Negeri ini tidaklah kekurangan orang pintar, yang kurang dari negeri kita ini adalah orang baik. Untungnya, dalam momen yang berdekatan dengan hari guru nasional kemarin, orang-orang baik (dan pintar tentu saja) yang mulai langka ini menunjukkan contohnya.
Catat dua nama ini: Gus Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Mbah Kiai Maimun Zubair.
Dihina dan dihujat di media sosial hanya karena hal yang bersifat khilafiyah, dua sesepuh umat Islam ini menunjukkan respons yang luar biasa. Mereka menunjukkan bagaimana menjadi menjadi sosok yang bisa digugu dan ditiru.
Uniknya, tidak hanya memaafkan, keduanya malah sukarela “disowani” oleh orang-orang yang secara terbuka menghinanya.
Lebih ajaib lagi Gus Mus. Bukan hanya menerima dan menyambut hangat, beliau malah memberikan nomor whatsapp-nya. Alasannya pun lucu: supaya si penghujat, kalau mau uring-uringan dengan pendapat Gus Mus tidak perlu ada orang lain yang tahu.
Ini kan bikin iri betul! Saya malah curiga, jangan-jangan orang ini sengaja menghina biar dekat sama Gus Mus. Sayang sekali, kok ya saya ini tidak rela dan tidak berani jika harus menggunakan cara yang sama biar bisa dekat dengan idola saya ini.
Apa yang ditunjukkan Gus Mus dan Mbah Kiai Maimun mengingatkan saya akan hal yang juga pernah dilakukan Zakia Belkhiri beberapa bulan silam (pertengahan Mei) di Belgia. Diawali dari terpilihnya seorang Muslim bernama Sadiq Khan sebagai walikota London, gerakan anti-Islam kembali mengemuka di beberapa negara Eropa. Salah satunya Belgia.
Aksi Belkhiri ini sempat jadi buah bibir di media sosial kalau Anda ingat. Waktu itu, dengan enteng Belkhiri yang kebetulan lewat di Antwerpen, melihat gerombolan massa gerakan anti-Islam ini. Bukannya ciut nyali karena dirinya adalah bagian dari “objek” yang sedang “dilawan”, Belkhiri malah mengambil hapenya, lalu melakukan hal yang tidak akan dilakukan oleh Ahok di hadapan Habib Rizieq sekalipun, yakni: selfie!
Yak. Selfie di depan tulisan-tulisan “no headscarves” atau “stop Islam”. Yakin deh, ini keren betul. Bukannya terbakar amarah karena merasa didiskriminasi, Bakhiri malah menunjukkan karamahtamahan yang sejatinya bikin malu peserta demonstran. Dia menyerang balik dengan cara tak terduka. Serangan yang dengan sangat telak memukul balik para demonstran.
Hal yang dengan jelas menunjukkan, siapa sebenarnya “pemenang” dari kejadian tersebut. Yang demo ya terpaksa ikut senyum-senyum waktu diajak selfie Belkhiri. Yah, meski senyumnya sedikit kecut sih.
Reaksi-reaksi semacam inilah yang belakang mulai jadi barang langka di negeri ini. Apa yang ditunjukkan Gus Mus, Mbah Kiai Maimun, sampai Belkhiri adalah bukti bahwa ada “cara terbaik” untuk menunjukkan bahwa wajah Islam adalah wajah adab maupun peradaban.
Nah, sebelum jauh membahas soal Islam dan peradaban ini, perlu saya ceritakan bagaimana santri belajar ngaji di pesantren untuk memberi sedikit “asbabul nuzul”-nya. Yah, istilahnya sebab kenapa kita harus mengutamakan adab yang baik dulu sebelum menginjak ke hal-hal yang lebih rumit—utamanya dalam persoalan syariat. Dan tidak perlu jauh-jauh, saya akan ambil contoh dari pesantren saya saja.
Begini. Jauh sebelum mempelajari ilmu fiqih, nahwu, sorof, sampai balaghoh, atau ilmu-ilmu rumit lainnya. Seorang santri angkatan pertama akan disodori dua kitab yang mesti dikhatamkan terlebih dahulu. Yakni Akhlaqul lilbanin dan Ta’lim muta’alim.
Bagi yang pernah mondok, atau punya saudara yang pernah mondok, mungkin familiar dengan dua kitab ini. Kitab-kitab ini secara garis besar berisi mengenai bagaimana berperilaku, adab, dan akhlak kepada orang lebih tua, lebih muda, atau orang-orang yang dianggap sebagai “guru”.
Saya tidak akan menceritakan isi dua kitab tersebut secara detil di sini, karena memang saya tidak punya kredibilitas yang cukup untuk memberitahu situ apa saja pelajaran di dalamnya. Kalau situ penasaran ya saran saya; silakan mondok atau masukkan anak situ ke pondok.
Yang lebih ingin saya tekankan di sini adalah—yah, menurut kesimpulan saya bertahun-tahun kemudian—ada alasan khusus kenapa dua kitab ini jadi “wajib” dipelajari di awal. Begini. Seorang santri lebih diutamakan jadi orang baik lebih dahulu, bukan jadi orang pintar dulu. Poinnya tentu saja bukan kemudian menjadi santri itu tidak boleh pintar. Tidak, bukan itu. Titik tujuan praktik ini sebenarnya adalah mengajarkan seseorang yang belajar agama diutamakan agar dirinya membiasakan berperilaku baik pada mulanya. Menolong orang lain, bersabar ketika dihina, membantu nenek-nenek yang mau menyeberang jalan, yah, pokoknya mirip-miriplah dengan apa yang ada di buku pelajaran PMP zaman orde baru.
Harapannya, saat kemudian si santri kemudian diisi dengan pelajaran-pelajaran agama yang lebih rumit. Penerapan ilmu di masyarakat nantinya tidak hanya soal konsep benar atau salah saja, namun juga soal cara penanganan yang baik atau buruk juga.
Sebabnya tentu saja didasari karena agama berisi mengenai ajaran kebaikan. Kan jadi percuma situ mengajarkan kebaikan tapi menyampaikannya tidak dengan cara baik-baik. Membentak-bentak, mata merah menyala, otot leher keluar semua kemana-mana sampai tidak pulang-pulang, misalnya.
Toh, sekalipun yang situ ucapkan adalah kebenaran dan ada dalilnya—soheh lagi, kebenaran yang situ sampaikan akan terasa kasar dan bakal terlihat mengerikan. Tuhan tidak semenakutkan itu kok, jadi tidak usahlah diseram-seramkan begitu. Daripada menunjukkan kebenaran lewat cara-cara panasnya api neraka, mengapa sih tidak menyampaikan kebenaran dari perspektif betapa teduh Tuhan pemilik semesta?
Ini penting, karena menjadi pintar itu bisa diupayakan semua orang, dan semua orang mau melakukannya. Namun menjadi orang baik, itu perkara yang berbeda. Alasannya tentu saja karena kebaikan tidaklah semewah kebenaran. Menjadi orang baik tidak sekeren jadi orang pintar.
Orang pintar mah enak, cari duit gampang, mobilnya keren-keren, kalau bicara didengarkan banyak orang, sekali mengatakan “salah” pada orang lain, semua orang akan mengamini. Banyak yang mendukung, tidak hanya santri-santrinya saja, namun kadang pejabat-pejabat pula.
Coba bandingkan dengan orang baik—terutama golongan orang baik yang tidak merasa dirinya pintar, baru ngomong perkara bid’ah saja, sudah dicacimaki habis-habisan. Baru menghimbau untuk mudah memaafkan orang lain saja sudah disesat-sesatkan.
Namun apakah dengan begitu orang baik akan marah?
Oh, jelas tidak. Orang baik memiliki pondasi adab yang lebih baik. Golongan ini punya pondasi akhlak yang luar biasa. Ya, karena pendidikan golongan orang-orang ini didasari dari bagaimana membangun peradaban lebih dahulu, bukan bagaimana mencetak dan membesarkan orang-orang pintar lebih dahulu.
Ingat, keilmuan lebih erat kaitannya dengan peradaban daripada orang-orang pintar dadakan.
Jadi, situ mau beradab atau cuma mau pintar saja?
*Dimuat pertama kali di mojok.co yang sudah tutup itu lho...#hiks. Tulisan mas Khadafi Ahmad dengan judul asli "Situ Mau Beradab atau cuma Mau Pintar?" sengaja saya arsipkan di blog pribadi sebab pas pertama kali baca kok ya sering membikin saya manggut-manggut dan menemukan banyak kontemplasi. #halah.. Nyuwun ijin njih, mas Daf.

