkan do’anya jika ia mau meminta.

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Q.S Al-Mukmin : 60)

Lantaran ketidak berdayaan pula, manusia selalu bergantung pada Dzat yang Maha Berdaya, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Allah yang Maha Kuat tak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya yang lemah.

“Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
(Q.S Al-Ikhlas : 2)

Maka, rendahlah diri kita dan akuilah bahwa kita tidak berdaya. Saat kita berdoa dalam keadaan mengakui bahwa diri kita tidak berdaya tanpa adanya kuasa Allah, maka disitulah letak kebahagiaan yang sejati.

Wallahu a’lam bishowwab






Datang dan pergi memang sudah menjadi pasangan abadi. Ketika “datang” telah ada, waktu pasti akan melaju hingga tiba giliran “pergi” menghampiri. Hampir lima tahun sudah, aku menjadi warga Jogja. Kuliah telah usai, kini tiba waktunya kembali pulang.

Ah, kenapa begitu berat meninggalkan kota ini.
Damin "merusuh" saat kami sedang menyiapkan salah satu program KKN 


Hampir satu tahun sudah aku mengenalnya. Rambutnya keriting, kulitnya hitam meski tak pekat, dan suaranya terdengar berat. Damin, namanya, bocah kecil yang kukenal di Kampung Fafanlap, Misool, Raja Ampat. Aku mengenalnya saat KKN di kampung yang kini selalu kukenang, Fafanlap.


Tepat tanggal 26 Juni 2015 lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat resmi memutuskan bahwa pasangan sejenis di seluruh negara bagian di Amerika Serikat memiliki hak untuk menikah. ini dianggap sebagai kemenangan besar bagi Amerika, terutama oleh kelompok yang menuntut kebebasan menikah pasangan sejenis.

Tak hanya mereka, banyak pihak yang ikut ‘merayakan’ putusan dari hasil perbandingan 5:4 suara itu, termasuk Mark pemilik Facebook.

“Celebrate Pride” namanya. Tool yang disediakan Facebook yang memungkinkan para penggunanya mewarnai foto profil mereka dengan warna-warni seperti pelangi.
Banyak yang kemudian menambahi warna-warni pada foto profil di akun Facebooknya. Entah mereka tahu maksud warna-warni itu atau hanya sekedar latah karena memanfaatkan tool yang baru disediakan Facebook.


Sedih memang. Bagi muslim yang percaya dengan kisah Al-Qur’an yang pernah terjadi di masa lalu tentang azab yang menimpa kaum Luth, sangat menyayangkan putusan Mahkamah Agung Amerika tersebut. Tentu tak ingin negara di dunia ini satu demi satu mendukung perbuatan nista itu dilegalkan. Amerika bukan negara yang kali pertama melegalkan perkawinan sejenis ini. sebelumnya telah didahului Belanda, Spanyol, Kanada, Afrika Selatan, Selandia Baru, Irlandia, dll.

Bagi Anda yang muslim, pengguna facebook, plish tak perlu ikut-ikutan mewarnai foto profilnya, jika tak ingin dianggap mendukung “kemenangan’ itu. Hanya dengan mewarnai saja bisa dianggap mendukung? ya, setidaknya itu termasuk menyerupai mereka pejuang bendera warna pelangi itu.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (H.R Abu Daud)

Sungguh aneh memang. Jaman semakin modern dan waktu semakin bergerak maju. Tapi tingkah dan pola pikir manusia justru semakin terbelakang. Sudah pernah Allah mengazab perilaku manusia di jaman dahulu yang melegalkan kawin sejenis semacam ini. Apakah Amerika dan negara-negara yang melegalkan perilaku menyimpang ini ingin ditayangkan secara live azab Allah dinegeri mereka? Naudzubillah..

“maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri Kaum Luth itu yang atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan (batu belerang) tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.” (Hud: 82)


Itulah produk kebebasan yang kebablasan. Liberalisme tak mengenal batas. Sekarang mereka melegalkan kawin sejenis. Besuk mereka menagih kebebasan dengan melegalkan kawin dengan hewan. Na’udzubillah. 
#sayNoToLGBT
Kita manusia yang lemah tidak bisa melihat secara pasti tentang masa depan. Masa depan adalah waktu yang menjadi takdir yang luar biasa. Waktu adalah dimensi tempat yang tabirnya tidak bisa dijebol. Karena masa depan tidak bisa dilihat, maka manusia sebagai makhluk yang terlibat di dalam waktu harus menghadapi satu hal yaitu ketidak pastian. Di balik ketidak pastian mengandung resiko dan kemungkinan. Kemungkinan yang dihamparkan hanya ada dua hal; kemungkinan baik yang selanjutnya menjadi “harapan”, dan kemungkinan buruk yang sering menjadi penghindaran. Manusia hanya bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi karena di sinilah kelemahan manusia; memiliki keterbatasan dan ketidak berdayaan. Oleh karenanya, manusia perlu memiliki pegangan dan andalan untuk menghadapi dan menjalani masa depan yang masih ghaib, yang tidak bisa dilihat mata namun hanya bisa diraba.

Andalan tersebut dalam ilmu Psikologi disebut sebagai Anchor. Seseorang bisa memutuskan sesuatu karena mengandalkan sesuatu. Misalnya, seseorang yang berani menikah muda, pasti memiliki andalan yang menjawab pertanyaan “kenapa berani menikah di usia muda?”. Seseorang berani mendaftar ujian masuk Universitas ternama karena memiliki andalan yang menjawab pertanyaan “kok berani-beraninya daftar Universitas keren itu?”. Seseorang berani berdagang karena memiliki andalan berupa modal, misalnya. Seseorang berani mengambil keputusan meski beresiko, karena memiliki suatu andalan. Andalan itulah yang biasa disebut sebagai Anchor.

Anchor terdiri dari 4 hal (layers of anchors) :
  • Materi
Contoh dari sesuatu berupa materi yang menjadi andalan manusia misalnya ijasah, uang, mobil, dan sebagainya. Seseorang merasa bisa berbuat sesuatu atau berani memutuskan suatu keputusan karena mengandalkan materi. Seseorang berani melamar sebagai manejer sebuah perusahaan karena memiliki ijasah dengan predikat kelulusan cumlaude, misalnya. Seseorang berani melamar seorang gadis karena ia sudah mapan dan kaya, misalnya. Seseorang berani membuka usaha dagang karena memiliki modal yang banyak, misalnya saja. Pada anchor ini, seseorang mengandalkan sesuatu berupa materi yang tampak sebagai alasan dan andalan kuat ia memutuskan suatu hal.
  • Self
Anchor tipe ini meletakkan dirinya sendiri sebagai sumber kekuatan utama. Ia beranggapan bahwa sumber kekuatan terletak pada dirinya sendiri, bukan dari sumber lain. Contohnya, tokoh besar Bill Gates. Bill Gates beranggapan bahwa kesuksesan yang mampu diraihnya tidak lain dan tidak bukan karena kemampuan dan kekuatan dirinya sendiri. Anchor dengan meletakkan “self” sebagai andalan hidupnya akan mempertuhankan diri sendiri. Tentu, seorang muslim yang taat seharusnya terhindar dari anchor tipe ini.


Anchor tipe ini hanya akan berakhir sia-sia. Karena ia bukanlah raja, kekuatan dan kemampuan dalam dirinya yang diagung-agungkan bukanlah sesuatu yang sempurna. Anchor jenis ini menafikkan kekuatan Allah (Tuhan) sebagai Dzat Yang Maha Kuasa, Rabb Yang Maha Perkasa, Yang Maha Berkehendak dan Maha Memiliki Kekuatan. Saat dirinya sadar bahwa ia tak lagi berdaya, maka tak ada pilihan lain kecuali mengakhiri hidupnya. Dan inilah yang pada akhirnya dipilih oleh Bill Gates. Bunuh diri. Na’udzubillah.

Memang perlu diwaspadai jika memiliki anchor yang meletakkan “self” pada kedudukan tertinggi. Orang dengan anchor tipe ini akan merasa dirinyalah yang paling hebat, sehingga akan melihat orang lain sebagai sesuatu yang lebih rendah, akan tumbuh benih-benih sombong dalam jiwanya. Padahal Islam menginginkan pemeluknya jauh-jauh dari penyakit-penyakit hati ini.

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Andalan berupa “self” ini, Al-Qur’an juga bercerita. Dialah Qarun yang peraya bahwa ia mendapatkan kekayaan dan harta karena kekuatan yang ada pada dirinya saja. Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an bahwa Qarun berkata,

“sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”
(Q.S Al-Qoshosh: 78).

“sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” (Q.S Az-Zumar: 49)

Maka, orang yang meletakkan anchor “self” dalam posisi tertinggi, dunianya hanya akan binasa dan hidupnya hanya sia-sia belaka. Kita mesti ingat bahwa ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S Al-Mulk: 1)

  • Others

Andalan berupa “other” yakni mengandalkan orang lain atau sesuatu yang datang dari orang lain. Misalnya, seseorang yang semangat update status di media sosial karena berharap banyak yg klik “like” dan komentar suka. Ia akan menjadi semangat dan merasa hebat saat ada pengaruh dari orang lain. Orang dengan tipe anchor ini sering kali mengandalkan sesuatu dari orang lain. Baik itu kekuatan dari orang lain ataupun “pemberian” dari orang lain.
  • Virtues (hikmah)

Virtues adalah sesuatu yang baik, sesuatu yang arif. Kearifan yang terletak di dalam hati nurani seseorang. Ia meliputi prinsip-prinsip kehidupan, ataupun sunnatullah. Anchor tipe ini dianggap anchor yang paling kuat membentuk kepribadian seseorang. Dalam kehidupan muslim, saat seorang muslim sadar bahwa dirinya lemah dan Allah yang Maha Kuat, dan keimanan telah mengakar kuat dalam sanubarinya, di saat itu pula ia gantungkan seluruh hidupnya kepada Allah, maka itulah The Strongest Anchor. Bergantung pada Allah (Tuhan) dan nilai-nilai kebaikan. Inilah contoh bentuk anchor tipe virtues, selalu dapat mengambail hikmah dan hanya Allah tempat ia bergantung. Seseorang yang memiliki anchor virtues, yang mengandalkan Allah dalam hidupnya, akan mudah mengantarkan ia pada titik taqwa.

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al Ikhlas [112] : 2)

Anchor / andalan seseorang akan membentuk kepribadian orang tersebut. Anchor tipe “self” akan membentuk pribadi yang selalu pede, kepedean yang mengarah pada keangkuhan dan menafikan akan campur tangan Tuhan dalam kehidupan. Anchor tipe “material” hanya mengandalkan barang-barang mati yang tak selamanya bisa berguna. Ia pun disibukkan dengan materi-materi dunia yang tak pernah kekal selamanya. Anchor tipe “others” hanya akan membentuk pribadi yang mengandalkan sesuatu yang datang dari orang lain. Ia akan selalu terdorong untuk mencari dan “meminta” sesuatu dari orang lain. Jika ia berbuat, perbuatannya pun tak ada nilai ikhlas dalam hatinya. Bagi seorang muslim, niat tentu hal yang fundamental karena ia penentu diterimanya amal di sisi Allah.

Meski pun yang dilakukannya itu baik, namun jika niatnya melenceng dari ikhlas karena Allah, maka sia-sialah amalnya itu. Amalnya tak lain hanya menyisakan lelah di setiap langkah saja.