@mkusmias yang masih berharap muncul keajaiban dunia ke-8 berupa dibukanya kembali mojok.co 


Satu hari yang lalu, di siang hari yang panasnya cukup menggerahkan itu, sa pu adek (adik saya yang) perempuan dan sepupu sedang gembira merayakan lotisan di belakang rumah. Tempat itu memang cukup yoi sekali untuk sekedar ngegosip bagi para ibu-ibu, ngisis di siang yang panas, menyendiri untuk menemukan kontemplasi, sampai forga (forum keluarga) dengan agenda lotisan bareng-bareng. Acara bareng yang saya sebutkan terakhir ini, membikin saya selalu tertawa jika ingat cerita yang terjadi pada kemarin hari.

Seperti yang saya sebutkan di awal, adek perempuan (sebut saja Mahoni, bukan nama sebenarnya, 22 tahun, dan masih single loh. #Trus njuk ngopo), satu sepupu sebut saja Dodik, dan yang satu lagi sebut saja Yoga masih berumur 3 tahun. Mereka sedang bahagia berlotis ria di belakang rumah yang teduh pas siang hari itu.

Yah, namanya orang jawa, tak jarang selalu mempersilakan orang lain untuk memulai melahap dan menikmati makanan yang terhidang. Di tengah-tengah menyantap lotis yang sesuai namanya yang pasti rasanya pedas itu, Yoga cuma sekedar ikut-ikutan lotisan. Dasar Dodik yang seperti kebanyakan anak muda usil, selalu bilang pada Yoga, Ayo, Yog. Ndang, jipuk meneh (ayo, Yog. Cepet, ambil lagi),” Dodik membungkus usil berkedok penyemangatan. Kalau Yoga sudah selesai pada lahapan pertama, Dodik selalu meng-ayo-ayo-i Yoga untuk terus melahap buah dan sambel lotisnya itu.

Yah, namanya juga Yoga yang masih anak-anak umur 3 tahun, dan dasarnya anak’e bapak’e yang doyan pedes, selalu manut saja apa yang disuruh Dodik. Sampai pada beberapa saat, Mahoni dan Dodik dibuat tegang sekaligus ngguyokne dengan apa yang terjadi pada Yoga. Yoga tiba-tiba mandeg makan lotisnya. Duduknya masih seperti semula, masih saja bersila. Tangannya yang awalnya memegang mentimun berbalur sambel, sudah berganti memegang perutnya. Kepalanya miring sebelah seperti orang kecapekan dengan mata tinggal 5 watt. Yoga masih diam saja, ora ono banek’e, tidak bersuara. Dua orang di sampingnya tetiba jadi agak panik.

Yog, kenek opo koe. Yog.. Yog.. Heh, kenek opo koe?” Dodik menggoyang-goyang tubuh Yoga yang pancen pawak’ane cilik itu. Mata Yoga sudah semakin sipit dengan tetap tanpa ekspresi dan tanpa suara blas. Demi melihat pemandangan itu, Mahoni malah tertawa terpingkal-pingkal. Ekspresi Yoga yang tanpa ekspresi itu lho membikin Mahoni malah terasa seperti disuguhi lawakan.

Yu, ketok e kepedesen iki. Golekno ngombe gek ndang, Yu! (Mbak, kayaknya kepedesan ini. Cepet cari minum cepet, mbak!).” Spontan donk Dodik curiga kalau Yoga tak berkutik karena kepedesan. Iya lah, penyebab paling dekat karena kepedesan, ha wong mereka lagi lotisan. Yen njerit-njerit kui lagi numpak roller coaster.

Si mbak Yu Mahoni langsung sigap lari ke dalam rumah, membuka pintu kulkas, menyabet sebotol air dingin, hap lalu ditangkap segera lari ke tempat nglotis tadi. Tak perlu lama-lama segera ditegak air mineral dalam botol tadi oleh Yoga. Dan tak perlu lama-lama juga, wajah Yoga semakin lama nampak semakin terlihat ekspresinya.

“Ahhhhhhhh…..” terdengar suara Yoga dengan penuh kelegaan dan polos setelah menegak air mineral. Wajahnya sudah terlihat segar kembali. Oalah le.. le… anak’e bapak ibune. Ha mbok ngobrol donk kalau kepedesan.

Demi melihat suara lega dan wajah Yoga yang terlihat kembali “bernyawa”, Mahoni dan Dodik kembali tertawa terpingkal-pingkal. Pada saat kejadian ini berlangsung, sebenarnya saya berada di depan rumah menggendong Arya, Yoga pu adek (adiknya Yoga, yang baru berusia 10 bulan. Yah namanya (t)ante-(t)ante, kalau selo sithik di rumah tugasnya ngemong ponakan-ponakan). Suara pingkalan mereka terdengar oleh saya yang berada di depan rumah. Tapi sedikit pun saya tidak tertarik untuk menuju ke belakang demi melihat apa yang terjadi. Mereka mah kalau sudah ketemu begitu, jadi saya gak heran kalau terdengarnya ribut.

Saya baru berjalan ke belakang saat sudah ngrasakne betapa pegelnya nggendong Arya yang ginuk-ginuk itu. Pas sudah mendekati mereka, Yoga masih melanjutkan meneguk air mineral sebagai ikhtiarnya untuk menghilangkan kepedesan dan mengumpulkan nyawanya agar kembali full tank. Mahoni dan Dodik masih saja tertawa dengan yang baru saja terjadi. Sebagaimana orang yang terheran-heran, saya bertanya apa yang terjadi. Setelah mendengarkan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya itu, saya tertular dan tak bisa menahan tawa. Oalah le…le… pedes kok diempet (ditahan). Ngempet kok roso pedes. ha mbok yo ngempet biar tidak mentahdzir-tahdzirkan saudara sendiri saja. #Eh.