Maka, untuk menjadi pribadi yang kuat, baik, dan mulia adalah dengan memiliki anchor “virtues”. Ia mengandalkan pada hikmah dan prinsip yang baik dalam kehidupan, tentu sumber yang ia andalkan adalah pada Dzat yang Maha Kuat lagi Kekal, yaitu Allah Suhbanahu wa Ta’ala. Inilah anchor yang paling kuat. Meski anchor ini abtrak, namun kekuatan-Nya begitu nyata. Anchor ini membentuk kepribadian seseorang menuju titik taqwa. Setelah mengetahui anchor sebagai pembentuk kepribadian manusia, lalu yang manakah anchor dalam hidup kita selama ini? #Refleksi.

Hasbunallahu wa ni’mal wakiil, ni’mal maulaa wa ni’man nashiir. Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.


Wallahu a’lam bishshowab.
Kasus Rohingya seakan menjadi perhatian dunia saat ini. Kasus yang muncul beberapa tahun belakangan ini kembali menjadi sorotan publik. Muslim Rohingya mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari masyarakat Budha Arakan, Myanmar. Pembakaran kampung, pembantaian, manusia dibakar hidup-hidup, sampai pada puncaknya terusirlah mereka dari kampung halamannnya. Kaum Rohingya yang mayoritas muslim ini lebih memilih mati di negeri orang dari pada bertahan di negara mayoritas Budha itu. Masyarakat dunia tak sedikit yang mengecam tindakan Budha Arakan tersebut. Sungguh tak manusiawi. Tindakan kriminal yang sangat jauh dari istilah manusiawi.

Namun nampaknya ada yang ganjal. Tindakan tak beradab yang sedemikian rupa, sama sekali tak disebut teroris. Dunia mencibir dan mencela Budha Myanmar karena memang sudah sepatutnya. Namun apakah tindakannya lantas diembel-embeli kata “teroris”? Sungguh berbeda jika yang melakukan kriminal tersebut adalah seseorang atau sekelompok orang dengan atribut agama islam. Khalayak langsung mencercanya dan melabelinya dengan teroris. Padahal jika kita merujuk pada definisi yang sebenarnya, kriminal-kriminal yang dilakukan Budha Myanmar mengarah pada tindakan terorisme.

Sudah pernah membaca defini teroris di dalam Kamus? Belum? Oke, saya nukilkan. teroris adalah pelaku tindak teror. Sedangkan menurut KBBI teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Teroris bisa juga diartikan sebagai pelaku tindak kekerasan yang menimbulkan rasa takut dan tidak aman di kalangan masyarakat. Mengancam, menganiaya, hingga membunuh adalah beberapa contoh tindakan teror.

Namun sayang sekali, definisi dalam anggapan manusia sering tak adil. Teroris dimaknai dengan sangat sempit. Ia diarahkan hanya pada ajaran agama tertentu, yaitu Islam dengan segala atributnya. Padahal jika kita mau jujur, bolehlah kita menyebut  Budha Myanmar adalah teroris. Jika kita mau jujur, seharusnya kita menyebutnya demikian. Tindakan kriminal Budha Myanmar yang mana lagi yang tidak mengarah pada definisi teroris?

Disinilah telah terbukti, dan seharusnya bisa membuktikan kesalahan anggapan masyarakat bahwa teroris identik dengan islam. Telah terbukti tidak demikian, bukan? Bahwa islam yang selalu dikaitkan dengan islam adalah anggapan yang salah kaprah. Teroris tidak identik dengan islam. Islam bukan teroris. Teroris tak mesti bercirikan dengan jenggot, karena nyatanya teroris yang baru berulah justru botak. Teroris tak identik dengan islam, karena pelakunya yang baru-baru saja terjadi beragama Budha. Kejadian di Arakan ini semestinya menjadi wasilah untuk membuka mata dunia bahwa sekali lagi, Teroris tidak identik dengan islam dan Islam bukan teroris. Maka, jangan lagi kita melabeli Islam dengan teroris. Sepakat?


Manusia disebut makhluk yang unik karena keistimewaan yang disematkan padanya. Apa itu? Manusia itu unik karena Allah memberi anugerah padanya berupa kemampuan untuk memilih dan bersikap. Manusia itu unik, karena berbeda dengan malaikat ataupun jin. Malaikat diciptakan hanya untuk taat, tidak diberi kebebasan untuk memilih (berdasarkan akal) seperti halnya manusia. Manusia diberi kebebasan untuk memilih karena Allah telah mengilhami manusia berupa dua jalan yaitu jalan yang buruk dan jalan yang baik. Sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-Syams ayat 8 yang artinya,

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan.”