Padahal, biasanya, anak kecil itu justru paling tidak bisa menyembunyikan ekspresi hlo ya. Tapi cen kejadian bocah siji iki lunyu eh lucu tenan.

Dari rada panjangnya cerita ini, kok saya jadi menemukan kontemplasi. Urip iku, selain kudu urup, selayaknya memang harus diekspresikan. Jangan ditahan-tahan, nanti jadi gak tahan. Hidup itu memang harus lempeng pada dogma-dogma yang sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing itu, yang tidak bisa diganggu-gugat. Tapi, selain dari itu, boleh lho diekspresikan. Boleh lho bilang “huh hah” kalau memang kepedesan. Normal kok kalau kepedesan setelah bilang “huh hah” trus tratapan nyari air. Kan jadi lunyu eh lucu seperti Yoga yang diam saja sampe kayak kliyengan hampir semaot eh semaput gegara nahan pedes. Mungkin anak berumur 3 tahun itu takut bilang kepedesan, lalu takut jadi merepotkan mereka berdua yang lagi bahagia menyantap lotisan. Atau jangan-jangan, sebenarnya sih takut karena kalau mak tratap pergi ke dalam rumah mencari air mineral, dan kembali ke belakang rumah dengan lotis yang sudah dihabiskan dua anak muda itu. Duh dek, yang mana alasanmu? Aku gak mudeng.

Kembali ke kontemplasi. Hidup itu memang selayaknya disuarakan, bukan dipendam, apalagi didiamkan. Dan, lagi-lagi saya kembali belajar, bahwa untuk bisa “bersuara” dimulai dari memupuk keberanian. Mau bisa menyuarakan sesuatu tapi tidak pernah mencoba untuk berani? Itu seperti menunggu Anggun jadi duta shampoo lain. Tidak pernah terjadi.

Saya ini bukan orang pemberani kok. Hanya saja, insyaa Allah saya ini mau belajar, termasuk mau belajar dan memupuk berani. Agar pada saat-saat yang tepat, semoga urat nadi takut itu putus, lalu muncullah yang dinamakan berani. Tentu berani yang saya maksud di sini berani dalam hal-hal yang baik, sist. Berani untuk mengambil peran dalam kebermanfaatan juga ya, bro. Saya ini masih punya nyali yang ciut, kadang penakut. Tapi saya serasa mendapat sebuah wangsit dari kejadian jenaka Yoga de ka ka ini.

Tentang “berani”, nampaknya memang menjadi sesuatu yang penting dalam hidup seorang manusia. Kalau tidak, tidak mungkin Hamka menuliskan cukup panjang bahasan tentang berani pada Bab ke-6 dalam buku Falsafah Hidup-nya. Menurut Hamka, berani itu berkaitan dengan fiqh prioritas, yakni memilih satu jalan untuk menghindarkan diri dari bahaya yang lebih besar. Ada banyak hal yang disampaikan Hamka tentang berani. Mudah-mudahan saya berkesempatan menyambung di bagian kedua dari judul tulisan yang ala-ala ini. hehe

Tapi, biar tulisan ini rada ngehek, saya mau melanjutkan barang sedikit. Masih saya kutip dari tulisan Hamka,
“Apakah harganya segulung diploma, kalau dalam hati yang empunya itu tidak ada keberanian?
Kalau pengecut, walaupun banyak ilmu, besar gulungan diploma, masyarakat tidaklah akan mendapat untung daripadanya. Jangankan masyarakat, bahkan dirinya sendiri pun tidak akan memperoleh untung dari diploma itu sendiri. Orang pengecut, pekerjaannya selalu sia-sia. Duduknya di bawah. Dia tak berani ke atas. Dia hanya jadi pengikut, tidak berani diikuti. Atau menggerutu di belakang.”

Pertanyaan retoris Hamka di awal penggalan kalimat di atas sungguh-sungguh mak jleb rasanya. Iya, benar. Apa gunanya kita ini capek-capek yang kelihatannya menimba ilmu, tapi tidak punya apa yang disebut berani. Kalimat terakhir dari kutipan di atas juga rasane tidak kalah mak jleb. Sebab, orang yang tak berani ke muka itu disebut pengecut. Dan pengecut itu hanya memiliki satu keberanian, yakni menggerutu di belakang.

Jadi, kalau kita ini masih suka diam dan mendiamkan, tak mau bicara meski untuk hal-hal yang baik, ditambah lagi menahan-nahan padahal sejatinya tidak perlu ditahan-tahan, apa donk bedanya kita dengan anak umur 3 tahun? Itu sih masih mending kalau tidak suka menggerutu di belakang, lha kalau masih suka?

Always,
@mkusmias yang masih masih dan masih belajar untuk berani

Ref: Hamka, Prof. Dr. 2015. Falsafah Hidup. Jakarta: Republika Penerbit. hal: 263.

Mumpung masih di awal-awal tahun, belum terlambat banget memulai menyusun kembali resolusi tahunan seperti ramai orang lakukan. Penting banget po bikin resolusi-resolusi begituan? Hmmm,, tergantung, kalau kamu kepengen hidupmu lebih terarah dan tertarget, resolusi atau catatan-catatan yang berisi harapan dan keinginanmu, penting kamu buat.

Bagi saya, resolusi atau capaian-capaian perlu pake banget disusun. Selain agar ingat selalu karena saya ini pelupa, wishlist tentu penting bagi saya. Setidaknya, itu memudahkan saya memantau capaian-capaian hidup. Juga, memudahkan untuk menjawab pertanyaan, “Apa aja yang belum tercapai? Aku harus melakukan apa? Apa yang harus dievaluasi? Apa yang harus ditingkatkan?”

Percayalah, memperhatikan hidup sendiri itu jauh lebih penting daripada apapun. Apalagi, untung-rugi-nya hidup, kita sendiri yang menanggung. Tidak ada orang yang benar-benar peduli dengan kehidupan kita sampai dalem-dalemnya jika bukan kita sendiri. So, mulailah mencintai diri sendiri, hidup kita sendiri. Dimulai dari, “Aku mau hidup yang seperti apa?” Setidaknya, cikal bakal membuat resolusi berawal dari pertanyaan seperti itu.

Bagi saya, resolusi tak lain adalah wujud dari tantangan. Tentu, menginginkan sesuatu atau pun menginginkan menjadi sesuatu, tentu harus melewati jalan menuju tujuan. Cuma ngedip aja yang mudah, itu pun kalau mata gak sakit. Cuma membalikkan telapak tangan aja yang tidak mudah, itu pun kalau tangannya sehat wal afiyat. Untuk menyingkat kalimat, *haha tulisan macam apa ini gak mau nulis panjang lebar* kita sepakati saja ya bahwa semua hal dalam hidup memang butuh pengorbanan. Dan setiap jalan untuk mencapai keinginan kita adalah tantangan. Singkatnya, cuma orang mati yang tidak mau berhadapan dengan usaha, tantangan, dan kerja keras.