Sebab musabab diturunkannya Adam dan Hawa dari surga ke bumi pun tak lepas dari “memilih”. Adam dan Hawa tinggal di surga adalah anugerah, lalu iblis membujuk Hawa yang akhirnya Hawa melanggar perintah Allah untuk tidak menyentuh dan memakan buah ‘khuldi’. Hawa telah terbujuk bisikan iblis dan memilih memakan buah pohon larangan itu.

Dan Kami berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai) makanan yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim. Lalu setan memperdayakan keduanya dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di sana (surga). Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan.” (Al-Baqarah: 35-36)

Pada akhirnya, taubat Adam dan Hawa pada Allah pun merupakan wujud sebuah pilihan.

“Robbana dholamna anfusana wa in-lam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin (Ya Allah, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Danjika Engkau tidak mengampuni kami niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-A’raf: 23)

Dan pilihan Adam untuk bertaubat disambut dengan ampunan Allah.

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat (kata-kata untuk taubat) dari Rabbnya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 7)

Adam dan Hawa memilih kembali kepada jalan lurus-Nya. Ini artinya, mereka memilih kehidupan mereka dengan cara bertaubat.

Kebebasan yang melekat pada diri manusia adalah potensi manusia untuk menjadi manusia yang sempurna. Demikian juga, kebebasan yang melekat padanya adalah ujian bagi manusia itu sendiri. Karena, kebebasan itu akan mengantarkan manusia pada pilihan baik atau buruk.
Hakikat kebebasan untuk memilih itu ada dua:
Kebebasannya untuk memilih sesuatu yang didasarkan pada impuls-impuls hawa nafsu, yang pada akhirnya menjerumuskannya pada jalan yang buruk, ingkar, dan fasik kepada Allah.
Kebebasannya untuk memilih sesuatu yang mengantarkannya menjadi makhluk yang bermakna (taqwa). Saat pilihan manusia menjadikan ia menjadi makhluk yang bermakna, maka terjadi integralisasi, yaitu melihat fenomena kehidupan dan mengintegrasikan serta memaknainya dengan ayat-ayat Al-Quran.

Manusia memiliki kedudukan di tengah-tengah antara malaikat dan binatang. Jika dengan akalnya manusia memilih untuk taat pada Allah, maka ia akan menjadi manusia yang beruntung di sisi Allah. Namun, jika manusia dengan akalnya memilih untuk ingkar pada Allah, maka kedudukannya sangat hina bahkan lebih rendah dari binatang. Mau memilih yang mana kita?

Kebebasan yang dihadiahkan kepada manusia juga menjadi tanggung jawab bagi manusia itu sendiri. Karena setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing di sisi Allah kelak.

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra’: 36)

Kebebasan memilih akan mengantarkan pada kebebasan bersikap. Ada satu cerita unik yang baru saya ketahui belakangan ini. Pada sebuah acara peringatan 200 tahun Charles Darwin, diceritakan bahwa penelitian Darwin yang memunculkan teori “nyeleneh” itu berawal dari kematian anaknya yang berumur 10 th. Anaknya ialah putra kesayangannya sehingga saat ia meninggal Darwin merasakan kesedihan teramat mendalam. Darwin “protes” kepada Tuhan yang mengambil anak kesayangannya. Lalu, ia melakukan penelitian yang akhirnya teorinya mendapat banyak penentangan terutama dari kalangan para agamis.

Diceritakan bahwa Darwin melakukan penelitian tersebut karena ingin melakukan penelitian yang tidak perlu lagi penjelasan dari kitab suci. Jadi dapat dikatakan, ada dendam pada Tuhan dalam penelitiannya sehingga melalui penelitiannya Darwin ingin menjauhkan manusia dari kitab suci mereka.

Mengapa diambil kisah ini? Apa hubungannya dengan kebebasan memilih pada manusia? Berdasarkan kisahnya, Darwin adalah contoh manusia yang pada akhirnya memilih untuk ingkar pada Tuhan dalam kesimpulan berpikirnya. Sama seperti halnya seseorang yang diberi ujian yang bertubi-tubi dan tak ketemu titik penyelesainnya, lalu berpikir, “Kok Allah gak adil sih?” Orang yang demikian adalah orang yang pada akhirnya memilih untuk tidak bertakwa pada Allah.

Sebagai seorang yang menekuni bidang biologi, saya tidak sepakat dengan kesimpulan pikiran Darwin yang menyatakan bahwa manusia bermoyangkan kera hanya karena alasan kemiripan morfologinya saja. Kenapa harus dikaitkan dengan nenek moyang atau asal usul?

Nampaknya ini kesimpulan yang sangat dipaksakan. Jika kita adalah insan beragama, semestinya menyimpulkan bahwa ditemukannya morfologi yang sama pada tulang-belulang kera dan manusia karena Sang Penciptanya—yang adalah satu Dzat yang sama, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala—memang menghendaki kemiripan tersebut. Jika memilih cara berpikir yang demikian, bukankah akan menambah keimanan kita sehingga menjadikan kita bertambah takwa dan bukan sebaliknya?

Ilmu yang berjalan satu alur dengan sunnatullah di alam raya ini, apapun bidangnya, jika mampu mengantarkan kita pada cara berpikir yang benar dan semakin membuat kita dekat dengan Allah, itulah ilmu yang bermanfaat.

Barangkali ada benarnya pepatah yang mengatakan, “Hidup itu pilihan.” Lika-liku yang terjadi di dalam kehidupan menuntut manusia untuk memainkan pilihannya. Apakah ia akan mengambil pilihan yang mendekatkan dirinya pada Rabb ataukah sebaliknya. Di titik inilah setan turut campur tangan. Setan telah bersumpah akan menjerumuskan dan membujuk manusia agar ingkar kepada Allah. Kenapa manusia tergoda dengan bujukan setan? Karena manusia sejal awal telah diberi kebebasan memilih: ingkar atau taat pada Allah. Namun iradah syar’iyyah Allah selalu menghendaki setiap hamba-Nya melakukan hal-hal yang baik.

Wallahu a’lam bishowwab.
artikel ini juga dimuat di sini.. monggo mampir juga .. :)

Ramadhan sebentar lagi. Tak genap satu bulan ramadhan menyapa kita kembali. Selain berdoa kepada Allah agar dipertemukan Ramadhan sang tamu istimewa, perlu diperhatikan ya shalihat, kewajiban hutang puasa ramadhan pada tahun sebelumnya harus sudah terbayar LUNAS. (tok.. langsung ngecap) :) :). Apalagi hampir setiap muslimah pasti memiliki hutang puasa karena kebiasaan haid tiap bulannya. Mengqadha puasa ramadhan hukumnya wajib, ya shalihat.

Pernahkah kamu menghadapi suatu masalah dengan orang lain? Jika kamu manusia, pastilah menghadapai masalah dalam hidupmu. Masalah dan manusia selalu berjalan beriringan. Namun janganlah resah, karena di sampingmu masih teriring Solusi. Kali ini saya tidak ingin membicarakan tentang solusi. Tapi saya ingin bercerita tentang perjalanan ke Bromo dua pekan lalu.



Wanita memang begitu istimewa. Islam sebagai agama yang istimewa, memberikan kedudukan mulia untuk kaum wanita. Al-Quran melalui ayat-ayatnya juga tak luput berbicara tentang wanita. Seperti apa sajakah sosok wanita yang telah digambarkan di dalam Al-Qur’an? inilah beberapa karakter wanita yang dituangkan dalam Al-Qur’an.