Jika ragamu masih hidup tapi tak punya greget sekalipun dalam hidup, mungkin jiwamu sudah wafat. Eh, engga kok. Ini enggak lagi sok nasehatin orang-orang. Ini dalam rangka ngomong sama diri sendiri. Hehe.

Ngomongin resolusi, saya cukup semangat ngobrolin tentang mimpi dan keinginan. Tapi agaknya, saya ini tipe orang yang kurang suka ngobrolin tentang keinginan apa saja yang mau diusahakan. Kok saya lebih seneng kalau didoakan yang terbaik saja, dan didoakan tercapai resolusi saya. Haha... Tapi yang jelas, sebagai anggota yang sudah lulus tkjs3, saya tentu sudah menentukan tema besar resolusi tahun ini. Theme of De Year kali ini adalah “Mengusahakan Sedikit Lebih Baik Lagi”. Bukan bermaksud merasa sudah lebih baik. Tapi, Theme seperti ini, mudah-mudahan menyelipkan semangat pantang menyerah untuk jadi lebih baik. Jika nantinya lelah menyapa, mudah-mudahan selalu ingat, "Ayo Mi, usahakan sedikit lagi. Sedikit lagi. Dan sedikit lagi." Begitu terus. Turunan dari Theme-nya tentu banyak lah. Karena saya pendiam dan pemalu *tsaaah*, jadi saya tidak tuliskan di sini. *Buehehe*

Saya suka menyusun harapan-harapan yang besar, seperti menjadi mujahidah yang dirindukan syurga nananina taradumba itu. Warbiyasah memang harapan itu. Namun ada yang kita lupa. Saat tersibukkan dengan menyusun harapan besar, kadang kita lupa untuk menekuni hal-hal sederhana nan kecil nan remeh temeh nan apalah-apalah itu. Maka, saya cukup berbahagia saat berhasil melakukan resolusi kecil di tahun 2016 salah satunya sarapan sebelum jam 9 pagi. Yeay. Meski satu dua kali saya pernah tidak sarapan, atau sarapan di atas jam 9 pagi. Tapi secara kumulatif, saya lebih sering dan bisa dinilai berhasil sarapan sebelum jam 9 pagi. Sederhana memang, tapi saya rasa perlu diresolusikan pada tahun lalu.

Mudah-mudahan tidak ada yang nyinyir, sarapan kok dibuat resolusi segala? Kalau dijawab senewen sih saya bakal bilang, “suka-suka gue donks. Hehe. “  Nah ini yang saya maksud, beresolusi besar, jangan sampai melupakan hal remeh temeh. Saya cukup berbahagia, karena berhasil dengan resolusi kecil ini. Karena, saya sudah nurut dengan nasihat ibu yang sering bilang, “sarapan kui penting nduk... “ Sarapan ibarat mengisi bensin di pagi hari sebagai modal pertama menjalankan aktivitas. Sudahlah ya, kita sepakati saja juga kalau sarapan itu penting. *tulisan kok banyak maksa buat sepakati bersama. hehe* Kalau ini insyaa Allah tidak terjadi khilafiyah ya bahwa sarapan penting. Mau sarapan pakai nasi, pakai sendok, atau pakai tangan mah terserah ya.

Dan tahun ini, saya mencoba tidak melupakan hal-hal sederhana seperti tahun kemarin. Mengusahakan hal sederhana maupun tidak sederhana, tentu semuanya adalah tantangan.

Tentang berubah jadi lebih baik, saya jadi teringat kekata entah dari siapa, “Jika ingin merubah sesuatu, rubahlah dulu sudut pandangmu. Karena, jika kamu tidak bisa merubah pola pikirmu, kamu tidak akan merubah apa-apa”. Dan tepat, nampaknya sulit bagi saya (tahun lalu) sarapan sebelum jam 9 pagi jika saya tidak merubah sudut pandang bahwa sarapan pagi itu penting. Saking pentingnya, kudu diusahakan.

Jadi, sudah bikin resolusi (baca: tantangan) apa dirimu untuk tahun ini? Mudah-mudahan resolusi kita menjadikan kita lebih bahagia dan bermanfaat yah...


Always,

@mkusmias yang sok ngobrolin tentang resolusi. hehe


Entah mau sampai kapan saya terus-terusan membiarkan si lepi-delli tak lagi cenunak-cenunuk keyboardnya hingga tersusun dan terisi sebaris dua baris demi mengisi hampanya ruang blog. (Ruang hampa-hatinya yang nulis kapan diisi? #eaakkk). Si lepi-delli kudu dipaksa biar terbiasa keyboarnya cetak cetuk lagi. Biar blognya tak berdebu lagi. Biar hati kembali bersorak, “yes, iso curhat nang blog meneh”. #huehehe. Oh ya, maapken ya jika terdapat istilah-istilah aneh. Somehow, dalam beberapa tahun belakangan ini saya sering menamai beberapa benda milik pribadi. Misalnya saja, motor Supra merah, saya beri nama Si Supri (jadi selama ini, “Supri” yang nemenin kemana-mana itu maksudnya Supra merah tho? Yes. That’s rigt. Haha). Sampai leptop hitam, saya beri nama Si Lepi-Delli, atau kadang Si Delli. Tentu karena mereknya D*ll. Entah kebiasaan ini muncul sejak kapan. Yang pasti, bukan sejak ladang gandum berubah menjadi kokokrans. Haha.

Kemarin hari, ada anak sebelah yang maen ke rumah dan minta diajarin menyelesaikan Pekerjaan Rumah-nya (PR dari sekolah tentunya. Alhamdulillah yah, sudah paham kalau PR itu pekerjaan rumah, yang maknanya kudu dikerjakan di rumah. Bodo amat deh mau dikerjakan di rumahnya sendiri, di rumah neneknya, atau bahkan kalau perlu dateng dan ngerjain di rumah gue. Yang penting kan di rumah. Titik. Hehe #abaikan kalo garing.haha). Bocah gendhut (yang kadang saia ngiri kok bisa gendhut gitu, sedangkan saia, makan udah hobi tapi berat badan enggak pernah mendaki (baca: naik) #wuehehe) sedikit kesulitan mengerjakan PR menuliskan beberapa kalimat ke dalam aksara Jawa. Huaduh. Rasanya pengen tutup muka. Bagaimana tidak, sesaat saya langsung melihat ke dalam diri sendiri dan sesumbar, “Duh, wong njowo sing wis ilang jawane, kui yo aku iki”. Orang Jawa yang sudah hilang Jawanya, ya aku ini. Dengan kekuatan cahaya bulan pikiran yang mengingat-ingat satu demi satu aksara Jawa, singkat cerita, PR-nya bisa terselesaikan dengan khusnul khatimah alias akhir yang baik. #yei.

Mengingat-ingat Bahasa Jawa, saya malah teringat dengan pepatah Jawa. Yeah, meskipun belajar Bahasa Jawa kadang membuat diri bergumam “iyuh” dan serasa menjadi kuno, lama-lama saya pikir ada hal-hal yang masih berlaku-baik juga dari ‘kekuno-an’ pelajaran Bahasa Jawa. Misalnya saja, kekata “Urip Iku Urup”. “Urip” berarti hidup, “iku” berarti itu, dan “urup” berarti menyala (atau berarti “hidup” juga). Jika diterjemahkan secara harfiah berarti “Hidup Itu Menyala”.

Satu pepatah Jawa ini sekonyong-konyong koder membuat hatiku berlomba jadi mak jegagik. Kalau kita mau meresapi sari pati kekata ini, niscaya akan kita dapati hal mulia yang terkandung di dalamnya, wahai teman-teman yang dirahmati Allah. Ternyata, dari zaman dahulu, saat tiwul masih menjadi makanan terlezat, hingga zaman sekarang yang terdengar kabar gembira bahwa manggis kini telah ada ekstraknya, banyak petuah-petuah Jawa yang tidak ada salahnya kita teladani. Contohnya ya petuah yang satu ini.

Urip iku urup. Bermakna, hidup itu menyala; memberi cahaya untuk lingkungan sekitar. Urip iku yo urup, hidup itu ya memberi manfaat untuk orang lain. Menyala untuk menerangi kegelapan, dan memberi terang agar tak ada lagi yang tersesat mencari arah jalan pulang. Urip iku kudu urup. Tak jaman lagi hidup hanya mementingkan diri sendiri. Masalah-masalah tak akan bisa selesai hanya dengan sikap yang hanya bisa “mengutuki” tanpa berbuat sesuatu yang memberi arti, bukan? Urip iku sejatine gowo manfaat kanggo wong urip liyane. Translate: hidup itu sejatinya membawa manfaat untuk orang hidup yang lain.

Lho lha iya, kecuali kalau dulu sejak dalam kandungan, kita tak bergantung pada orang lain (ibu) dalam hal mendapatkan makanan. Kecuali bila dulu kita bisa terlahir begitu saja tanpa turun tangan para bidan yang cantik dan bahkan dokter yang baik. Kecuali jika sejak dari dulu kita bisa langsung berjalan tanpa perlu belajar tertatih terlebih dahulu dan ditatih ibu dan bapak. Kecuali apabila sejak dulu kita bisa mandi sendiri dan memakai baju sendiri tanpa ada uluran lembut tangan mama. Kecuali jika sejak dulu kita bisa langsung pintar membaca-menulis tanpa diajari oleh orang tua dan bapak-ibu guru yang terhormat di sekolah. Kecuali jika kita bisa merakit kendaraan sendiri, mengebor bumi sampai dapat bensin sendiri. Kecuali jika nasi yang kita makan, padinya kita tanam sendiri, kita panen sendiri, sampai kita selep dan masak sendiri berasnya. Kecuali kalau sejak dulu tidak ada orang lain yang terlibat dalam hidup kita. Kecuali itu semua, maka boleh lah kalau mau jadi egois. Egois lah. Egois saja, sok atuh. Namun nyatanya, selalu ada orang lain yang hidupnya tidak untuk diri mereka sendiri. Hidup-hidup mereka selalu bersinggungan dengan hidup kita.

Hidup ini rantai ketergantungan. Satu sama lain salin tersulam dan membutuhkan. “Karena manusia makhluk sosial,” begitu kata guru IPS dulu. “Jadi tolong diingat, hidupmu bukan untuk dirimu saja”, begitu kesimpulan emas dari abang Neji Hyuga.

Hidup itu seharusnya ya “hidup”, menyala. Menyala semangatnya, menyala kepekaannya, menyala rasa pedulinya, dan sejuta makna menyala lainnya. Hanya agar, pribadi ini tak lagi menjadi pribadi paling egois di dunia. Insan yang hanya berpikir “yang penting aku” kaya, “yang penting aku” bahagia, “yang penting aku” selamat, dan “yang penting aku” lainnya.

Lebih lagi, bagi rekan-rekan yang notabene rajin sekali ngaji dan tholabul ‘ilmi. Jangan donks sampai menjadi pribadi yang paling rajin mengaji, paling rajin tholabul ilmi, paling sholih sedunia, tapi menjadi paling apatis juga sejagat raya. Kan jadi lunyu, eh lucu. Seolah-olah, agama dan kepercayaannya masing-masing itu mengajari untuk menggapai setinggi-tingginya langit, tapi amnesia bahwa ia masih saja menginjak bumi. Tentu paling baik adalah bersikap pertengahan. Lho katanya agama ini agama pertengahan? Tentu dalam bersikap juga mesti pertengahan, bukan, kawans? Yakni, menyulam pahala hingga menganak-tangga dan melangit tinggi, dan tetap memberi jejak kebermanfaatan di bumi. Tentu agama kita tidak pernah mengajari kita menjadi pribadi yang egois, kan, temans? Yang hanya “menggapai” langit, namun lupa kita ini masih berada di dunia dan kaki masih menapak di atas bumi. Tidak. Lebih lagi Islam, tak seegois itu. Pikiran haruslah melangit tinggi, tetapi jiwa tetap harus down to earth.

Maka, urip iku kudu urup. Hidup itu kudu menyala, memberi arti di setiap sisi. Duh, bukan berarti saya sudah menjadi orang paling bermanfaat sealam raya. Belum. Belum sama sekali. Saya masih saja merasa hanya butiran debu, remukan rempeyek, yang masih apalah-apalah itu (#drama banget). Tentu, petuah ini saya sampaikan untuk diri sendiri yang masih apalah-apalah ini. Hanya agar, mau bergegas menjadi lentera dan mulai menyalakan hidupnya sendiri, syukur-syukur hidup orang lain. Tak lagi leyeh-leyeh di “kursi” nyamannya, “berbaring-baring santai” di kasur empuknya, dan berleha-leha di zona nyamannya.

Tentu, yang pertama dan paling utama, petuah ini saya sampaikan untuk diri saya sendiri. Hanya untuk menggerakkan mata agar mau melihat sekitar, menggerakkan tangan untuk membantu yang membutuhkan, menggerakkan kaki agar mau mendatangi orang lain meski hanya untuk bersilaturahmi, dan menggerakkan hati agar sudi ikut mendoakan kebaikan banyak orang. Hanya agar diri menjadi orang yang tersebut oleh rasulullah sebagaimana, “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain”. Urip iku urup. Maka, menyala-lah dan bersinarlah terus sampai nanti. Tulisan ini ku akhiri.

Mudah-mudahan, Allah mengampuni kita yang masih apalah ini, menjadikan pikiran kita melangit, dan hati kita membumi.

With love,
@mkusmias yang masih belajar untuk menyalakan hidupnya
Prof. Inu saat memberi kuliah PIR34

Saya tak menyangka, dengan ikut PIR34 lalu, akan ketemu dengan banyak tokoh besar. Salah satunya Prof. Inu Kencana. Namanya booming saat terbongkarnya kasus IPDN 2007.

Tentu saya takjub saat beliau berkisah bahwa ia seorang diri membongkar banyak hal yang keliru di dalam instansinya. Dari kekerasan fisik (yang mengakibatkan puluhan mahasiswa IPDN meninggal), pelacuran, hingga praktik aborsi.
Tentu saya takjub saat beliau berkisah bahwa ia tak takut. Meski dipecat, dimusuhi dan konsekuensi kebenaran lainnya. Orang seperti beliaulah kita mesti meniru: yakni orang yang "urat nadi takut" nya sudah putus. Semangat dan keberaniannya yang mengucur deras berasal dari satu sumber, yakni karena Semangat Qur'an.
Begitu jujur. Jujur ucapannya bahwa yang hitam memang harus dinilai hitam. Yang putih memang mesti dicap putih. Tidak ada abu-abu.