Istimewanya negeri ini, terdiri dari banyak kawasan, pulau, dan daerah yang masing-masing memiliki nilai khas dari kearifan lokal yang ada. Dari ujung barat hingga timur tersusun dari berbagai keunikan lokal yang mengagumkan, membuat negeri ini terlihat semakin kaya dengan keberagaman yang ada. Pun demikian dengan yang kutemui di belahan timur nusantara, Papua. Tepatnya di Pulau Misool, pulau kecil yang berada di bawah gambar kepala burung ini menyimpan keunikan yang sedikit berbeda dibandingkan kawasan lain di Papua. Di sini, kutemui kawasan yang menjadi perkampungan bagi kaum muslim. Bukan lagi kampung dengan mayoritas penduduknya adalah muslim. Namun, sudah dijuluki sebagai kampung muslim. Menurutku ini unik dan membuat petualanganku di kawasan ini menjadi lebih dekat dengan sisi spiritual. Papua yang mayoritas dihuni oleh penduduk nonmuslim, ternyata masih ada perkampungan-perkampungan muslim yang hidup dengan damai. Inilah uniknya pulau yang terkenal dengan sebutan Cendrawasih ini. Inilah uniknya negeri ini.

Anda penggemar film superhero ? Jika Anda sudah terlahir sebagai seorang anak-anak atau remaja di era 80-an, tentu tak asing dengan tokoh hero satu ini, Robocop. Film fiksi ilmiah tentang robot atau cyborg yang satu ini memang menjadi populer pada era perdananya tahun 1987. Seperti ingin mengembalikan popularitasnya, film ini
Kawans, tahu kan kamu pada tahun 1928 muncul Soempah Pemoeda. Dan di pada tahun 2000 menjadi Sumpah Pemuda. Dilanjut tahun 2011 saat istilah-istilah 4L4y muncul berganti

S03mp4h P3mo3d4. hehe... Pada tahun 2013 menjelma menjadi Sumpah Miapa. Akhirnya di tahun 2014 ini berganti istilah menjadi Sumpah Sakitnya Tu Di Sini. Hehe.. 

Tentang istilah yang terakhir ini, tampaknya ungkapan "sakitnya tu di sini" sudah menjamur di sela-sela perbincangan masa kini. Ungkapan ini digunakan untuk memperlihatkan rasa sakit hati atau kecewa yang sedang melanda. Saking hebohnya ungkapan ini sampai tercipta banyak gambar-gambar meme yang beredar dengan banyak gaya guyonan. Dan sekarang, ungkapan ini malah digunakan sebagai ajang lucu-lucuan.

Hampir setiap orang keceplosan bilang "sakitnya tuh disini (sambil nunjuk dada)" saat bercandaan dengan teman. Tak terkecuali saya, hehe , yang waktu itu masih sering mencandai teman dengan ungkapan itu. Mungkin memang benar adanya, perkataan itu adalah doa. Sampai suatu hari, di malam yang dingin, tiba-tiba dadaku sakit. Rasanya nyeri seperti ditusuk. Sebenarnya ini bukan kali pertama. Dokter pernah mengatakan bahwa jantungku mengalami penyempitan pembuluh darah yang bisa kambuh pada waktu-waktu tertentu. Beruntung waktu itu aku tidak lupa membawa obat-obatan di ranselku. Tentu yang paling utama membuatku beruntung adalah pertolongan Allah. Waktu itu aku berada di daerah yang susah untuk menjangkau rumah sakit. Ya, waktu itu aku berada di Papua. Jika dalam bayanganmu Papua itu pelosok dengan segala keterbatasannya, itu memang tak salah. Dan sakitku kambuh saat aku berada di daerah yang benar-benar banyak keterbatasan.