Begitu jujur. Jujur perilakunya. Bahwa jika tindakan itu salah maka harus dihentikan. Tidak memendam kebenaran. Pun tidak menyembunyikan keburukan. Semua terlihat sangat jujur dalam ucapan dan perilakunya.

Beliaulah contoh, kawan. Hidup memang semestinya BERANI. Dan lagi-lagi saya kembali terngiang, "kejahatan terjadi karena banyak orang baik yang diam."

Sukoharjo, 6 Syawal 1437 H
@mkusmias yang belajar untuk Berani


“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana disebabkan kematian seseorang dan tidak pula kehidupannya, lalu, bila kalian melihat gerhana tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (H.R Bukhari)

Seakan keindahan alam tak akan pernah habis meski waktu semakin menua. Meski umur alam sudah tak lagi muda. Meski alam pun terkadang menampakkan sisi “geramnya” lewat benca-bencana. Namun, kenampakan yang diperlihatkannya, seringnya tak pernah membuat manusia luput untuk berkata “indah” dan memukau semua manusia yang masih punya mata dan jiwa.

Di tengah banyaknya bencana -entah itu bencana karena alam menampakkan cara-Nya untuk mengingatkan manusia, atau bencana yang melanda moral manusia-, menuju pertengah Maret tahun ini, Tuhan ijinkan alam untuk menunjukkan Kuasa-Nya.

“sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah."

Saya tak lagi ingin mendetilkan peristiwa yang semua orang sepakat ini “karya” Tuhan yang mempesona. Namun, kejadian dimana posisi matahari, bulan, dan bumi pas berada pada satu garis lurus ini, memaksa kita untuk bertanya pada zat kecil bernama hati. Lalu, apabila ia terhubung dengan ruh iman, ia seolah akan tertunduk sejenak seperti merunduknya tangkai padi yang semakin berat memikul bijinya. Seperti bengkoknya batang bambu karena semakin tinggi batangnya menjulang.
Hati, seolah seperti itu juga, merunduk kerena tetiba ingat beratnya biji-biji dosa yang seolah ia pikul di atas punggungnya, juga tetiba teringat beratnya siksa dari Tuhannya untuk mengganjar setiap dosa.

Hati pun seolah seperti itu, tertunduk seperti bengkoknya bambu, karena tetiba teringat tingginya keangkuhan yang semakin menjulang di dalam jiwa. Ia lupa bahwa ketinggian yang ia rasa itu hanya semu. Ilusi yang harus segera ia sadarkan. Dan karya Tuhan ini sejenak membuat tersadar. Dan mudah-mudahan sadar ini tak pudar seiring gerhana yang lambat-lambat sudah hilang.

“Keduanya tidak mengalami gerhana disebabkan kematian seseorang dan tidak pula kehidupannya”

Sebuah refleksi, bahwa dahulu, rasulullah mendapati gerhana matahari -seperti yang kita ‘nikmati’ saat ini-, lalu ia bergegas ke masjid dan mengajak manusia untuk shalat. Perasaan takut mengetuk hati rasulullah yang suci. Takutnya rasulullah tentu tak sama dengan takutnya penduduk Yunani tempo dulu yang menganggap Dewa-Dewi mereka sedang marah besar. Pun takutnya rasulullah bukan seperti mitos masyarakat desa yang menganggap makhluk bernama Buto Ijo sedang melahap sang surya, lalu hilanglah cahaya.

Bukan, tertunduknya hati beliau yang mulia karena pikirannya semakin ia dekatkan pada Yang Menguasai Matahari. Lalu hatinya sadari akan Kekuasaan Allah, bahwa tiada Dzat yang mampu meletakkan matahari, bulan dan bumi jika bukan Allah. Itulah yang rasulullah inginkan juga dari kita yang menyaksikan kejadian yang rasulullah dulu juga saksikan. Memaknai gerhana ini sebagai salah satu tanda kekuasaan Allah. Seolah, rasulullah menegaskan hadits ini agar hilang semua mitos yang terlanjur terbenam dalam pikiran manusia-manusia saat itu. “Jangan ada mitos lagi dan jangan percaya mitos”, kira-kira seperti itu.

“lalu, bila kalian melihat gerhana tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah”

Sebuah pemaknaan yang lebih eksotis dari pemandangan gerhana itu sendiri. Yaitu memaknainya dengan menambah pundi-pundi ganjaran ibadah. Berdoa, bertakbir, shalat, dan bersedekah. Inilah yang Allah kehendaki pada kita saat kita melihat fenomena lalu hati kita tertunduk yang akhirnya menggerakkan kita untuk menambah amal dunia yang pahalanya langgeng sampai akhirat.

Berdoalah, mohonlah apapun kepada Allah yang menghendaki gerhana ini terjadi. Bertakbirlah mengangungkan asma Allah. Shalatlah, sembahlah yang menciptakan matahari, bulan dan bumi. Dan bersedekahlah, seolah rasulullah ingin mengingatkan kita bahwa serajin-rajinnya kita beribadah, janganlah sampai kita lupa untuk menebar manfaat. Ingat manusia-manusia yang miskin papa, lalu membantunya. Ingat kaum yang tak berdaya lalu menolongnya. Agar kita tak lagi lupa bahwa makna sedekah adalah amalan yang diperuntukkan pada Allah, namun manfaatnya untuk manusia. Artinya, shalehlah di hadapan Allah, tanpa lupa tebarlah manfaat di sekitar manusia. Karena kadang, saat kita menjadi shalih kita merasa bahwa itu sudahlah cukup. "ah, yang penting aku shalih", kata hatinya. Cukup menjadi shalih di hadapan Allah saja, lalu tak sadar kita menjadi pribadi yang egois. Lalu lupa untuk ingat kepada sesama manusia, bahkan semakin menjauh dari manusia. 

Keagungan Allah, terhapusnya mitos, mensholihkan diri, dan menebar manfaat. Sebuah refleksi yang merangkum empat makna dari kejadian alam bernama gerhana matahari. Mudah-mudahan, hati kita mudah untuk selalu memahami dan merefleksi setiap peristiwa.

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya)” (QS: An-Nahl: 12)

salam baik, 

@mkusmias yang ingin menjadi lebih baik


Desember bulan hujan. Alhamdulillah, rahmat Allah itu masih merintik dan menderas di akhir tahun ini, yang –kekata seseorang- selain menyebabkan genangan, hujan juga membangkitkan kenangan. (#halah). Ngomong-ngomong soal kenangan, setiap berjalannya masa selalu menyimpan berjuta kenangan. Betul kan? Tahun ini, hamdalah banget banyak kenangan yang menjadi tilas setiap detik 2015.


Kali ini, saya ingin banget bercerita dan berbagi rasa tentang langkah kaki yang beranjak ke berbagai tempat yang menawan di negeri ini. Traveller banget ya? Ah, tidak juga. Saya suka traveling sih, tapi kayaknya masih belum bisa disebut traveller. Baiklah, kemana aja kaki ini menapak di tahun ini hingga menjadi kenangan? Here they are …

Januari: Aku Akhirnya Kembali

Pernah kangen kan? Apa yang lebih membahagiakan bagi seorang pelaku rindu jika bukan bertemu dengan yang dirinduinya? Saat rindu, nikmati saja kerinduan itu. Saat rindu, seolah-olah waktu ingin mengingatkan kita bahwa kita ini lemah, penuh ketidakmampuan. Tidak mampu untuk selalu bertemu. Maka lahirlah sebuah harap. Harapan yang melangit agar yang berada di atas langit mengijinkan kembali untuk sekedar mempersembahkan senyum terindah. Sekedar bercengkrama tentang banyak cerita yang sempat tertahan oleh masa, atau pun sekedar melontarkan sebuah sapa. Baiklah, Januari menjadi awal tahun yang luar biasa. Diawali dengan sebuah harapan yang akhirnya menjadi kenyataan, dan rindu yang akhirnya nyata untuk kembali bertemu.

Di pertengahan Januari, akhirnya misi itu terlaksana. Ada banyak misi. Misi untuk menyelesaikan serangkaian penelitian skripsi, agar masa kuliah S1 berakhir dengan khusnul khotimah. (Dan misi ini akhirnya mengantarkan pada sejarah yang mengharu biru: wisuda bulan Mei. #Yeeaaahhh #sambil lompat-lompat nabur bunga ke langit... #bilang apa? #hamdalah. huehehe).

Penelitian saya ini berhubungan dengan misi yang kedua, yaitu misi sosial atas nama Komunitas Sahabat Misool. (beneran deh, ini temen-temen ketje-ketje semua… ternyata, pohon terpele (galau) yang dipupuk dengan kerinduan dan disiram dengan air kangen, membuahkan rasa peduli yang selain melangit juga membumi). Akhirnya, saya kembali menginjakkan kaki lagi di tanah Misool, tepatnya kampung Fafanlap untuk riset kesehatan anak-anak Fafanlap. Penelitian dengan judul ‘Prevalensi Infeksi Nematoda Usus pada Anak-anak SDN Fafanlap, Misool Selatan, Raja Ampat’ ini selain mengantarkan saya memakai toga wisuda, hasil risetnya juga digunakan untuk advokasi kesehatan oleh Sahabat Misool kepada Dinas Kesehatan Raja Ampat. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Kira-kira begitu. Dan akhirnya, beneran melampaui banyak pulau indah lho. Huehehe.

Sama seperti saat KKN tahun 2014 lalu, misi menuju Misool kali ini pun dihadapkan pada perjuangan yang gak sederhana. Tentu sempat pesimis, tapi karena hampir tiap hari menatap foto-foto kampung Fafanlap, foto wajah-wajah lugu dengan ciri khas hitam kulit dan keriting rambut, beserta kenangan KKN 2014 lainnya, itu semua cukup berhasil membangkitkan lagi kepercayaan diri sebagai hasil dari terpele yang overdosis. Yah begitulah, kadang rindu memang menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan kita dalam hal bertemu, namun kadang pula ia-lah yang mendatangkan kekuatan untuk berusaha sampai yakin bahwa bertemu kembali bukanlah hal yang fiktif dan mustahil. Dan itu nyata terjadi. Di bulan Januari, akhirnya aku kembali. Kembali ke Kampung Fafanlap. 

Assalamualaikum, Misool. Jika tak bisa membendung rindu, maka harus bertemu. ^_^
Saking harunya, saya tak bisa menahan bulir air mata yang berlinang di pipi. Allah Kareem, bener-bener satu keajaiban deh bisa ke sini lagi. Yang awalnya dikira bercanda, sampai ada yang mencoba menggagalkan (yah, saya sih sebenarnya cukup paham kenapa-nya, akhirnya #ah sudahlah. Semakin diihalangi malah justru semakin membara semangatnya. Hehe. Akhirnya, lagi-lagi, I have shown that I can reach, tentu karena Kehendak Allah), dan ada yang gak kalah gumun yang tahu bahwa pada akhirnya saya ambil data skripsi ke sana. 

Suasana hari Sabtu pagi saat kapal Fajar Indah berlabuh di dermaga Fafanlap (nah, kapal sudah berlabuh, kapan yang nulis ini melabuhkan hatinya? Aw aw aw). Hei, coba lihat kubah masjid itu! Salah satu ciri khas kampung-kampung Muslim di Misool ditandai dengan adanya masjid yang sangat terlihat gagah dan jelas dari kejauhan. Lihat! Pohon-pohonnya masih hijau nan asri. Lihat juga anak-anak berseragam pramuka itu! Merekalah bahan bakar terpele yang gak habis-habis ini. Beberapa kapal-kapal kecil (mereka menyebutkan katinting) merapat membawa penduduk kampung sekitar Fafanlap yang membawa dagangan, atau hendak ikut naik kapal Fajar Indah kembali ke Sorong. Inilah pasar yang hanya ada sekali setiap minggunya, pada waktu itu.

Setelah sampai di kampung ini, saatnya penelitian dimulai. I enjoyed this project very much. Mungkin rasa “menikmati” ini yang bikin penelitianku cepet kelar. Kuncinya, love what you do, yang tak sekedar do what you love, dan (kata Hanum) asikin aja. ^_^

Saat wawancara dengan salah satu orang tua murid untuk data riset. Sangat-sangat menyenangkan yah ternyata bisa bersua dengan mereka lagi, bercengkrama, saling membalas sapa dan senyum. Mudah-mudahan mace-mace dan warga semuanya sehat-sehat sadayana. Etapi itu si adek kasihan sedang sakit. Did you know? Di sana masih sulit mendapatkan akses kesehatan. Saat saya sedang wawancara itu, si adek belum minum obat. Bingung harus bantu apa. Akhirnya yah cuman bikin kompres aja. Dan alhamdulillah, hari demi hari si adek –yang saya lupa namanya- membaik kondisinya setelah bibi Ode dan tim dari Puskesmas datang menjenguk. Tarima kasih bibi Ode (perawat), paman Aziz Soltief (Kepala Puskemas, suami bibi Ode), paman Ali Soltief (perawat, adik paman Aziz), dan petugas puskesmas lainnya. Senang rasanya para petugas datang memberi pelayanan kesehatan. 
Dari pintu ke pintu, dari rumah menuju rumah yang jumlahnya puluhan, di bawah terik matahari, berkeliling malam hari yang hanya bersinarkan rembulan dan berbintang pun dijalani. Papua, tak hanya indah pemandangan alam saat waktu terang saja lho. Namun, dari senjanya hingga malam tiba, semuanya menawan. Cantik. Romantis. Manis. Saya jadi teringat pemandangan langit yang indah yang terjepret saat KKN masa itu. Seumur-umur, itulah langit terindah yang pernah saya lihat sampai sekarang. 