Setelah minum obat, aku menidurkan diriku untuk istirahat malam itu. Mata tak kunjung mau terpejam. Kantuk pun tak kunjung datang. Tiba-tiba saja terbesit ungkapan "sakitnya tu disini" yang tak sadar pernah ku ucapkan saat berbincang-bincang dengan teman.
Ahh.. mungkin Allah sedang menegurku. Agar aku tak 'sembrono' berucap. Supaya aku tak semena-mena berkata-kata. Meski hanya bercanda, meski hanya 'guyonan', namun menjaga perkataan selalu menjadi langkah yang lebih baik. Karna mungkin memang benar bahwa perkataan adalah doa. Sekarang, aku tak mau keceplosan lagi untuk berucap "sakitnya tu disini". Karna aku sudah merasakan bagaimana rasanya sakitnya di sini (di dada). Dan lebih baik bilang saja, "Bahagianya tu di sini". Semoga aku tak lagi kambuh nyeri dada yang menyebabkan sakitnya tu di sini (di dada). Hehe...

@mkusmia dengan menu makan malamnya :)


Siapa sih yang pernah ngerasain yang namanya masalah? Kalau kamu masih hiduo pasti sering sarapan, makan siang atau bahkan makan malam dengan menu 'masalah'. Banyak manusia yang akhirnya stress, frustasi sampai bunuh diri karena tak kuat menghadapi masalah.

Ngomong-ngomong seputar kasus bunuh diri, dari sumber data WHO, tercatat bahwa Korea merupakan negara dengan kasus bunuh diri tertinggi di dunia. Banyak kasus bunuh diri terjadi dengan motif yang beragam; karena faktor kemiskinan, stress, dan kesulitan menghadapi masalah hidup yg semuanya bermuara pada jalan buntu. Pikiran gelap yang bergandengan dengan rasa putus asa menimbulkan "ide" sesat untuk menyegerakan datangnya maut. Na'udzubillah...


Kawan, masalah tentu akan selalu datang menghampiri. Karna masalah dan hidup selalu berdampingan bak dua sejoli. Maka, anggaplah masalah itu seperti musuh. Jangan pernah memintanya, namun juga jangan menghindar, dan hadapilah saat ia datang menerpa hidupmu yg tenang. Allah sebagai Pencipta segala hal, tentu menciptakan masalah dan jalan keluar saling berjejeran. Dia tidak akan membiarkan masalah hanya berdiri sendiri, tapi juga solusi dan kemudahan berdampingan di sisi. Allah sendiri yg menjamin itu. Lupakah kita firman-Nya yg syahdu, "karena sesungguhnya setelah kesusahan itu ada kemudahan." (Q.S Al-Insyirah: 5). Bahkan ayat ini diulang setelahnya, "sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" (Q.S Al-Insyirah : 6).  

Menurut kaedah bahasa arab, kata "al usr (kesulitan) dalam ayat ini bermakna satu, satu kesulitan. Namun, "yusro" dalam ayat trsebut bermakna dua, dua kemudahan. Artinya, Allah memberikan dua kemudahan di setiap satu kesulitan. Kemudahan yang Allah berikan lebih banyak dibanding kesulitan yang diujikan. Bahkan para ulama pun sering kali mengatakan, "satu kesulitan tdk akan pernah mengalahkan dua kemudahan." Meskipun asal perkataan dari hadits ini lemah, namun maknanya benar.

Dari ayat ini pun disimpulkan bahwa di akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan. After a strom comes a calm. Badai pasti lah berlalu, kawan. Lagi, kata "ma'a" mengandung arti "bersama". Artinya, "kemudahan akan selalu menyertai kesulitan".

Allah pun menambah janjiNya melalui firmanNya, "Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (Q.S Ath-Tholaq:7).
Oleh karna itu, masihkah kita ragu akan janji Allah yang pasti akan terjadi? Ibnul katsir mengatakan, "janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkari."

Allah does not create a lock without its key. And Allah doesn't give you problem without its solutions. 

Maka, untuk mu yang dirundung pilu. Sekalah air matamu dan tersenyumlah menyambut janji-Nya. Selalu ada harapan bagi dia yang berdoa. Selalu ada jalan bagi ia yang berusaha. Dan yakinlah, masalahmu akan bertemu pada jalan terang yang sudah Allah siapkan. Trust me it's true. :)