Ah, tentu, pemandangan aslinya lebih menawan. Lebih indah dari yang sekedar terjepret. Ini foto waktu KKN 2014, diambil dari Album Sahabat Misool pastinya.
Saat melewati jembatan goyang, memang benar-benar bergoyang papan-papan penyusun jembatannya. Disebut juga jembatan jodoh. Konon, muda-mudi yang kepergok mojok di jembatan ini langsung dijodohkan, mungkin biar gak jadi fitnah di hari-hari berikutnya. Unik. Bila masuk sore hari, enak banget kalau duduk-duduk di pinggiran jembatan sembari menikmati pesona senja. (kualitas gambarnya kurang bagus. Maklum hanya bermodal jepret dari hp)
Saat berkeliling kampung di siang sampai sore hari, pasti mendapati anak-anak kampung sedang bermain-main di halaman rumah warga. Riang, ceria, gembira, menghiasi wajah-wajah lugu mereka. Nampaknya, sangat menikmati masa kanak-kanak; bermain bersama teman sepuasnya, bangga jika menang bermain, tak apa-apa jika pun kalah karena tetap dapat senang.

Bermain gundu adalah favorit mereka (kualitas gambarnya kurang bagus L)
Dan, kerja di laboratorium pun harus diselesaikan sesuai Deadline. Membuat preparat, mengamati makhluk indah di bawah mikroskop, mencatat hasil pengamatan. Itu adalah aktivitas rutin setiap hari. Untunglah, saya berhasil membuat penasaran anak-anak sekolahan. Dari anak-anak SD, SMP, hingga SMA, mereka suka rela menemani dan membunuh kejenuhan saat bekerja di lab. 

Dari kiri ke kanan: Maya (temen jalan selama penelitian di Misool), Rifai (Kelas X SMA) sedang belajar mengamati preparat di bawah mikroskop, Fatma (Kelas XII SMA). Fatma ini paling dekat dengan saya, siap mengantar kemana saja, dari teman bercanda sampai teman yang sering mengantar durian untuk saya dan Maya. Hingga sekarang, menjadi adik marga. Oke insyaa Allah nanti ketemu tulisan saya dapat marga. Hehe, lanjut suda ko baca tulisan ini.
Suntik identik dengan sakit seperti digigit semut, katanya. Dan itulah yang harus dirasakan anak-anak SDN Fafanlap yang terdiri dari kelas 1 -6. Maaf ya adek-adek, demi data kaka, demi penelitian kaka. Toh, hasilnya untuk kalian juga. (#pasang muka paling baik. Hehe.) Banyak ekspresi anak-anak SD ini, mulai dari yang takut, kesakitan (emang sakit beneran ya, dek?), mengaduh, hingga ada juga yang malah ketawa. Kali ini, saya tidak bisa nyuntik mereka sendiri. Alhamdulillah, bala bantuan dari Puskesmas Dabatan siap bekerja sama. Yapz, penelitian saya ini bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Raja Ampat, yang secara teknis dibantu oleh Puskemas Misool Selatan yang berkantor di Dabatan. Paman Aziz Soltief dan timnya sangat mendukung sekali. Alhamdulillah… kerja sama yang luar biasa yah paman. Terima kasih… banyak terima kasih saya ucapkan ya, paman.

Memang rasanya seperti digelitik ya, adek? 

Foto bareng guru-guru SD N Fafanlap, murid-murid, dan Tim Puskesmas Dabatan. 
Foto bersama wali murid, yang dengan kesediaannya hadir dan mendukung penelitian. Terima kasih mace, bibi, pace. Hal pang istimewa dari setiap perjalanan adalah bertambah keluarga baru dan cinta. (eaaa) 
Tentang penelitian di awal tahun, itulah rangkuman kisahnya. Special thanks to Sahabat Misool, yang sudah bantu-bantu dari bikinin amunisi stiker dan design-in cover proposal (Hanip, makasih buanyak nip, suka dengan desianmu, karena mengandung 70% terpele (galau+rindu kampung) dan 30% ceria. Jadi 100% Mantab. Hehe); yang bersedia kasih saran-saran dan banyak link (#Hanip lagi,,, makasih Nip, Harir, bang Ali Seknun yang leluconnya sangat menghibur, nak Bram a.k.a Abroby Agus Cahya Pramana yang masukin ide ke kitabisa.com, mba Ayu Sriwahyuni yang ngenalin ke Om Yamin); Maya Pradipta yang nemenin ambil data, maaf ya jadi ngrepotin; Ihya, Rachmad, Kiki yang nganterin dan jemput di bandara dengan senang hati dan pastinya ceria; mba Son yang nemenin ketemu Pak Abu (sebenernya sama Hanip juga, makasih Nip, jasamu gak bisa dihitung deh). Paman Ipin a.k.a paman Arifin dengan gesture nyeremin tapi paling baik hatinya deh di seantero Misool. Paman Idris yang siap sedia bantu dan mendukung penelitian. Om Be Sorong yang senang membantu anak Jawa ini. Mama Jawa, Bibi Jawa, tete Imam yang memberi marga Soltief, yang semuanya baik hati banget. Fatma, Fa’i, Aco, Irja, Santo, dan siapa lagi ya, yang dengan senang hati ngajak jalan-jalan ke kebun dan muter-muter SPP, makan durian, ambil langsat hingga minum kesu (kelapa susu). Kisah indah bersama kalian deh. Abduh yang nyebelin tapi ternyata paling ngangenin. Tim Puskesmas Dabatan yang semangat bekerja sama dalam penelitian. Om Yamin dan keluarga yang baik hati sekali sampai saya (sebenarnya) terharu. Bu Nastiti, ibu dosen yang saya kagumi kebaikan dan inner beauty-nya, yang saya bela-belain minta dibimbing Ibu. Pak Hery yang juga membimbing metode penelitian. Pak Wakil Bupati, dr. Tomy Young, Pak Ori Deka, Pak Desa dan keluarga yang juga baik sekali, Pak Syafi’I Sekretaris Kampung yang banyak membantu, dan tentu Pak Abu Shaleh Thafalas yang tak kalah baik.  Bi Ipeh, Irfan, mba Den, Yuna yang ngasih coklat, bang Jabir, Fahmi, dan semua kru Sahabat Misool yang mendukung hal apapun yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Dua kata; kalian keren. Keren ya kalau terpele bareng-bareng. Buahnya adalah rasa peduli. Setidaknya, kita yakin bahwa peduli adalah (bagian dari) solusi. #KapanTerpeleLagi.

Alhamdulillah, ternyata benar adanya, bahwa Allah selalu kasih kemudahan-kemudahan dalam satu kesulitan. Hal yang paling membahagiakan adalah, perjalanan ini mengantarkan saya menemui banyak orang-orang baru, kenalan baru, hingga yang menganggap saya seperti keluarga baru. #terharu. Awal tahun ini luar biasa, dan harus bilang apa? Alhamdulillah,,,

Apakah sampai di sini cerita di bulan Januari di Misool tahun ini? Oh tentu tidak, Allah kasih banyak sekali kesempatan untuk menikmati hidup di timur Indonesia itu. Bersambung insyaa Allah… ^_^

@mkusmias dengan setumpuk kenangan 2015